Airlangga Hartarto, Ketua Umum Partai Besar dengan Elektabilitas Ambyar

- Advertisement -spot_imgspot_img

ThePhrase.id – Seharusnya, Airlangga Hartato adalah nama calon presiden 2024 yang paling berkibar. Bagaimana tidak, posisinya sebagai ketua umum Partai Golkar dan Menko Perekonomian adalah dua penyangga popularitas yang akan mengerek elektabilitasnya. Belum lagi baliho yang sudah tersebar ke hampir penjuru negeri, sehingga kemanapun kita pergi maka foto raksasa Sang Menteri sudah menanti.

Namun faktanya, hingga hari ini elektabilitas Ketua Umum Partai Golkar itu masih “istiqomah” di papan bawah lembaga survei. Survei terakhir misalnya yang dirilis oleh lembaga survei KedaiKopi tentang elektabilitas simulasi calon presiden 2024, akhir Desember 2021, memposisikan Airlangga Hartarto pada urutan ke- 9 dengan skor 1,6%.

Sejauh ini partai Golkar belum ada wacana menggantikan jagonya untuk menghadapi pertarungan 2024 setelah melihat fakta bahwa elektabilitas Sang Ketua Umum belum juga merangkak naik. Malah sebagian pengurus DPP Partai Golkat masih optimis elektabilitas Airlangga Hartarto masih bisa didongkrak dengan berbagai strategi politik yang akan dilakukan partai hingga menjelang 2024.

Airlangga Hartarto. (Foto: instagram/airlanggahartarto_official)

Kholis Malik, Ketua Bidang Hubungan Lembaga Sosial Kemasyarakatan Partai Golkar mengungkapkan masih banyak upaya yang terus dilakukan partai untuk mendongkrak elektabilitas Sang Ketum.

“Medsos sudah sudah kita seriusi, Yellow Klinik, sampai pembinaan terhadap UMKM tetap kita jalankan secara intensif,” kata Kholis yakin.

Namun tak urung posisi elektabilitas Airlangga Hartarto ini telah menggelisahkan sejumlah politisi partai berlambang beringin itu. Bahkan sudah muncul suara untuk menggesernya dari kursi Ketua Umum, karena dinilai akan membuat Golkar tidak mendapat kepercayaan publik sebagai dampak dari kecilnya elektabilitas Airlangga

Suara desakan itu muncul dari politisi senior partai golkar, Erwin Ricardo Silalahi yang meminta para elite Golkar untuk segera memutuskan pergantian ketua umum di partai tersebut. Erwin menilai Airlangga Hartarto sudah tidak pantas lagi menjabat sebagai Ketua Umum Golkar. Alasannya, menurut Erwin kepemimpinan Airlangga sudah tidak memiliki kepercayaan publik khususnya di internal Golkar.

“Ibarat bangunan, Airlangga ini bangunan yang mangkrak, susah untuk direnovasi, satu satunya jalan ya dirobohkan,” jelas Erwin.

Erwin juga mengaku tak habis pikir dengan elektabilitas Airlangga yang masih terus berkutat di papan bawah. Bahkan masih jauh di bawah kader Golkar selevel Dedi Mulyadi. Posisinya sebagai menteri, ketua umum partai dan sudah tebar program dan baliho di mana-mana, tetap saja elektabilitasnya tidak naik. Karena itu, kata Erwin jika kondisi ini dipertahankan maka Golkar bakal

Senada dengan Erwin, Pengamat Komunikasi Politik Universitas Multimedia Nusantara (UMN) Silvanus Alvin mengingatkan rendahnya elektabilitas Airlangga menjadi peringatan sekaligus catatan merah untuk maju sebagai calon presiden 2024. Elektabilitas rendah ketua umum itu juga bakal menjadi beban Partai Golkar dalam Pemilu 2024.

“Ini harus menjadi wake up call, apakah Airlangga maju jadi capres atau mengubah posisi menjadi cawapres,” kata Alvin di Jakarta, Minggu (16/1).

Airlangga Hartarto. (Foto: instagram/airlanggahartarto_official)

Menurut Alvin, gagalnya Airlangga mendongkrak elektabilitasnya akibat strategi gaya lama alias jadul masih diterapkan di tengah era digital seperti saat ini. Salah satu contohnya dengan menebar banyak baliho. Padahal baliho itu hanya dilihat sambil lalu saja.

‘Di era digital saat ini komunikasi politik sudah tidak bisa gaya lama, ya kali masih pakai model begini elektabilitasnya ya pasti ambyar,” paparnya.

Alvin menyarankan agar Airlangga menjalankan praktik dan pola pikir di jalur digital. Dalam kajian komunikasi politik di kanal level komunikasi politik berdasarkan generasi dan media yang digunakan. Seperti Facebook (Meta) didominasi Generasi X. Kemudian ada Instagram dan YouTube yang didominasi generasi milenial. Dan tidak kalah penting ada TikTok di generasi Z. Untuk promosi diri sebaiknya dilaksanakan secara digital di media sosial tersebut. Terlebih, pesaing Airlangga seperti Ganjar Pranowo, Anies Baswedan, Sandiaga Uno, Erick Thohir, mereka mayoritas sudah punya YouTube Channel sendiri.

“Mereka menerapkan politainment di ranah digital karena publik mengenal politisi dari medsos. Siapa yang viral dan ‘happening’ di medsos bisa mengkonversi popularitas tersebut jadi nilai elektabilitas,” beber Alvin.

Ke depan, kata Alvin langkah Airlangga dalam komunikasi politiknya perlu berubah. Jika masih terus seperti saat ini maka langkah menjadi capres akan sangat sulit.

Dibandingkan dengan koleganya sesama Ketua Umum Partai, elektabilitas Airlangga berada di posisi paling jeblok. Sebut saja dengan AHY, Ketua Umum Partai Demokrat yang selalu berada di ranking tengah papan survei. Padahal AHY tidak memiliki jabatan publik apa-apa di Pemerintahan Jokowi.

Kalau mau “apple to apple” Airlangga harus dikomparasi dengan Prabowo Subiyanto. Sama-sama menteri dan sama-sama ketua umum partai besar. Namun perbandingan elektabilitasnya seperti bumi dan langit. Prabowo selalu berada di atas sementara Airlangga tidak bisa beranjak dari posisi terbawah. Padahal Prabowo belum banyak melakukkan langkah dan aksi politik untuk menghadapi 2024.

Golkar atau Airlangga sendiri harus mengambil langkah cepat untuk memperbaiki tingkat keterpilihannya agar tidak tenggelam di 2024. Sebagai partai besar Golkar tidak akan dapat berbuat banyak jika elektabilitas Ketua Umum yang digadang-gadang sebagai calon presiden itu terus ambyar. (Aswan AS)

- Advertisement -spot_img

You might also likeRELATED
Recommended to you