sport

Afrika Didesak Boikot Piala Dunia 2026: Bentuk Solidaritas terhadap Gaza

Penulis Ahmad Haidir
Feb 13, 2026
Seruan boikot Piala Dunia 2026 didasari bentuk respons atas dukungan Amerika Serikat terhadap operasi militer Israel di Gaza. Foto Instagram Piala Dunia.
Seruan boikot Piala Dunia 2026 didasari bentuk respons atas dukungan Amerika Serikat terhadap operasi militer Israel di Gaza. Foto Instagram Piala Dunia.

Thephrase.id - Kolumnis Al Jazeera, Tafi Mhaka, menyerukan agar negara-negara Afrika memboikot Piala Dunia FIFA 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko sebagai bentuk respons atas dukungan Amerika Serikat terhadap operasi militer Israel di Gaza.

Seruan tersebut muncul setelah 25 anggota parlemen Inggris pada 6 Januari mengajukan mosi yang mendesak otoritas olahraga global mempertimbangkan pencabutan status tuan rumah Amerika Serikat hingga negara itu menunjukkan kepatuhan terhadap hukum internasional.

Tekanan juga datang dari Eropa ketika penyiar Belanda Teun van de Keuken mendukung petisi publik agar negaranya menarik diri dari turnamen, sementara anggota parlemen Prancis Eric Coquerel memperingatkan bahwa partisipasi dapat dianggap melegitimasi kebijakan yang dinilai melemahkan standar hak asasi manusia internasional.

Sorotan terhadap Amerika Serikat turut berkaitan dengan kebijakan imigrasi Presiden Donald Trump. Kebijakan ini termasuk operasi penegakan hukum yang pada Januari memicu kematian sejumlah warga di Minneapolis. Selain itu, terjadi gelombang protes nasional, serta laporan bahwa sedikitnya delapan orang ditembak agen federal atau meninggal dalam penahanan imigrasi sepanjang 2026.

Akan tetapi, tulisan tersebut menempatkan perang di Gaza sebagai persoalan yang lebih luas,. Selama puluhan tahun, Washington menjadi sekutu utama Israel melalui perlindungan diplomatik, dukungan politik, dan bantuan militer tahunan sekitar 3,8 miliar dolar Amerika Serikat.

Sejak 7 Oktober 2023, operasi militer Israel dilaporkan menewaskan lebih dari 72.032 warga Palestina dan melukai 171.661 orang. Selain itu  serangan Israel juga menghancurkan sebagian besar infrastruktur sipil Gaza, serta menyebabkan hampir 90 persen populasi atau sekitar 1,9 juta jiwa mengungsi berulang kali di tengah pemboman yang terus berlangsung.

Di Tepi Barat yang diduduki, operasi militer dan aksi pemukim bersenjata disebut meningkat di sejumlah wilayah seperti Jenin, Nablus, Hebron, dan Lembah Yordan, Sementara berbagai laporan internasional menyebut situasi tersebut sebagai genosida.

Tulisan itu kemudian mengaitkan konteks Gaza dengan sejarah politik Afrika, termasuk peristiwa 16 Juni 1976 ketika pelajar 15 tahun Hastings Ndlovu tewas ditembak polisi dalam protes di Soweto terhadap kebijakan bahasa Afrikaans pada masa apartheid Afrika Selatan.

Beberapa pekan setelah insiden tersebut, tim rugby nasional Selandia Baru All Blacks tetap mendarat di Bandara Jan Smuts, Johannesburg. Mereka menjalani tur pertandingan, yang kemudian memicu kemarahan pemerintah-pemerintah Afrika dan berujung pada penarikan 22 negara Afrika dari Olimpiade Montreal 1976 di Kanada setelah Komite Olimpiade Internasional tidak menjatuhkan sanksi terhadap Selandia Baru.

Lebih dari 700 atlet meninggalkan desa atlet, termasuk pemegang rekor dunia Filbert Bayi dari Tanzania dan John Akii-Bua dari Uganda, sementara negara-negara seperti Nigeria, Ghana, dan Zambia menarik diri dari turnamen sepak bola putra sehingga sejumlah pertandingan babak pertama dibatalkan di Stadion Olimpiade Montreal dan Varsity Stadium.

Pemimpin-pemimpin Afrika saat itu menyatakan partisipasi dalam Olimpiade hanya akan memberi kenyamanan dan legitimasi kepada rezim rasis Afrika Selatan, sehingga keputusan kolektif diambil meski berdampak langsung pada atlet yang telah mempersiapkan diri selama bertahun-tahun.

Dalam konteks 2026, tulisan tersebut mempertanyakan apakah sepak bola dapat dipromosikan sebagai perayaan global selama beberapa pekan di 16 kota tuan rumah di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Sementara Amerika Serikat terus memasok senjata, dukungan diplomatik, serta perlindungan veto di Perserikatan Bangsa-Bangsa bagi Israel.

Presiden FIFA, Gianni Infantino, bahkan memberikan penghargaan bertajuk "peace prize" kepada Donald Trump dalam acara undian Piala Dunia di Washington, DC, pada 5 Desember, yang disebut sebagai bentuk pengakuan atas upaya mempromosikan perdamaian dan persatuan global.

Seruan boikot itu menyebut negara-negara Afrika yang telah lolos atau berpeluang tampil seperti Maroko, Senegal, Aljazair, Tunisia, Mesir, Pantai Gading, Ghana, Tanjung Verde, dan Afrika Selatan perlu mengambil keputusan bersama dengan dukungan Uni Afrika serta Konfederasi Sepak Bola Afrika.

Sejarah mencatat keputusan politik kolektif Afrika pada 1976 sebagai langkah yang memperluas isolasi terhadap apartheid, dan menyebut boikot Piala Dunia 2026 sebagai opsi yang dinilai dapat mengalihkan perhatian dunia terhadap konflik Gaza serta dukungan Amerika Serikat terhadap Israel.

Artikel Pilihan ThePhrase

- Advertisement -
 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic