20 Negara Akan Akhiri Proyek Energi Fosil, Bagaimana Indonesia?

- Advertisement -spot_img

ThePhrase.id – Dalam ajang COP26 pada tanggal 4 November 2021 lalu yang diselenggarakan di Glasgow, Skotlandia, sebanyak 20 negara berjanji untuk menghentikan pendanaan proyek berbasis energi fosil dan mengalihkan pembiayaan tersebut ke sektor energi bersih.

Amerika Serikat, Kanada, Denmark, Italia, Finlandia, Kosta Rika, Ethiopia, Selandia Baru, Marshall Islands, bahkan 5 lembaga pembangunan seperti European Investment Bank dan East African Development Bank merupakan sejumlah pihak yang termasuk ke dalam 20 negara yang telah menandatangani kesepakatan tersebut.

Ke 20 negara tersebut mengatakan bahwa mereka akan mengakhiri dukungan terhadap sektor energi fosil yang bersifat unabated (proyek pembakaran bahan bakar fosil yang tidak menggunakan teknologi untuk menangkap hasil emisi CO2) hingga akhir 2022.

Presiden Amerika Serikat, Joe Biden sebagai salah satu negara yang menandatangani komitmen di COP26 Glasgow untuk mengakhiri proyek energi fosil (Foto: The New York Times)

Para pegiat lingkungan mengungkapkan bahwa hal ini merupakan langkah bersejarah. Sebab komitmen tersebut akan menutup pintu investasi untuk berbagai proyek energi berbasis bahan bakar fosil.

Menurut Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA), untuk mencapai emisi global net-nol hingga 2050, penghentian investasi pada proyek berbasis minyak bumi, batu bara, dan gas merupakan hal yang sangat penting.

Selain itu, para ahli lingkungan juga mengatakan bahwa hal tersebut memang diperlukan agar suhu di bumi tidak akan meningkat melebihi 1,5 derajat celsius dibandingkan dengan era pra industri. Karena apabila bumi mempunyai suhu yang lebih tinggi dari itu, maka pemanasan global dapat menyebabkan dampak bahkan bencana yang tak bisa dipulihkan kembali.

Sejumlah perwakilan dari berbagai negara di KTT COP26 Glasgow (Foto: alliance/dpa/AP.POOL)

Sejumlah negara di Asia seperti Cina, Jepang, Korea Selatan, dan Indonesia hingga kini masih belum ikut menandatangani komitmen tersebut.

Sementara itu, lembaga riset Bernstein mengungkapkan bahwa untuk mencapai target komitmen tersebut, investasi sektor teknologi hijau memerlukan investasi dalam jumlah yang sangat besar. Lembaga tersebut bahkan memperkirakan bahwa hingga tahun 2050 mendatang, proyek rendah karbon memerlukan investasi 2 triliun hingga 4 triliun dolar AS per tahunnya.

Di sisi lain, dalam KTT COP26, lebih dari 40 negara, termasuk Indonesia telah berkomitmen untuk menghentikan investasi terhadap Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang menggunakan bahan bakar batu bara.

Sejumlah negara dengan perekonomian besar akan berhenti menggunakan PLTU sekitar tahun 2030. Sedangkan negara-negara dengan perekonomian di bawahnya menargetkan penghentian tersebut dapat terealisasi pada sekitar tahun 2040 mendatang. [hc]

- Advertisement -spot_img

You might also likeRELATED
Recommended to you