religion

7 Adab Islami Sebelum Tidur

Penulis Zuhri Ibrahim
Sep 02, 2026
Ilustrasi: Anjuran berbaring ke sisi kanan saat tidur ternyata bermanfaat bagi kesehatan jantung. (Foto: Halodoc)
Ilustrasi: Anjuran berbaring ke sisi kanan saat tidur ternyata bermanfaat bagi kesehatan jantung. (Foto: Halodoc)

ThePhrase.id - Tidur adalah kebutuhan dasar manusia. Dalam Islam, tidur bukan hanya sekadar istirahat, melainkan juga bagian dari ibadah jika dilakukan dengan niat dan cara yang benar. Oleh karena itu, memahami adab tidur dalam Islam menjadi penting agar seseorang mendapatkan ketenangan hati dan keberkahan dari Allah SWT.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan teladan yang sangat sederhana mengenai adab sebelum tidur. Mulai dari niat, posisi tidur, hingga doa-doa yang dianjurkan. Semua itu bukan hanya membawa manfaat spiritual, tetapi juga berdampak positif bagi kesehatan jasmani.

Ini 7 adab sederhana yang sangat dianjurkan sebelum tidur:

1. Niat sebelum tidur

Salah satu adab tidur dalam Islam yang paling awal adalah meluruskan niat. Seorang Muslim dianjurkan untuk tidur bukan hanya karena lelah, tetapi dengan niat agar esok hari dapat bangun dalam keadaan segar untuk bekerja dan beribadah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggarisbawahi bahwa tidur bukanlah pelarian dari aktivitas, tetapi waktu untuk memulihkan tenaga agar bisa kembali berjuang di jalan Allah. Hal ini menunjukkan bahwa adab tidur dalam Islam mencerminkan keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan rohani.

2. Membersihkan diri dan berwudhu’ sebelum tidur

Hal ini berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

 

إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلاَةِ ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الأَيْمَنِ

Jika kamu hendak mendatangi tempat tidurmu (untuk tidur) maka wudhulah seperti wudhu untuk shalat, lalu berbaringlah pada sisi kanan badanmu” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Berwudhu sebelum tidur menunjukkan bahwa kita ingin mengakhiri hari dengan keadaan suci. Ini adalah bentuk kehati-hatian dan kesiapan seorang Muslim jika dipanggil menghadap Allah saat tidur. Maka dari itu, adab tidur dalam Islam juga mengajarkan kesucian lahir dan batin sebelum terlelap.

Tidak hanya berguna secara spiritual, manfaat medis dari berwudhu sebelum tidur pun sudah terbukti bahwa air wudhu membantu tubuh menjadi lebih rileks. Ini sejalan dengan hikmah dari adab tidur dalam Islam yang ingin menjaga ketenangan jasmani dan rohani.

3. Berbaring pada sisi kanan

Posisi tidur juga menjadi bagian penting dalam adab tidur dalam Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk tidur miring ke kanan dan meletakkan tangan kanan di bawah pipi kanan. Ini sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim pada poin 2 diatas.

Adapun manfaatnya sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim, “Tidur berbaring pada sisi kanan dianjurkan dalam Islam agar seseorang tidak kesusahan untuk bangun shalat malam. Tidur pada sisi kanan lebih bermanfaat pada jantung, sedangkan tidur pada sisi kiri meskipun berguna bagi badan (namun membuat seseorang semakin malas)” (Kitab Zaadul Ma’ad, 1/321-322).

Disamping anjuran tidur pada sisi kanan, Rasulullah melarang tidur tengkurap karena dinilai menyerupai cara tidurnya penghuni neraka, sebagaimana dalam hadits dari Abu Dzar, ia berkata: 

 

مَرَّ بِىَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم: وَأَنَا مُضْطَجِعٌ عَلَى بَطْنِى فَرَكَضَنِى بِرِجْلِهِ وَقَال يَا جُنَيْدِبُ إِنَّمَا هَذِهِ ضِجْعَةُ أَهْلِ النَّارِ 

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lewat di hadapanku dan ketika itu aku sedang tidur tengkurap. Beliau menggerak-gerakkanku dengan kaki beliau. Beliau pun bersabda, “Wahai Junaidib, tidur seperti itu seperti berbaringnya penduduk neraka.” (HR. Ibnu Majah).

