
ThePhrase.id – Generasi muda kini mulai sadar akan pentingnya mengelola keuangan secara digital. Di tengah tren tersebut, Anderson Sumarli menjadi salah satu sosok yang melihat peluang besar untuk menghadirkan solusi investasi yang lebih mudah dan relevan bagi anak muda.
Anderson Sumarli berhasil membaca arah perkembangan keuangan digital di tanah air dan memahami bahwa akses dan literasi keuangan yang inklusif adalah kunci agar generasi muda dapat membangun masa depan finansial yang lebih kuat.
Dari visi inilah ia mendirikan Ajaib Group di tahun 2018, platform investasi yang kemudian membuka jalan menuju ekosistem finansial yang lebih sederhana dan merata bagi jutaan orang. Anderson mendirikan Ajaib bersama Yada Piyajomkwan asal Thailand yang memiliki latar belakang konsultan global McKinsey & Company.
Anderson menempuh pendidikan di Cornell University dan meraih gelar Bachelor of Science di bidang Applied Economics, lalu melanjutkan gelar MBA di Stanford University Graduate School of Business.

Bekal akademiknya yang kuat ini mengantarkannya menuju karier profesional, mulai dari menjabat Chief Analytics Officer di IBM pada 2014–2016, hingga menjadi Management Consultant di Boston Consulting Group (BCG) pada 2016–2018.
Meski berlatar belakang memukau, perjalanan Anderson jauh dari kata mudah. Saat memulai Ajaib, ia baru berusia 22 tahun dan sempat dipandang sebelah mata karena dianggap terlalu muda untuk membangun perusahaan finansial.
Namun hal tersebut tidak menghalanginya. Co-Founder serta CEO dari Ajaib ini justru membangun tim secara strategis dengan memadukan talenta muda yang memiliki banyak inovasi dengan profesional berpengalaman berusia 50–60 tahun.
“Di perusahaan kami ini sangat penting anak muda masuk dengan inovasi untuk teknologi keuangan ke depannya seperti apa. Tapi, di sini juga ada orang yang berumur 50, 60, dan sudah berpengalaman,” ujarnya dalam satu kesempatan pada Fortune Indonesia.
Inovasi ini membawa Ajaib berkembang pesat dan menjadi induk dari dua perusahaan, yaitu PT Takjub Teknologi Indonesia (Ajaib Reksa Dana) di tahun 2019 dan PT Primasia Unggul Sekuritas (Ajaib Sekuritas) di tahun 2020. Di tahun ini, kiprah Anderson juga berhasil diakui dan masuk daftar Forbes 30 Under 30.
Pertumbuhan Ajaib pun melesat dengan valuasinya yang diproyeksikan melampaui 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp14,3 triliun di tahun 2021, menjadikannya unicorn ketujuh di Indonesia dan unicorn fintech investasi pertama di Asia Tenggara. Bahkan Ajaib juga berhasil menjadi startup tercepat yang meraih status unicorn dalam sejarah Asia Tenggara.
Anderson kerap menyebut bahwa kesuksesan Ajaib tak lepas dari dukungan berbagai pihak. Melalui laman Instagramnya, Anderson menceritakan bagaimana Eric Schmidt (mantan CEO Google) memberinya bimbingan saat merintis Ajaib.
Ia juga mempelajari prinsip “blitzscaling” untuk membangun perusahaan besar dengan cepat dari Reid Hoffman (Founder LinkedIn & Co-Founder PayPal). Pendekatan inilah yang membuat Ajaib mampu menjadi salah satu platform investasi terbesar di Indonesia dan berkontribusi pada 25% investor ritel baru pada 2019, seperti dilaporkan Forbes.

Dalam hal brand dan komunikasi, Anderson juga dikenal berani. Ajaib menggaet Kim Seon Ho hingga Lisa BLACKPINK sebagai brand ambassador agar Ajaib makin dekat dan relevan dengan generasi muda sebagai target utama.
Pada 2024, Anderson mewakili Indonesia dalam World Economic Forum (WEF). Di sana ia melakukan berbagai pertemuan bilateral dengan regulator, pemimpin pemerintah, dan founder teknologi global seperti Sam Altman (OpenAI), Henrique (Brex), Jake (Gecko Robotics), Alex (OpenSea), dan John (Sendbird).
Pada forum ini, Anderson menjelaskan mengenai peran Indonesia dalam teknologi global, potensi AI dan fintech, peluang digital untuk inklusi keuangan, hingga regulasi aset kripto.
Tak berhenti berinovasi, kini Ajaib memperluas portofolionya dengan menghadirkan sejumlah produk investasi, mulai dari saham, reksadana, kripto, saham Amerika, komoditas, forex, index, hingga menyediakan layanan Ajaib Institution Services.
Meski awalnya diragukan oleh banyak orang, Anderson yang merupakan Komisaris Utama sejak 2020 ini berhasil membuktikan diri dan mengubah keraguan ini menjadi kekuatan.
“Orang-orang mempertanyakan apakah ia terlalu muda untuk memimpin, tetapi Anderson bangkit untuk membangun salah satu unicorn pertama di Indonesia, hanya dalam waktu kurang dari 5 tahun!,” tulis Wise Underdogs. [fa]