
ThePhrase.id - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali menjadi sorotan setelah kualitas udara memburuk di sejumlah wilayah Asia Tenggara. Dampaknya bahkan terasa di tengah penyelenggaraan dua ajang Formula 1, yakni Bahrain Grand Prix in Malaysia di Sirkuit Sepang pada 2-4 Oktober 2026 dan Singapore Grand Prix pada 9-11 Oktober 2026.
Menjelang Singapore Grand Prix, kabut asap terlihat jelas di kawasan Marina Bay. Kondisi ini pun memicu kekhawatiran pembalap mengenai kualitas udara yang mereka hirup selama berada di Singapura.
Pembalap Williams, Carlos Sainz, mempertanyakan apakah kondisi udara di sana cukup sehat untuk dihirup. “Saya sudah membaca sedikit soal ini. Rasanya bukan tempat yang paling sehat untuk bernapas saat ini, mengingat banyaknya polusi dari kebakaran di Indonesia,” ujarnya.
Pembalap Cadillac, Valtteri Bottas, juga melihat kabut asap selama perjalanan dari Malaysia menuju Singapura. “Saya bisa melihatnya sedikit demi sedikit dari Malaysia sampai ke sini. Baru di hari terakhir terlihat jelas. Begitu sampai di Singapura, kondisinya benar-benar buruk,” katanya.
Meski demikian, kedua balapan tetap berlangsung sesuai jadwal. Namun, sebagai langkah antisipasi terhadap kondisi udara yang buruk, penyelenggara Singapore Grand Prix membagikan masker gratis kepada penonton.
Dampak kabut asap tidak hanya dirasakan di sekitar sirkuit. Aktivitas masyarakat di Singapura dan Malaysia turut terganggu seiring memburuknya kualitas udara.
Mengutip The Straits Times, indeks standar polutan (Pollutant Standards Index/PSI) di lima wilayah Singapura berada di kisaran 105 hingga 147 pada 12 Oktober 2026. Angka tersebut masuk kategori tidak sehat. Meski aktivitas sehari-hari masih berlangsung seperti biasa, otoritas Singapura telah menyiapkan langkah antisipasi apabila PSI melampaui 200, termasuk membagikan masker N95 secara gratis kepada masyarakat.
Sementara itu, Malaysia menghadapi dampak yang lebih luas. CNBC Indonesia, mengutip CNA dan The Star, melaporkan bahwa sekolah di sejumlah wilayah, termasuk Johor, Melaka, Negeri Sembilan, Selangor, Kuala Lumpur, dan Putrajaya, ditutup. Di Batu Pahat, hampir 200 sekolah dan pusat penitipan anak ditutup setelah indeks pencemaran udara mencapai 203 pada 6 Oktober. Sejumlah kegiatan olahraga di beberapa negara bagian juga ditunda.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim bahkan telah membahas persoalan kabut asap tersebut dengan Presiden Prabowo Subianto. Ia juga meminta kementerian luar negerinya bekerja sama dengan Sekretariat ASEAN untuk mendorong pertemuan para menteri lingkungan negara anggota.

Menanggapi persoalan kabut asap yang turut berdampak pada negara tetangga, Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir mengatakan Indonesia telah berkomunikasi dengan Malaysia untuk menjelaskan langkah-langkah penanganan karhutla.
“Saya sudah berbicara juga dengan Menlu Malaysia, dan juga kita sudah jelaskan langkah-langkah yang telah dilakukan oleh Indonesia seperti kita sudah menerjunkan lebih dari 60 ribu personel, kita telah menerjunkan juga 48 helikopter dan pesawat untuk melakukan water bombing dan pengalihan cuaca,” ujarnya di Lapangan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Sabtu (10/10), seperti dikutip Antara.
Selain pengerahan personel dan armada yang disampaikan Menlu, Kementerian Kehutanan menyebut terdapat 61 unit pesawat yang digunakan untuk patroli, modifikasi cuaca, dan pemadaman melalui water bombing. Penanganan di darat juga dilakukan melalui patroli, pemeriksaan titik panas, pemadaman, serta pendinginan area bekas terbakar.
Langkah-langkah tersebut menjadi bagian penting dalam penanganan darurat. Namun, pengerahan personel dan peralatan untuk memadamkan api perlu diikuti upaya pencegahan yang lebih kuat agar karhutla tidak terus berulang setiap musim kemarau.
Pemerintah perlu memastikan efektivitas penanganan melalui indikator yang terukur, mulai dari penurunan luas lahan terbakar dan perbaikan kualitas udara hingga berkurangnya kejadian karhutla dari tahun ke tahun. Evaluasi tersebut penting agar penanganan tidak berhenti pada pemadaman ketika api sudah menyebar, tetapi juga mampu menekan risiko kebakaran sejak awal.
Kabut asap yang mengganggu penyelenggaraan ajang internasional dan aktivitas masyarakat di negara tetangga menunjukkan bahwa dampak karhutla dapat melampaui batas wilayah Indonesia. Karena itu, pencegahan kebakaran dan pengendalian sumber asap perlu menjadi prioritas agar masyarakat tidak terus menanggung dampak yang sama setiap tahun. [nadira]