
Thephrase.id - Mantan pelatih Tottenham Hotspur, Ange Postecoglou, menyebut klub lamanya sebagai entitas yang "tidak besar" dalam konteks struktur pengeluaran setelah pemecatan penerusnya, Thomas Frank, di tengah rangkaian hasil negatif yang menempatkan The Lilywhites dalam tekanan kompetisi domestik.
Kekalahan kandang dari Newcastle United memperburuk situasi sebelum manajemen memutuskan mengakhiri kerja sama dengan Frank, hanya beberapa bulan setelah ia ditunjuk menggantikan Postecoglou yang sebelumnya membawa klub meraih trofi Liga Europa.
Dilansir dari The Overlap, Postecoglou berbicara panjang lebar mengenai pengalaman dua musimnya di London utara serta pandangannya terhadap arah kebijakan klub.
Ia menyoroti struktur gaji sebagai persoalan mendasar yang memengaruhi kemampuan klub bersaing di bursa transfer dan menyebut realitas finansial tersebut berbeda dengan citra besar yang selama ini dilekatkan pada Tottenham.
"Mereka telah membangun stadion yang luar biasa, fasilitas latihan yang luar biasa, tetapi ketika Anda melihat pengeluaran, khususnya dalam struktur gaji, mereka bukan klub besar," beber Postecoglou.
"Saya melihat itu karena ketika kami mencoba merekrut pemain, kami tidak berada di pasar untuk pemain-pemain tersebut," tegasnya.
"Di akhir tahun pertama saya, ketika kami finis kelima, bagaimana Anda melangkah dari posisi kelima untuk benar-benar bersaing? Kami harus merekrut pemain yang siap untuk Premier League, tetapi finis kelima tahun itu tidak membawa kami ke Liga Champions, kami tidak punya dana, sehingga kami merekrut Dom Solanke, yang sangat saya inginkan, dan tiga pemain remaja," lanjutnya.
"Saya melihat Pedro Neto, Bryan Mbeumo, Antoine Semenyo, dan Marc Guehi, karena saya mengatakan jika kami ingin naik dari posisi kelima ke level berikutnya, itulah yang dilakukan klub-klub besar lain pada momen tersebut," sambungnya.
"Idealnya tiga remaja itu adalah pemain muda luar biasa dan saya pikir mereka akan menjadi pemain hebat untuk Tottenham, tetapi mereka tidak akan membawa Anda dari posisi kelima ke posisi keempat atau ketiga," imbuh nakhoda asal Australia.
Postecoglou juga membandingkan pendekatan Spurs dengan kebijakan transfer Arsenal yang menurutnya berani mengeluarkan dana besar untuk pemain seperti Declan Rice, seraya menyatakan bahwa keberanian mengambil risiko finansial menjadi pembeda utama dalam perebutan gelar.
Ia menilai moto klub "To Dare Is To Do” tidak sepenuhnya tercermin dalam kebijakan manajemen, meski tetap mengakui kontribusi mantan ketua Daniel Levy dalam pembangunan stadion dan fasilitas modern melalui pendekatan yang disebutnya aman secara finansial.
Postecoglou mengungkap bahwa sejak Januari atau awal Februari ia telah merasakan masa jabatannya akan segera berakhir, meski saat itu tim masih berada di perempat final Europa League dan berjarak 13 poin dari zona degradasi, sembari menegaskan bahwa keberhasilan meraih trofi Eropa sekaligus tiket Liga Champions menjadi target yang ia yakini sejalan dengan arah yang diinginkan klub.