
ThePhrase.id - Perbedaan zaman turut membentuk cara seseorang memandang pekerjaan, hubungan sosial, hingga cara berkomunikasi. Tak heran jika kebiasaan yang dulu dianggap wajar oleh generasi terdahulu kini bisa dipandang berbeda oleh generasi muda, termasuk Generasi Z.
Lantas, kebiasaan apa saja yang kini mulai dianggap kurang relevan oleh Gen Z?
Bagi generasi terdahulu, bekerja keras dan menunjukkan loyalitas kepada perusahaan kerap dianggap sebagai bentuk dedikasi. Bekerja di luar jam kantor atau mengutamakan pekerjaan bahkan bisa dipandang sebagai hal yang wajar.
Namun, Gen Z punya pandangan yang sedikit berbeda. Menurut Gen Z, bekerja keras tetap penting, tetapi pekerjaan tidak harus mengambil alih kehidupan pribadi. Pulang tepat waktu, menolak pekerjaan di luar jam kerja, atau mengambil waktu untuk beristirahat bukan berarti seseorang tidak berdedikasi.
Perbedaan pandangan soal etos kerja dan batas profesional ini pun tak jarang menjadi sumber gesekan di tempat kerja.
Perbedaan generasi juga terlihat dari cara memandang humor. Sebagian generasi terdahulu mungkin terbiasa dengan candaan mengenai bentuk tubuh, usia, gender, pekerjaan, atau kondisi seseorang.
Namun, kalimat “Kan cuma bercanda” tidak selalu membuat lelucon tersebut terasa lucu bagi Gen Z. Generasi muda kini cenderung lebih memperhatikan konteks dan dampak sebuah candaan. Lelucon yang mengandung stereotip atau merendahkan orang lain dapat dianggap tidak sensitif, meski disampaikan tanpa niat menyakiti.
Hal serupa berlaku untuk komentar mengenai penampilan. Jika dulu pertanyaan seperti “Kok sekarang kurusan?” mungkin dianggap sebagai basa-basi, kini komentar mengenai tubuh justru bisa membuat seseorang tidak nyaman.
Gen Z semakin melihat berat badan, bentuk tubuh, wajah, hingga pakaian sebagai bagian dari ranah pribadi. Bahkan komentar yang dimaksudkan sebagai pujian belum tentu diterima dengan baik.
Dulu, datang ke rumah kerabat atau teman secara spontan bisa menjadi bentuk keakraban. Bagi sebagian Baby Boomer, tidak perlu membuat janji terlebih dahulu mungkin justru menunjukkan kedekatan.
Kebiasaan ini bisa terasa berbeda bagi Gen Z yang semakin terbiasa dengan personal space. Kunjungan mendadak dapat membuat seseorang merasa tidak siap menerima tamu, terutama ketika sedang bekerja atau ingin beristirahat. Karena itu, pesan singkat seperti “Boleh mampir?” sebelum datang kini dianggap sebagai bentuk menghargai waktu dan ruang pribadi.
Nasihat biasanya diberikan dengan niat baik, terlebih ketika seseorang merasa punya lebih banyak pengalaman hidup. Namun, niat tersebut belum tentu diterima dengan cara yang sama oleh Gen Z.
Ketika menyangkut pekerjaan, hubungan, keuangan, atau pilihan hidup, generasi muda bisa merasa bahwa pengalaman masa lalu belum tentu sesuai dengan situasi yang mereka hadapi sekarang. Daripada langsung memberikan nasihat, pertanyaan sederhana seperti “Mau dengar pendapat saya?” dapat menjadi cara yang lebih nyaman untuk membuka percakapan.
“Waktu saya dulu seusiamu, saya sudah bekerja” atau “Dulu umur segini saya sudah punya rumah” juga menjadi kalimat yang cukup familiar bagi anak muda.
Bagi generasi terdahulu, membandingkan pengalaman mungkin dimaksudkan sebagai motivasi. Namun, Gen Z dapat melihatnya sebagai pengabaian terhadap tantangan yang mereka hadapi saat ini. Harga rumah, biaya pendidikan, kondisi pasar kerja, hingga situasi ekonomi telah berubah. Karena itu, pengalaman satu generasi tidak selalu bisa dijadikan tolok ukur keberhasilan generasi lainnya.
Perubahan cara pandang juga terlihat dalam pembicaraan mengenai kesehatan mental. Gen Z cenderung lebih terbuka membicarakan stres, kecemasan, kelelahan emosional, hingga kebutuhan untuk mencari bantuan.
Karena itu, respons seperti “kurang bersyukur”, “jangan terlalu dipikirkan”, atau “dulu saya juga susah” dapat terasa kurang membantu. Bagi generasi muda, mengakui sedang mengalami kesulitan mental bukan berarti lemah.
Pada akhirnya, perbedaan kebiasaan antargenerasi tidak selalu berarti salah satu pihak lebih baik. Setiap generasi tumbuh dalam kondisi sosial, ekonomi, dan budaya yang berbeda. Alih-alih menganggap kebiasaan satu generasi sebagai sesuatu yang sepenuhnya salah, memahami alasan di balik perbedaan tersebut dapat membantu menciptakan komunikasi yang lebih terbuka. Dengan begitu, pengalaman generasi terdahulu dan nilai-nilai baru yang dibawa Gen Z tetap bisa menemukan titik tengah. [nadira]