communityKompetisi Cerita Anak Negeri

Air Mata Gula Aren di Tanah Skotlandia: Memasak Sejarah yang Terampas

Penulis Redaksi
Feb 26, 2026
 'Dwadwal' yang lengket dan legit tersembunyi di dalam besek bambu yang ramah lingkungan, sementara kartu
 'Dwadwal' yang lengket dan legit tersembunyi di dalam besek bambu yang ramah lingkungan, sementara kartu "Edible History" berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan lidah modern dengan resep leluhur Jawa abad ke-18. Sebuah pengingat indah bahwa setiap gigitan adalah perayaan warisan budaya yang kaya. (Foto: David)

Oleh David Veda Septiawan - Universitas Indonesia

Juara I - Kategori Mahasiswa (Artikel) Kompetisi Cerita Anak Negeri 2025

ThePhrase.id - Angin musim dingin di Roxburghshire, Skotlandia, tidak sekadar menusuk tulang, tetapi juga mengiris hati. Di hadapanku, di tengah taman perkebunan keluarga Lord Minto yang serba hijau namun asing, berdiri sebuah batu setinggi dua meter. Ia tampak kesepian, dikerubuti lumut tipis, dan basah oleh gerimis yang tak kunjung henti. Itu adalah Prasasti Sangguran. Artefak seberat 3,8 ton itu adalah surat wasiat leluhur dari Kerajaan Medang di Malang, Jawa Timur, yang bertarikh 928 Masehi. Ia dibawa paksa oleh Thomas Stamford Raffles dua abad lalu dan kini membeku di sini, ribuan kilometer dari hangatnya matahari tropis (Boechari, 2012). 

Tanganku gemetar saat menyentuh permukaan batu andesit itu. Bukan karena dingin, melainkan karena rasa rindu yang meledak hebat—sebuah homesickness atau saudade yang tidak bisa disembuhkan oleh obat apa pun. Sebagai mahasiswa arkeologi Universitas Indonesia, aku datang jauh-jauh ke sini untuk menelusuri jejak sejarah bangsa yang tercecer. Namun, yang kutemukan justru sebuah ironi. Di baris ke-43 prasasti itu, samar-samar terbaca kata dwadwal. Dodol. Makanan yang sering kuledek sebagai "camilan orang tua" saat Ibu memaksaku membawanya sebagai oleh-oleh, ternyata tertulis abadi di batu sakral ini sebagai hidangan para raja. 

"Kau menangis?" tanya Liam, teman asramaku, mahasiswa sejarah asal Edinburgh yang menemaniku hari itu. 

Aku menyeka sudut mata. "Kau tidak akan mengerti, Liam. Di batu ini tertulis resep makanan yang masih dimasak ibuku di dapur rumah kami. Batu ini mungkin milik kalian sekarang secara hukum kolonial, tetapi rasanya... rasanya adalah milik kami." 

Momen itu mengubah segalanya. Sepulangnya ke asrama mahasiswa yang sempit, aku tidak lagi melihat dodol sebagai gumpalan ketan hitam yang membosankan. Aku melihatnya sebagai Time Capsule—kapsul waktu yang bisa dimakan. Jika aku tidak bisa membawa pulang Prasasti Sangguran ke Indonesia sekarang juga, setidaknya aku bisa "menghidupkan" kembali jiwanya di dapur ini. Aku bertekad membuat dwadwal persis seperti yang dimakan Rakai Wawa seribu tahun lalu, bukan sekadar untuk mengobati rindu, tetapi untuk membuktikan tesisku bahwa kuliner adalah artefak yang paling tangguh. 

Air Mata Gula Aren di Tanah Skotlandia  Memasak Sejarah yang Terampas
 Berdiri kokoh di tengah lanskap hijau Roxburghshire, Skotlandia, batu Minto (Minto Stone) ini menjadi saksi bisu perjalanan waktu. (Foto: tugumalang.id

Tantangan pertama adalah bahan baku. Di era digital ini, mudah bagi kita terjebak pada hal instan. Banyak dodol modern menggunakan gula pasir rafinasi dan pembungkus plastik yang berakhir di tempat sampah. Namun, risetku di perpustakaan kampus membuka mata tentang kearifan kesehatan leluhur. Mengutip data dari jurnal kesehatan terbaru, gula aren (Arenga pinnata) yang digunakan nenek moyang kita ternyata memiliki Indeks Glikemik (IG) rendah, yaitu di kisaran 35 hingga 45, jauh lebih aman dibandingkan gula pasir yang bisa mencapai angka 100 (Situmorang, 2023). Ini bukan sekadar soal rasa manis, ini soal bertahan hidup. Leluhur kita mendesain makanan yang memberikan energi panjang tanpa merusak pankreas, sebuah kecerdasan yang hilang di generasiku yang kini akrab dengan diabetes usia muda. 

