
Thephrase.id - Kegembiraan meledak di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, pada Kamis, 6 Agustus 2026. Persebaya Surabaya untuk pertama kalinya menjadi kampiun Piala Presiden setelah menundukkan Persib Bandung lewat drama adu penalti 6-5 sesuai bermain imbang 1-1 selama 120 menit.
Babak final itu bukan sekadar penentu juara, tetapi juga menjadi penutup manis bagi perjalanan sebelas tahun Piala Presiden, turnamen pramusim yang telah digelar delapan kali sejak pertama kali digulirkan pada 2015.
Namun, di balik euforia gelar perdana Persebaya, ada babak baru yang menanti. Mulai 2027, Piala Presiden bakal berganti wajah total, dari ajang persaingan antarklub menjadi panggung bagi sesama tim nasional.
Perjalanan panjang ini bermula sebelas tahun lalu, saat kompetisi Liga Indonesia justru sedang vakum. Persib Bandung keluar sebagai juara edisi perdana setelah mengalahkan Sriwijaya FC 2-0.
Sepanjang tujuh edisi lainnya, Arema FC menjelma sebagai kolektor gelar paling produktif dengan empat kali menjadi juara. Singo Edan menaklukkan Pusamania Borneo FC 5-1 pada 2017, membungkam Persebaya Surabaya dengan agregat 4-2 pada 2019, membekuk Borneo FC Samarinda dengan agregat 1-0 pada 2022, serta menang adu penalti 5-4 atas kesebelasan yang sama pada 2024.
Selain Arema FC, dua klub lain juga pernah merasakan manisnya trofi Piala Presiden. Persija Jakarta mengempaskan Bali United 3-0 pada 2018, sementara klub asal Thailand, Port FC, mengatasi Oxford United dari Inggris 2-1 pada 2025.
Kini, setelah delapan kali bergonta-ganti juara klub, giliran Timnas Indonesia yang akan mengambil alih panggung Piala Presiden pada 2027. PSSI menempatkan turnamen ini sejajar dengan FIFA Matchday lain seperti FIFA Series, FIFA ASEAN Cup, hingga Garuda Championship Series.
Salah satu pertimbangan di balik perubahan format ini adalah rencana bergulirnya League Cup, turnamen pendamping Super League yang rencananya dimulai November 2026.
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, membuka cerita soal alasan pergantian arah ini, sekaligus menengok kembali ke titik awal Piala Presiden didirikan. Ia mengenang bagaimana turnamen ini lahir dari situasi darurat Liga Indonesia.
"Ya, karena memang Liga sudah punya Piala Liga sekarang. Kita tahu, Pak Maruarar Sirait dan saya membangun Piala Presiden ini pada 2015 ketika PSSI itu disanksi," ujar Erick Thohir.
"Jadi klub-klub datang ke kami meminta tolong kalau bisa ada kegiatan. Dan alhamdulillah bisa berjalan delapan tahun," katanya menambahkan.
Bagi Erick, transformasi Piala Presiden menjadi ajang tim nasional bukan tanpa referensi. Ia menyebut Thailand sebagai contoh negara yang sukses melestarikan mempertahankan turnamen di FIFA Matchday selama puluhan tahun lewat King's Cup.
"Nah tidak ada salahnya, kita coba tingkatkan kualitasnya. Salah satunya bagaimana Piala Presiden ini bisa menjadi pertandingan tim nasional, seperti juga yang sudah dilakukan oleh Thailand yaitu King's Cup, yang sudah berjalan hampir 20 tahun lebih," ucap Erick.
Meski arah besar sudah ditetapkan, PSSI masih perlu merumuskan detail teknis pelaksanaannya. Tantangan utama terletak pada penyesuaian jadwal dengan agenda FIFA Matchday yang ketat.
"Nah ini kita coba cari formulanya. Tinggal pertandingan harus tetap ada di FIFA Matchday, di slot jadwal yang ditentukan FIFA. Itu aja dinamikanya yang mungkin agak kompleks," tutur Erick.