
Thephrase.id - Liverpool memulai babak baru dengan menunjuk Andoni Iraola sebagai pelatih setelah manajer asal Spanyol itu menandatangani kontrak berdurasi dua tahun untuk menggantikan Arne Slot yang kehilangan jabatannya meski sempat membawa The Reds menjuarai Premier League setahun sebelumnya.
Penunjukan Iraola datang setelah pria berusia 43 tahun tersebut mengantarkan Bournemouth menjalani musim terbaik di kasta tertinggi sepak bola Inggris dengan finis di posisi keenam dan mengamankan tiket ke Europa League musim depan.
Pencapaian itu semakin mencuri perhatian karena Bournemouth hanya terpaut satu peringkat dan tiga poin dari Liverpool, klub yang kini mempercayakan proyek barunya kepada mantan bek Athletic Club tersebut.
Sebelum merapat ke Anfield, Iraola sempat dikaitkan dengan sejumlah klub besar Eropa setelah mengumumkan keputusannya untuk meninggalkan Bournemouth pada April 2026, termasuk Crystal Palace dan AC Milan yang disebut memantau situasinya.
Di tengah performa Liverpool yang menutup musim Premier League dengan 60 poin atau jumlah terendah sejak musim 2015-2016 dan tertinggal 25 angka dari Arsenal di puncak klasemen, manajemen akhirnya memilih melakukan perubahan besar di kursi pelatih.
"Sangat bersemangat, sangat bersemangat. Karena tentu saja Anda tahu tentang Liverpool, Anda tahu bahwa ini adalah klub besar, klub yang sangat besar, salah satu yang terbesar di dunia," tegas Iraola dilansir BBC.
"Anda tidak membutuhkan banyak alasan untuk tertarik kepada Liverpool. Liverpool adalah Liverpool," bebernya.
Iraola mengakui bahwa kesempatan menangani Liverpool memberinya peluang bekerja bersama para pemain terbaik dan bersaing memperebutkan berbagai trofi, meski ia memahami besarnya tuntutan yang menyertai jabatan tersebut.
"Saya pikir Liverpool memberi saya kesempatan untuk melatih pemain-pemain top, dan pemain-pemain top memberi Anda kesempatan untuk bersaing memperebutkan gelar. Untuk memenangkan gelar," ucap Iraola.
"Jelas ketika Anda datang ke sebuah tempat, Anda tidak bisa menjanjikan segalanya. Anda tidak bisa menjanjikan itu. Tetapi memang benar saya memahami ke mana saya datang dan apa yang diharapkan. Saya siap menghadapi tantangan," lanjutnya.
Salah satu momen yang masih diingat Iraola adalah ketika Federico Chiesa mencetak gol kemenangan untuk Liverpool saat menghadapi Bournemouth musim lalu, sebuah gol yang memicu ledakan euforia di Anfield dan membuatnya kini ingin merasakan suasana serupa dari sisi yang berbeda.
"Federico Chiesa mencetak gol dan stadion meledak. Itu gila, bukan? Sekarang saya ingin merasakan itu dari sisi yang berbeda," ungkapnya.
"Pada awalnya ketika Anda datang ke klub mana pun, saya pikir Anda harus membuktikan diri sedikit. Anda juga harus mendapatkan hak untuk menjadi bagian dari tempat itu. Saya ingin melakukannya secepat mungkin agar saya bisa merayakannya bersama mereka dan benar-benar menjadi bagian dari perayaan tersebut," sambung Iraola.
Karier Iraola dibangun melalui serangkaian pencapaian yang kerap melampaui ekspektasi. Ia berhasil membawa AEK Larnaca menembus fase grup Liga Europa, mengantar CD Mirandes ke semifinal Copa del Rey, hingga membawa Rayo Vallecano promosi ke La Liga sebelum kemudian mengangkat Bournemouth menjadi salah satu tim paling kompetitif di Premier League.
Pria yang semasa kecil bermain sepak bola pantai bersama Mikel Arteta dan Xabi Alonso itu juga dikenal memiliki pendekatan sepak bola agresif yang sesuai dengan arah baru yang diinginkan Liverpool. Terlebih setelah klub menghabiskan sekitar 450 juta poundsterling atau setara Rp9,9 triliun pada bursa transfer musim panas lalu demi mempertahankan daya saing mereka di level tertinggi.