
ThePhrase.id - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengatakan bahwa penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro berkaitan dengan keterlibatannya dengan perdagangan narkotika, manipulasi pemilu, hingga krisis fentanil yang terjadi di AS.
Hal tersebut disampaikan dalam konferensi persnya yang digelar pada Sabtu (3/1) waktu setempat, usai pasukan militer elit AS, Delta Force melakukan penyerangan ke kawasan ibu kota Venezuela, Caracas dan berhasil menangkap Maduro beserta istrinya, Cilia Flores.
“Ini adalah serangan terhadap benteng militer yang sangat kuat di jantung Caracas, untuk membawa diktator ilegal, Nicolas Maduro ke pengadilan. Ini menjadi salah satu penampilan kekuatan dan keahlian militer Amerika yang paling mengesankan, efektif, dan kuat dalam sejarah Amerika,” ujar Trump.
Lebih lanjut, Menteri Luar Negeri (Menlu) AS, Marco Rubio menekankan bahwa AS tidak sedang berperang dengan Venezuela, melainkan berperang melawan organisasi perdagangan narkotika.
Melalui pernyataannya dalam program Meet the Press di NBC pada Minggu (4/1), Rubio mengimbau agar otoritas Venezuela segera mengambil keputusan yang tepat. Jika tidak, maka AS “akan tetap menerapkan berbagai langkah untuk memastikan bahwa kepentingan kita dilindungi,” tuturnya.
Berikut poin-poin utama pernyataan Donald Trump setelah penangkapan Nicolas Maduro:
Presiden AS Donald Trump menyatakan negaranya akan “mengendalikan” Venezuela sampai tercapai “transisi kekuasaan yang aman, tepat, dan bijaksana”, demi perdamaian, kebebasan, dan keadilan bagi rakyat Venezuela.
Trump menyebut perusahaan-perusahaan asal AS akan masuk untuk membenahi infrastruktur minyak di Venezuela, yang dianggap mengalami kegagalan total, agar kembali berfungsi optimal dan “mulai menghasilkan uang untuk negara (Venezuela)”.
Trump menegaskan bahwa militer AS siap melancarkan serangan lanjutan ke Venezuela apabila diperlukan. Namun, ia menilai kemungkinan itu kecil dan tidak akan dibutuhkan.
Dalam pernyataannya, Trump turut menggambarkan hubungan yang diinginkan AS dengan Venezuela sebagai sebuah “kemitraan”. Ia mengklaim kerja sama tersebut akan membuat rakyat Venezuela menjadi “kaya, mandiri, dan aman”.
Terkait langkah berikutnya, Trump mengatakan bahwa Maduro dan istrinya akan dibawa ke New York untuk menghadapi tuduhan yang berkaitan dengan perdagangan narkoba. Keduanya dijadwalkan akan diadili pada Senin (5/1). Adapun Maduro sebelumnya telah membantah tuduhan sebagai pemimpin kartel narkoba.
Setelah Trump mengumumkan akan menjadi pemimpin baru dan mengendalikan Venezuela, Wakil Presiden Venezuela, Delcy Rodriguez menegaskan bahwa hanya ada satu presiden di negaranya, yakni Nicolas Maduro.
“Hanya ada satu presiden di Venezuela, dan namanya adalah Nicolas Maduro,” katanya.
Rodriguez yang saat ini diperintahkan Mahkamah Agung Venezuela untuk mengambil alih peran presiden sementara menyatakan bahwa pemerintah siap untuk “membela” Venezuela. Ia mengecam tindakan “agresi bersenjata” AS dan menyerukan kepada rakyatnya untuk tetap tenang dan bersatu.
“Kepada Venezuela kita, kepada rakyat kita: Ada pemerintahan yang jelas di sini,” katanya, sambil menambahkan bahwa Venezuela terbuka untuk dialog yang terhormat dan sesuai dengan hukum. (Rangga)