sport

7 Bulan yang Tak Pernah Utuh: Akhir Era Singkat Xabi Alonso di Real Madrid

Penulis Ahmad Haidir
Jan 13, 2026
Xabi Alonso hanya tujuh bulan melatih Real Madrid. Foto Instagram Xabi Alonso.
Xabi Alonso hanya tujuh bulan melatih Real Madrid. Foto Instagram Xabi Alonso.

Thephrase.id - Rangkaian foto yang beredar luas usai final Piala Super Spanyol memperlihatkan dinamika tak biasa di lapangan. Kylian Mbappe meminta rekan setimnya meninggalkan pertandingan lebih cepat, Xabi Alonso sempat menahan, sang penyerang tetap bersikukuh, dan Real Madrid akhirnya memilih tidak memberi penghormatan kepada Barcelona yang baru saja menjuarai laga tersebut.

Adegan itu segera memunculkan tafsir bahwa kendali situasi berada di tangan pemain, bukan pelatih, sebuah sinyal yang kemudian dibaca sebagai potret rapuhnya otoritas Xabi Alonso dalam momen penting yang semestinya menuntut ketegasan struktural.

Beberapa hari kemudian, Real Madrid secara resmi mengakhiri kerja sama dengan Xabi Alonso, hanya tujuh bulan sejak penunjukannya, suatu keputusan yang tidak pernah disiapkan sebagai agenda jangka pendek ketika kesepakatan awal diteken.

Los Blancos menyebut perpisahan itu sebagai hasil kesepakatan bersama, akan tetapi dinamika internal mengarah pada satu kesimpulan bahwa hubungan tersebut bergerak menuju titik akhir setelah berbulan-bulan ketidaksepahaman yang tak pernah sepenuhnya terselesaikan.

Pada Senin, 12 Januari 2026, jajaran direksi menggelar pertemuan yang secara spesifik membahas masa depan pelatih, menyusul evaluasi terhadap arah permainan, pendekatan taktik, serta hubungan kerja antara Xabi Alonso dan ruang ganti.

Sejumlah penjelasan yang disampaikan kepada Xabi Alonso dan timnya dinilai tidak memiliki kejelasan arah, mencakup anggapan bahwa filosofi permainannya gagal diterapkan, kondisi fisik skuad tidak berada pada level ideal, perkembangan individu pemain dinilai minim, hingga kesan bahwa tim tidak menunjukkan keterikatan emosional terhadap kepemimpinannya.

Kekalahan dari Paris Saint-Germain di semifinal Piala Dunia Antarklub dan hasil buruk melawan Atletico Madrid di La Liga turut dijadikan rujukan. Meskipun secara klasemen Real Madrid masih berada di delapan besar Liga Champions, melaju di Copa del Rey, serta tertinggal empat poin dari Barcelona pada pertengahan musim kompetisi domestik.

Di balik hasil-hasil tersebut, muncul penilaian bahwa Florentino Perez selaku Preside Real Madrid tidak pernah sepenuhnya menaruh keyakinan pada proyek kepelatihan ini, sejak Xabi Alonso pertama kali disepakati sebagai pelatih kepala.

Kondisi itu semakin rumit karena awal masa jabatan yang tidak berjalan sesuai rencana, setelah keinginannya untuk memulai pekerjaan pasca-Piala Dunia Antarklub tidak mendapat ruang diskusi, meski turnamen tersebut digelar di tengah kelelahan musim panjang dan ketidakpastian masa depan sejumlah pemain.

Proses adaptasi juga terganggu oleh kontribusi pemain baru yang minim, krisis performa Vinicius Junior yang memicu gesekan internal, penundaan pembicaraan kontrak, badai cedera di lini belakang, serta tidak dikabulkannya permintaan mendatangkan gelandang pengatur permainan seperti Martin Zubimendi.

Di ruang ganti, ketiadaan figur pemersatu yang kuat membuat pendekatan kolektif sulit diterapkan, sementara sejumlah pemain lebih terfokus pada peran individual, termasuk Mbappe yang mengejar target personal di tengah upaya pemulihan kondisi fisik.

Dalam situasi tersebut, Xabi Alonso gagal menanamkan pressing intens, tempo tinggi, dan struktur posisi yang menjadi fondasi kesuksesannya bersama Bayer Leverkusen, sehingga proyek yang dirancang sebagai transformasi justru berakhir prematur.

Kepergiannya kembali menegaskan posisi Real Madrid sebagai klub dengan dinamika kepelatihan yang khas, di mana Alvaro Arbeloa disebut masuk radar sebagai penerus, sementara Xabi Alonso justru dipandang sebagai figur yang tetap menarik minat klub-klub elite Eropa untuk musim berikutnya.

Artikel Pilihan ThePhrase

- Advertisement -
 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic