
ThePhrase.id - Islam adalah agama yang sempurna. Syariatnya mengatur dari hal yang besar hingga hal-hal yang kecil. Termasuk dalam hal bersin, Islam memberikan tuntunan dan adab bagi setiap muslim.
Sebelum lanjut ke pambahasan tentang adab dan etika bersin, ada beberapa keutamaan dari seorang Muslim ketika bersin yang mesti disyukuri:
Adab Ketika Bersin
1. Tidak Mengeraskan Suara
Ketika bersin, agar diusahakan sebisa mungkin menahan keluarnya suara. Ini sesuai sunnah Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam sesuai sabda beliau, Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu berkata:
Artinya: ”Bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam ketika bersin beliau menutup mulutnya dengan tangannya, atau kain pakaiannya, dan menahan suaranya”. (HR Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi).
2. Menutup Wajah dan Mulut
Menutup wajah dan mulut ketika bersin, baik dengan tangan, kain, atau tisu agar tetesan air yang penuh bakteri tidak mengenai orang-orang atau benda yang ada di sekitarnya, sebagaimana telah disebutkan dalam hadits sebelumnya.
3. Tidak Memutar atau Menggoyangkan Kepala ke Kiri atau ke Kanan
Hendaknya tidak memutar atau meggoyang kepala ke kiri atau ke kanan saat bersin sebab sangat berbahaya bagi otot dan tulang leher. Sebagian orang melakukan ini sehingga lehernya menjadi cacat. Jika di hadapannya ada orang dan ia terpaksa harus bersin, maka sebaiknya menunduk atau memutar badan secara keseluruhan.
4. Mengucapkan “Alhamdulillah” Setelah Bersin
Setelah bersin, disunnahkan mengucapkan ٱلْحَمْدُ لِلَّٰهِ (alhamdulillah) secara jahr (dengan suara keras) walaupun dalam shalat. Dengan mengucapkan “Alhamdulillah atau Alhamdulillahi rabbil ’aalamin” atau Alhamdulillah ‘ala kulli haal dan wajib bagi muslim yang mendengarnya untuk mengucapkan padanya doa يَرْحَمُكَ ٱللَّٰهُ (yarhamukallaah) untuk laki-laki yang bersin atau يَرْحَمُكِ ٱللَّٰهُ (yarhamukillah) bagi perempuan yang bersin. Artinya adalah semoga Allah merahmatimu.
Sabda Rasulullah SAW:
Artinya: “Apabila salah seorang di antara kalian bersin, hendaklah ia mengucapkan, ‘Alhamdulillah (segala puji bagi Allah), dan hendaklah saudaranya atau rekannya mengucapkan untuknya, ‘Yarhamukallah (semoga Allah merahmatim). Maka apabila ia telah mengucapkan semoga Allah merahmatimu, hendaklah yang bersin mengucapkan, ‘Yahdikumullah wa yushlih baalakum (semoga Allah memberi kalian hidayah dan membaguskan keadaan kalian)’.” (HR. Bukhari).
Adapun jika orang bersin namun tidak mengucapkan Alhamdulillah ketika bersin maka tidak perlu didoakan dengan doa yarhamukallah, sebab perintah mengucapkan doa; yarhamukallaah hanyalah ditujukan bagi orang bersin yang memuji Allah, sebagaimana dijelaskan dalam hadits di atas.
Orang yang bersin dalam keadaan shalat baik sendiri atau berjama’ah, tetap disunnahkan mengucapkan Alhamdulillah, namun tidak dibolehkan bagi yang mendengarkannya untuk mengucapkan “Yarhamukallah” karena bisa membatalkan shalatnya.
Dari Muawiyah bin Al-Hakam radhiyallaahu ’anhu saat awal-awal masuk Islam, ketika dalam shalat salah seorang sahabat bersin, dan mengucapkan “Alhamdulillah” lalu iapun mengucapkan “yarhamukallah”, maka iapun diingkari oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan beliau tidak mengingkari orang bersin yang mengucapkan “Alhamdulillah”.
Penjelasan: Orang bersin dalam keadaan shalat lalu mengucapkan Alhamdulillah maka shalatnya tidak batal bahkan mendapatkan pahala sebagaimana dalam hadits riwayat Abu Daud No. 773 dan juga riwayat dari dari Rifa’ah bin Rafi’ radhiyallahu ’anhu ia berkata:
“Saya shalat dibelakang Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, lalu saya (Rifa’ah) bersin dan mengucapkan : “Alhamdulillah hamdan katsiran mubaarakan fiihi ,mubaarakan ‘alaihi kamaa yuhibbu rabbuna wa yardha”, Ketika beliau selesai shalat, beliau bersabda : “Siapa tadi yang berkata-kata (dengan hamdalah dalam shalat) ?” ,Iapun berkata : “Saya, wahai Rasulullah”, maka beliau bersabda : “Saya tadi telah melihat lebih dari 30 malaikat berlomba-lomba untuk menulis pahala (ucapanmu)”.
Adapun yang membalasnya mengucapkan “yarhamukallaah” maka shalatnya batal karena ia telah mengucapkan kata-kata yang bukan bagian dari zikir shalat, terkecuali kalau ia masih jahil (belum mengetahui) tentang perkara ini, sebagaimana dalam hadits Muawiyah bin Al-Hakam radhiyallaahu ’anhu di atas. (Z. Ibrahim)