"Kenapa kau repot-repot mencari gula aren organik di toko Asia? Gula putih kan murah," protes Liam saat melihatku membongkar belanjaan. 

"Karena aku sedang merekonstruksi sejarah, Liam," jawabku sambil mulai mencairkan gula merah itu di wajan. "Dan sejarah itu harus sehat. Gen Z di negaraku sedang sakit karena gula murah. Aku ingin membuktikan bahwa superfood sesungguhnya ada di resep kuno kami." 

Proses memasak dwadwal adalah sebuah meditasi. Mengaduk adonan tepung ketan dan santan di atas api kecil membutuhkan waktu berjam-jam. Lengket, berat, dan melelahkan. Di sinilah aku belajar tentang etos kerja dan entrepreneurship masyarakat Jawa Kuno. Dulu, dodol adalah komoditas bernilai ekonomi tinggi yang digunakan sebagai alat diplomasi dan pajak. Di dalam wajan ini, aku belajar membedakan kebutuhan dan keinginan—pelajaran finansial paling dasar. Kebutuhanku adalah tekstur yang sempurna, keinginanku adalah berhenti mengaduk karena pegal. Jika aku berhenti, adonan akan hangus. Begitu pula dalam mengatur keuangan; konsistensi adalah kunci. 

Aroma manis legit mulai memenuhi dapur asrama, mengalahkan bau kentang goreng dan sosis yang biasa dimasak penghuni lain. Satu per satu, teman-teman dari berbagai negara—Jepang, Nigeria, Prancis—melongok ke dapur. 

"Wanginya seperti karamel, tapi lebih... berasap," komentar Sakura, teman dari Jepang. 

Saat adonan mulai kalis dan mengkilap, aku teringat satu hal lagi: kemasan. Melansir thephrase.id, kolaborasi global sangat penting untuk isu masa depan, termasuk lingkungan (Sekar, 2025). Aku tidak mau menodai "rekonstruksi suci" ini dengan plastik cling wrap. Aku mengeluarkan besek bambu mini yang sempat kubawa dari Indonesia. Wadah anyaman ini adalah simbol gerakan zero waste yang sesungguhnya. Ia bisa terurai kembali ke tanah, berbeda dengan plastik yang akan mencekik bumi selama ratusan tahun. Saat aku menuangkan dodol hangat ke dalam besek, aku merasa sedang menyelamatkan sepotong kecil planet bumi. 

Malam itu, kami duduk melingkar di ruang tengah. Liam, Sakura, dan teman-teman lain mencicipi dwadwal buatanku. Hening sejenak. Lalu mata mereka membelalak. 

"Ini... kenyal, tidak terlalu manis, dan ada rasa gurih yang kompleks," kata Liam takjub. "Jadi ini rasa dari tahun 928 Masehi?" 

Aku mengangguk bangga. "Namanya Dwadwal. Makanan ini sudah ada sebelum Universitas Oxford dibangun." 

Di momen itu, aku menyadari sesuatu yang vital. Aku mungkin belum bisa memulangkan Prasasti Sangguran dari kebun dingin di Skotlandia itu. Namun, aku telah berhasil melakukan repatriasi rasa. Aku telah membawa pulang memori kolektif bangsa melalui lidah teman-teman internasionalku. Dodol bukan lagi sekadar jajanan pasar; ia adalah duta besar budaya, solusi krisis kesehatan, dan jawaban atas isu lingkungan. 

Sebagai mahasiswa arkeologi dan bagian dari Generasi Z, tugasku bukan hanya menggali tanah mencari tulang belulang. Tugasku adalah menggali nilai-nilai lama yang relevan untuk masa depan. Inovasi tidak selalu berarti menciptakan robot atau aplikasi canggih. Terkadang, inovasi adalah keberanian untuk menengok ke belakang, mengambil resep yang hampir punah, dan menyajikannya kembali dengan narasi baru: narasi kesehatan, narasi ekologi, dan narasi kebanggaan identitas. 

Ke depan, aku bermimpi mengembangkan startup kuliner berbasis "Gastro-Arkeologi". Bayangkan sebuah kedai di mana setiap menu dilengkapi cerita sejarah dari prasasti, menggunakan bahan organik rendah gula, dan dikemas tanpa plastik. Ini adalah peluang bisnis yang menjanjikan di era experience economy saat ini. Generasi muda tidak butuh sekadar kenyang, mereka butuh cerita. Dan kita punya ribuan cerita yang tertidur di museum dan prasasti, menunggu untuk "dimasak" kembali. 

Perjalanan ke Skotlandia mungkin diawali dengan air mata kesedihan melihat prasasti yang terasing. Namun, ia berakhir dengan manisnya gula aren yang merekatkan persahabatan. Sebungkus dwadwal di dalam besek bambu ini adalah bukti bahwa kenangan masa lalu, jika diolah dengan cerdas, bisa menjadi bekal untuk menyelamatkan masa depan.

Artikel Pilihan ThePhrase

- Advertisement -
 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic