lifestyle

AI Slop, Fenomena Konten AI Berkualitas Rendah yang Makin Menjamur

Penulis Ashila Syifaa
Aug 23, 2026
Ilustrasi AI Slop. (Foto: Magnific)
Ilustrasi AI Slop. (Foto: Magnific)

thePhrase.id - Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin mempermudah siapa pun untuk membuat berbagai jenis konten, mulai dari gambar, video, hingga tulisan. Namun, kemudahan tersebut juga melahirkan fenomena baru yang dikenal sebagai AI slop.

AI slop merupakan istilah yang belakangan ini ramai digunakan untuk menggambarkan konten berkualitas rendah yang diproduksi secara massal oleh AI. Kata 'slop' sendiri dipilih menjadi 2025 Word of the Year oleh Merriam-Webster yang memiliki definisi sebagai konten digital berkualitas rendah yang dibuat oleh AI.

Penelitian yang dilakukan Kapwing, sebuah platform pembuatan video digital, menemukan bahwa sekitar 21–33% konten di feed YouTube merupakan AI slop atau video brainrot. Fenomena ini juga cukup besar di Indonesia. Tercatat, Indonesia menjadi salah satu negara dengan jumlah subscriber channel YouTube berbasis AI terbanyak, mencapai 8,57 juta orang.

The Guardian juga menemukan berdasarkan data analisis Playboard, dari 100 channel yang bertumbuh secara pesat, sembilan di antaranya merupakan channel yang mengunggah 100 persen konten AI.

Penulis asal Inggris-Kanada, Cory Doctorow, menyebut fenomena ini sebagai bagian dari "enshittification" atau penurunan kualitas di internet. Istilah tersebut dicetuskan pada tahun 2022 oleh Doctorow untuk menggambarkan penurunan kualitas pengalaman daring pengguna akibat platform yang lebih mengutamakan keuntungan dibandingkan penyajian konten berkualitas.

Dr. Akhil Bhardwaj yang merupakan seorang profesor madya di School of Management, University of Bath, menjelaskan bahwa fenomena penurunan kualitas ini merusak komunitas daring di beberapa platform, termasuk Pinterest, hingga merebut pangsa pendapatan dari para seniman di Spotify dan kreator di YouTube.

Menurut analisis Global Network on Extremism and Technology (GNET), video animasi yang dibuat menggunakan AI dan menampilkan karakter buah-buahan kini banyak muncul di feed anak-anak di berbagai negara. Konten semacam ini bahkan berpotensi menjadi salah satu cara untuk menyisipkan atau menyebarkan konten kekerasan dan ekstremisme secara tersembunyi.

Dengan bantuan AI, seorang kreator berpotensi membuat ratusan video pendek dalam waktu relatif singkat. Konten tersebut kemudian dapat disebarkan ke berbagai platform sekaligus sehingga menghasilkan jumlah unggahan yang sangat besar. Strategi ini semakin efektif karena sejumlah platform media sosial memberikan keuntungan terhadap akun yang aktif mengunggah konten secara konsisten.

Masifnya produksi AI slop juga menjadi perhatian karena sebagian konten tersebut menyasar anak-anak. Paparan terhadap konten pendek yang cepat, berulang, terlalu menstimulasi, dan tidak memiliki makna yang jelas dapat berkontribusi terhadap fenomena yang populer disebut brain rot.

Brain rot merujuk pada dampak budaya dan psikologis dari konsumsi media yang berlebihan, terutama konten yang sengaja dibuat absurd, cepat, dan menarik perhatian dalam waktu singkat. Pola tersebut dapat memanfaatkan kebiasaan pengguna untuk terus melakukan scrolling dan mencari stimulasi atau kepuasan instan. [Syifaa]

Artikel Pilihan ThePhrase

- Advertisement -
 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic