trending

Air Perpipaan Jadi Kunci Menahan Penurunan Tanah Jakarta, Seberapa Jauh Dampaknya?

Penulis Nadira Sekar
Nov 03, 2026
Foto: Ilustrasi Pipa Air (magnific.com photo by wirestock)
Foto: Ilustrasi Pipa Air (magnific.com photo by wirestock)

ThePhrase.id - Penurunan muka tanah masih menjadi persoalan lingkungan yang dihadapi Jakarta. Kondisi ini tidak hanya meningkatkan risiko banjir rob, terutama di kawasan pesisir utara, tetapi juga mengancam keberlanjutan infrastruktur dan kehidupan masyarakat.

Berdasarkan pemantauan geodetik pada 255 titik GPS pada 2023, rata-rata penurunan muka tanah Jakarta mencapai sekitar 4 sentimeter per tahun. Di Muara Baru, angkanya bahkan mencapai 10 sentimeter per tahun.

Salah satu faktor penyebabnya adalah pengambilan air tanah secara berlebihan. Eksploitasi tersebut dapat memicu pemampatan lapisan tanah sehingga permukaan tanah terus mengalami penurunan.

Untuk mengatasinya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mendorong perluasan layanan air bersih melalui jaringan perpipaan agar masyarakat tidak lagi bergantung pada air tanah. Hasil pemantauan Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta dalam empat tahun terakhir menunjukkan tren perlambatan penurunan muka tanah di sejumlah kawasan. Di Muara Angke, misalnya, laju penurunan yang sempat mencapai 7 sentimeter per tahun pada 2023 melandai menjadi 4,5 sentimeter pada 2026.

Direktur Utama PAM Jaya Arief Nasrudin mengatakan, peningkatan penggunaan air perpipaan turut mendukung upaya tersebut. “Terbukti, volume air yang ada di tanah sudah mulai terisi dan kemudian bisa menahan laju turunnya muka tanah yang ada di Jakarta,” kata Arief.

Saat ini, cakupan layanan PAM Jaya telah mencapai sekitar 82 persen atau menjangkau 8,9 juta jiwa. Sepanjang 2025, perusahaan juga mencatat 72.666 sambungan baru dan memperoleh Rekor MURI sebagai perusahaan dengan penyambungan pipa air minum terbanyak dalam satu tahun.

Air Perpipaan Jadi Kunci Menahan Penurunan Tanah Jakarta  Seberapa Jauh Dampaknya
Foto: Infografis air pipa tahan penurunan tanah Jakarta (dok. ThePhrase.id/Nadira)

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung pun optimistis target cakupan layanan 100 persen pada 2029 dapat tercapai.

“Ketika saya mencanangkan pada 2029 layanan air bersih di Jakarta harus mencapai 100 persen, banyak yang tidak percaya. Namun sekarang capaian PAM JAYA sudah mencapai 82 persen. Saya yakin, dengan waktu tiga tahun ke depan, target 100 persen itu bisa kita wujudkan,” ujar Pramono.

Untuk mencapai target tersebut, kapasitas suplai PAM Jaya ditargetkan meningkat dari 23.051 menjadi 32.159 liter per detik. Sementara itu, panjang jaringan pipa akan diperluas dari sekitar 13.200 menjadi 16.234 kilometer.

Namun, perluasan infrastruktur perlu diikuti dengan pemerataan akses dan keterjangkauan tarif. Salah satu upaya yang dilakukan PAM Jaya adalah melalui program Kartu Air Sehat dengan tarif Rp1 per liter bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Pramono menegaskan bahwa akses air bersih merupakan hak dasar masyarakat. “Air bukan sekadar komoditas, tetapi hak dasar warga. Karena itu, layanan air minum harus aman, berkualitas, terjangkau, dan dapat diakses secara setara oleh seluruh masyarakat,” tegasnya.

Dengan demikian, perluasan air perpipaan tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan air bersih, tetapi juga mengurangi ketergantungan terhadap air tanah. [nadira]

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic