
ThePhrase.id - Perwakilan Aliansi Ibu Indonesia, Annette Mau menyampaikan kritik keras terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai sangat seksis dan menghina perempuan, khususnya para ibu di Indonesia.
Pasalnya, MBG yang merupakan program yang menyasar isu pangan dan gizi keluarga, justru tidak berpihak maupun melibatkan perempuan dan ibu yang selama ini menjadi aktor utama dalam pemenuhan kebutuhan pangan rumah tangga.
“Kalau bangsa ini mengatakan perempuan adalah pilar peradaban, lalu di mana suara kami? Mari lihat jajaran Badan Gizi Nasional (BGN), berapa persen perempuan? Mari lihat para pengambil keputusan dalam proyek ‘mega budget’ ini, kami tidak terwakilkan di sana,” ujar Annette dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Komisi IX DPR RI di Jakarta, Kamis (16/7).
Annette berpendapat bahwa pengalaman perempuan dalam mengelola kebutuhan pangan keluarga selama bertahun-tahun seharusnya menjadi pertimbangan utama dalam merancang kebijakan gizi nasional.
Ia juga mengkritik besarnya anggaran makan per anak. Menurutnya, apabila bantuan tersebut diberikan dalam bentuk dukungan ekonomi kepada keluarga, khususnya ibu, manfaatnya akan menjadi lebih besar.
“Urusan makan, urusan gizi, perempuan dan ibu jangan dilawan. Dengan Rp15.000, yang makan bukan satu anak satu kali sehari. Ketika Rp15.000 dari pemerintah dalam arti bentuk bantuan sosial, ditambah dengan Rp10.000 penghasilan, (maka) Rp25.000, satu rumah makan,” tukas Annette.
“Kami (para ibu) belum tentu lulusan ahli gizi. Tapi kami tahu kami enggak akan kasih makan anak (dengan) lele mentah. Enggak ada dalam rumus kami (dalam) makan siang itu air kelapa. Tahu dan tempe pun diolah di tangan perempuan, dahsyat jadinya,” tambahnya.
Selain itu, Annette mempertanyakan kualitas makanan yang diterima para penerima manfaat. Ia menilai, makanan yang harus didistribusikan dari dapur ke sekolah dalam jarak tertentu sulit diterima dalam kondisi hangat.
Padahal makanan yang baru dimasak merupakan kondisi terbaik dari sisi kualitas dan nutrisi.
Ia juga menyoroti sejumlah kasus dugaan keracunan MBG yang terjadi di beberapa daerah. Menurutnya, keluarga yang terdampak tidak memperoleh kompensasi yang memadai, sementara biaya perawatan anak harus ditanggung sendiri.
“Betapa hinanya anak-anak kita di mata negara, diberikan makan sampai keracunan. Apa tindakan negara? Adakah kompensasi? Adakah permintaan maaf? Adakah ganti rugi secara sosial? Bapak, Ibu yang tidak punya BPJS ke rumah sakit merawat anaknya berhari-hari tanpa kompensasi, dan kita berkata kita sedang membela orang miskin? How dare you?” tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Annette turut menyinggung pergantian kepemimpinan di BGN yang kini dipimpin Nanik S Deyang, yang menurutnya juga tetap tidak berpihak pada kalangan ibu meskipun berjenis kelamin perempuan.
“Maaf kalau saya boleh ngomong terus terang, saya tidak merasa bangga Ibu Nanik S Deyang menggantikan menjadi kepala BGN sekarang. Maaf, dia tidak ada di pihak kami walau dia berjenis kelamin perempuan,” kata Annette.
“Karena kalau dia perempuan yang sungguh-sungguh ibu, dia akan paham this is not the way you feed the children. Tidak ada satu pun aspek yang baik dari pelaksanaan MBG. Kalau kita melihat bagaimana ibu-ibu kita di rumah merawat anak-anak, this is not the way you do it,” tandasnya.
Melalui forum tersebut, Annette menegaskan bahwa organisasinya mendukung upaya Koalisi MBG Watch yang mendorong penghentian program tersebut. (Rangga)