Akibat Perubahan Iklim, Lumba-lumba Yangtze River Punah

- Advertisement -spot_imgspot_img

ThePhrase.id – Lumba-lumba atau dugong Yangtze yang sering disebut sebagai ‘Dewi Yangtze’ oleh masyarakat China kini telah dinyatakan punah akibat perubahan iklim, perusakan habitat serta penangkapan berlebihan.

Melansir zmescience, hanya tiga orang dari ratusan orang yang terlibat dalam survei perairan China yang melihat hewan tersebut dalam lima tahun terakhir. Untungnya, lumba-lumba Yangtze masih hidup di tempat lain di dunia, meskipun dalam jumlah yang sangat rendah.

Foto: Lumba-lumba Sungai Yangtze (wikipedia.org By Roland Seitre – Institute of Hydrobiology, Chinese Academy of Sciences, CC BY-SA 3.0)

Hal ini membuat para peneliti menyatakan hewan tersebut telah punah secara fungsional, yang berarti lumba lumba Yangtze tidak lagi dapat bertahan hidup. Bahkan meski beberapa lumba-lumba masih tetap berada di perairan China, penurunan populasi yang dialami oleh spesies tersebut dalam beberapa dekade terakhir tidak mungkin dihentikan atau dibalikkan di bawah kerusakan ekosistem pesisir yang terus berlanjut.

Hewan unik yang dipercaya membawa keberuntungan tersebut bergantung pada tanaman lamun yang kini terdegradasi dengan cepat oleh dampak pencemaran air hingga pembangunan di pesisir.

Sementara upaya restorasi sedang berlangsung di China, prosesnya bisa memakan waktu lama dan mungkin sudah terlambat. PBB memperkirakan sekitar 7% habitat lamun hilang setiap tahun karena perubahan iklim, penangkapan ikan yang tidak diatur, pembangunan pesisir, dan polusi pertanian.

Selain itu, China tengah kesulitan dengan gelombang panas terburuk.  Dengan curah hujan di bawah rata-rata sejak Juli 2022, ketinggian airnya telah jatuh ke rekor terendah 50% dari tingkat normalnya untuk sepanjang tahun ini, memperlihatkan dasar sungai yang retak dan bahkan mengungkapkan pulau-pulau yang terendam.

Kerusakan Ekosistem Yangtze

Selain lumba lumba, para ahli telah menyatakan kekhawatiran yang mendalam bahwa spesies hewan dan tumbuhan asli Yangtze yang langka lainnya kemungkinan akan mengalami nasib yang sama dengan lumba-lumba sungai Baiji karena memburuknya perubahan iklim dan kondisi cuaca ekstrem.

“Baiji, atau lumba-lumba Sungai Yangtze, adalah makhluk yang unik dan indah — tidak ada [hewan lain] yang seperti itu. Kepunahannya lebih dari sekadar tragedi spesies — itu adalah hilangnya keanekaragaman sungai yang sangat besar dan meninggalkan lubang besar di ekosistem,” kata Samuel Turvey, ahli zoologi dan konservasionis Inggris dilansir dari CNN.com.

Beberapa hewan yang dikhawatirkan akan punah selanjutnya termasuk lumba-lumba tanpa sirip Yangtze yang, mirip dengan baiji, dan reptil seperti buaya China dan kura-kura softshell raksasa Yangtze yang merupakan spesies penyu air tawar terbesar yang masih hidup di dunia.

Para ahli juga memperhatikan penurunan drastis banyak spesies ikan air tawar asli, seperti paddlefish dan sturgeon China yang sekarang sudah punah. Yang berisiko tinggi adalah salamander raksasa China, salah satu amfibi terbesar di dunia. Populasi liar telah jatuh, Samuel Turvey mengatakan spesies itu “sekarang di ambang kepunahan.”

Menjadi Masalah Seluruh Dunia

Kelompok konservasi alam seperti WWF mengatakan permasalahan yang kini dihadapi di sungai Yangtze menjadi perhatian utama tidak hanya bagi masyarakat dan pemerintah China, tetapi juga bagi masyarakat internasional yang lebih luas.

Sungai-sungai di seluruh dunia, dari Eropa hingga Amerika Serikat, telah menurun ke tingkat aliran rendah secara historis yang berdampak negatif pada ekosistem. Diperlukan lebih banyak kesadaran publik dan upaya yang lebih besar untuk membantu sungai-sungai di dunia untuk tidak menyusut lebih jauh.

[nadira]

- Advertisement -spot_img

You might also likeRELATED
Recommended to you