 

Oleh karena itu, adab tidur dalam Islam sangat menganjurkan posisi tidur yang mencerminkan akhlak dan adab seorang Muslim.

4. Membaca Surah al-Ikhlas dan al-Mu’awwidzatain

Hal ini dilakukan sebanyak tiga kali dan inilah yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana disampaikan oleh istri beliau ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

 

كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ )وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ )وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ، يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam saat akan tidur di setiap malam, beliau menggabungkan kedua telapak tangannya lalu kedua telapak tangan tersebut ditiup dan dibacakan ’Qul huwallahu ahad’ (surat Al Ikhlash), ’Qul a’udzu birabbil falaq’ (surat Al Falaq) dan ’Qul a’udzu birabbin naas’ (surat An Naas). Kemudian beliau mengusapkan kedua telapak tangan tadi pada anggota tubuh yang mampu dijangkau dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Beliau melakukan yang demikian sebanyak tiga kali.” (HR. Bukhari). 

5. Membaca Ayat Kursi

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata:

 

وَكَّلَنِى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: بِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ ،فَأَتَانِى آتٍ ، فَجَعَلَ يَحْثُو مِنَ الطَّعَامِ ، فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ لأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: فَذَكَرَ الْحَدِيثَ فَقَالَ إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِىِّ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ ، وَلاَ يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ . فَقَالَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم: صَدَقَكَ وَهْوَ كَذُوبٌ ، ذَاكَ شَيْطَانٌ 

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menugaskan aku menjaga harta zakat Ramadhan kemudian ada orang yang datang mencuri makanan namun aku merebutnya kembali, lalu aku katakan, “Aku pasti akan mengadukan kamu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.“ Lalu Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menceritakan suatu hadits berkenaan masalah ini. Selanjutnya orang yang datang kepadanya tadi berkata, “Jika kamu hendak berbaring di atas tempat tidurmu, bacalah ayat Al Kursi karena dengannya kamu selalu dijaga oleh Allah Ta’ala dan syaitan tidak akan dapat mendekatimu sampai pagi“. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Benar apa yang dikatakannya padahal dia itu pendusta. Dia itu syaitan.”  (HR. Bukhari).

6. Membaca do’a tidur

Dari Hudzaifah, ia berkata:

 

كَانَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم: إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ قَالَ بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا وَإِذَا اسْتَيْقَظَ مِنْ مَنَامِهِ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ,

Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hendak tidur, beliau mengucapkan: ‘Bismika allahumma amuutu wa ahya (Dengan nama-Mu, Ya Allah aku mati dan aku hidup).’ Dan apabila bangun tidur, beliau mengucapkan: “Alhamdulillahilladzii ahyaana ba’da maa amatana wailaihi nusyur (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya lah tempat kembali).” (HR. Bukhari)

7. Tidak tidur terlalu larut dan menghindari tidur pagi

Sebuah hadits dari Abi Barzah, beliau berkata:

 

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ 

وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol (begadang) setelahnya.” (HR. Bukhari).

Tidur terlalu larut di malam hari  tidak dianjurkan, kecuali untuk hal-hal penting seperti ibadah atau diskusi ilmiah. Islam mengajarkan keseimbangan hidup, dan adab tidur dalam Islam menjaga agar tidur tidak melalaikan kewajiban kepada Allah.

Rasulullah juga tidak menyukai tidur setelah shalat Subuh. Ini termasuk dalam adab tidur dalam Islam yang bertujuan untuk menjaga produktivitas dan keberkahan waktu pagi. (Z. Ibrahim)

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic