politics

Analis Politik: Bahlil Berpeluang jadi Figur yang Disukai Publik jika Mampu Ubah Gaya Komunikasinya

Penulis Rangga Bijak Aditya
Feb 22, 2026
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia dalam Konferensi Pers Capaian Kinerja Sektor ESDM Tahun 2025 di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta pada Kamis (08/01/26). (Foto: Esdm.go.id)
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia dalam Konferensi Pers Capaian Kinerja Sektor ESDM Tahun 2025 di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta pada Kamis (08/01/26). (Foto: Esdm.go.id)

ThePhrase.id - Analis komunikasi politik, Hendri Satrio (Hensa) menilai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia berpeluang menjadi figur yang lebih disukai publik apabila mampu mengubah gaya komunikasinya di ruang publik.

Penilaian tersebut disampaikan menanggapi beredarnya sebuah video di media sosial TikTok, yang menampilkan Bahlil tengah berbicara dengan nada tenang dan santai mengenai latar belakangnya, perjuangan dalam perjalanan hidup, hingga menduduki jabatan menteri saat ini.

"Dari ceritanya, perjuangan hidup beliau memang luar biasa dan bisa mencapai posisi politik seperti saat ini itu menjadi makin luar biasa, bisa menjadi inspirasi bagi kita yang punya latar belakang hidup susah ini," ucap Hensa dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (21/2) dikutip Antaranews.

Hensa mengapresiasi gaya komunikasi Bahlil dalam video tersebut. Menurutnya, cara penyampaian yang tidak berlebihan dan lebih santai justru lebih mudah diterima oleh masyarakat.

"Kalau Bahlil cara komunikasinya menjadi lebih santun, kalem, tenang, maka bukan tidak mungkin ia akan mengambil hati masyarakat," imbuhnya.

Menurutnya, Bahlil selama ini cukup sering membagikan kisah latar belakang serta perjuangannya di dunia politik, yang kemungkinan dimaksudkan untuk memberi inspirasi kepada masyarakat. Selain itu, ia juga dinilai kerap menawarkan solusi dalam berbagai isu kebijakan publik.

Sedangkan belakangan ini, Hensa melihat bahwa cara komunikasi Bahlil cenderung terkesan lebih merepresentasikan kalangan elite, sehingga memunculkan sentimen negatif dari sebagian publik.

"Saat ini, justru saya melihat Bahlil cara komunikasinya terlalu mewakili kaum elite, tidak seperti pada saat dia bercerita dan perjuangannya ketika dia memulai dari sekadar masyarakat biasa. Itu yang membuat publik cenderung memberikan sentimen negatif terhadap dirinya," ujar Hensa.

Karena itu, ia menyarankan agar Bahlil menyesuaikan kembali pendekatan komunikasinya agar lebih membumi dan dekat dengan masyarakat. Hensa meyakini perubahan tersebut tidak hanya berdampak positif bagi citra pribadi Bahlil, tetapi juga bagi partai yang dipimpinnya. (Rangga)

Artikel Pilihan ThePhrase

- Advertisement -
 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic