Anies Baswedan, Capres yang Melaju Tanpa Perahu

- Advertisement -spot_imgspot_img

ThePhrase.id – Di antara nama-nama bakal capres yang beredar hari ini, Anies Baswedan adalah salah satu nama yang sering menempati puncak papan survei. Namanya semakin populer justru di ujung akhir masa jabatannya sebagai gubernur, ketika program atau janjinya di awal pemilihan gubernur dulu banyak yang sudah tertunaikan.

Foto: Anies Baswedan (instagram.com/aniesbaswedan)

Wajah Jakarta kini yang “instagramable” bagi para milenial untuk membuat konten, membuat popularitas Anies makin tak terbendung.

Testimoni warga Jakarta seperti warga Kampong Akuarium yang dulu digusur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), para supir angkot yang beredar di media sosial seperti menjadi “counter attack” terhadap informasi yang menegasi terhadap kerja Anies selama ini.

Geisz Chalifah, seorang loyalis Anies dengan nada satire menyampaikan terima kasih kepada para haters Anies yang telah ikut mempopulerkan Anies dengan ujaran kebencian, nyiyir atau fitnah kepada Anies selama ini.

Foto: Anies Baswedan (instagram.com/aniesbaswedan)

Menurut Geiz, hanya dengan cara seperti itu kerja-kerja Anies akan dilihat orang dan membuat orang penasaran untuk melihat langsung.

“Anies itu tidak punya apa-apa untuk mempopulerkan dirinya. Dia tidak punya uang cukup, tidak punya partai untuk meningkatkan popularitasnya. Satu-satu cara Anies untuk menaikkan popularitasnya adalah dengan menjalankan program-programnya” katanya pada sebuah talkshow.

Geisz pun berani sesumbar bahwa orang yang ada di sekitar Anies akan lebih miskin dari sebelumnya, karena uang pribadinya banyak dipakai urunan untuk mendukung Anies.

Foto: Anies Baswedan (instagram.com/aniesbaswedan)

Anies sendiri sepertinya tidak terlalu terganggu dengan berbagai kritikan, ujaran kebencian ataupun fitnah yang ditujukan kepada dirinya. Dia mengaku membaca sebagian besar dari kritikan itu terutama kritikan yang memiliki sisi positif untuk membangun kinerjanya sebagai gubernur.

Sedangkan kritikan yang bernada fitnah atau ujaran kebencian dia mengaku lebih banyak mengabaikan dan fokus untuk bekerja memenuhi janji.

“Saya tidak terlalu khawatir dengan apa yang dituliskan oleh para netizen tentang saya tetapi saya lebih khawatir dengan apa yang akan ditulis oleh para ahli sejarah,” kata Anies dalam beberapa kesempatan.

Foto: Anies Baswedan (instagram.com/aniesbaswedan)

Kini, Anies sudah menjadi perhatian banyak orang, terbukti dari elektabilitasnya yang makin menjulang. Survei teranyar yang dirilis oleh Kelompok Kajian dan Diskusi Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI) terkait calon pemimpin untuk 2024 menempatkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menjadi calon presiden (capres) dengan elektabilitas tertinggi dari klaster kepala daerah.

“Ini Anies Baswedan nomor satu dengan 37,4 persen,” ujar Direktur Eksekutif KedaiKOPI, Kunto Adi di Tebet, Jakarta pada pertengahan Desember lalu.

Di bawahnya ada nama Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo (34,5 persen) dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (13,8 persen). Terakhir ada nama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dengan elektabilitas sebesar 7,3 persen.

Dukungan yang mengalir kepada mantan Rektor Universitas Paramadina itu makin intensif. Berbagai kelompok masyarakat dari Aceh hingga NTT sudah terang-terangan menyatakan dukungan kepada Anies.

Foto: Anies Baswedan (instagram.com/aniesbaswedan)

“Kami ingin Pak Anies Baswedan bisa memimpin Indonesia,” kata Ushak Dapubeang tokoh asal Nusa Tenggara Timur.

Ushak menilai, Anies Baswedan layak memimpin Indonesia dan maju dalam Pilpres 2024 mengingat mantan Menteri Pendidikan itu sukses meningkatkan kesejahteraan warga DKI Jakarta sejak menjadi gubernur.

Menurut Ushak sejumlah tokoh dari Indonesia timur iri dengan kesuksesan Anies Baswedan dalam memberikan pelayanan dan kemudahan kepada masyarakat Jakarta.

Sementara dari Aceh, Relawan Millenial Aceh Anies (REMAAN) mendeklarasikan dukungan kepada Gubernur DKI Jakarta untuk maju pada Pemilihan Presiden 2024.

Koordinator REMAAN, Heri Gusmadi menjelaskan, bahwa relawan ini terbentuk atas diskusi dan kesadaran bersama aktivis muda seluruh Aceh, pemuda Aceh dan juga relawan millenial lainya.

“Relawan ini dibentuk bukan karena kepentingan pihak tertentu, tetapi ini murni dibentuk dari hasil diskusi yang dilakukan beberapa waktu lalu bersama kawan-kawan aktivis muda seluruh Aceh, dan juga relawan millenial lainnya,” ungkapnya.

Foto: Anies Baswedan (instagram.com/aniesbaswedan)

Tentu saja popularitas dan intensitas dukungan kepada Anies ini menggelisahkan pihak “opisisi”. Upaya untuk menjegal Anies pun tak kalah gencar. Terbaru dan “straigt” adalah pidato dari Ketua PSI, Giring Ganesha yang menyebut Anies sebagai pembohong dan berbahaya jika memimpin Indonesia.

Meski tidak menyebut nama, tetapi jelas Giring menyebut sosok yang dimaksud adalah menteri yang pernah dipecat Jokowi. Demikian juga kerja Anies di lapangan dicari sisi lemahnya seperti yang terjadi di salah satu sumur resapan di jalan Bona, Lebak Bulus beberapa waktu lalu. Namun, “politisasi” sumur resapan terhitung gagal karena warga di sekitar lokasi dan pekerja proyek di lapangan melakukan klarifikasi.

Foto: Anies Baswedan (instagram.com/aniesbaswedan)

Yang juga sulit untuk dibantah terhadap kinerja Anies adalah proyek mercusuar Anies dan penghargaan-penghargaan yang diterimanya yang berasal dari dalam dan luar negeri. Jakarta International Stadium (JIS) misalnya adalah salah satu proyek yang cukup menyita perhatian karena diklaim sebagai salah satu stadion terbaik dunia saat ini. Demikan juga penghargaan dan apresiasi kepada kerja Anies telah menjadi “jualan” pendukung Anies untuk mencari dukungan.

Meski tidak terlalu ramai di media konvensional tetapi para netizen menyebarkan semua penghargaan itu di media sosial. Anies pun sudah membuat channel Youtube sendiri yang disebutnya sebagai upaya untuk membuat saluran informasi yang lebih lengkap terhadap apa yang dikerjakannya.

Elektabilitas Anies memang melaju, tetapi banyak yang menyayangkan dia tidak memiliki partai yang akan menjadi perahu yang akan membawanya menuju 2024. Demikian juga dengan masa jabatannya yang akan berakhir di 2022 mendatang dinilai akan mempersempit ruang geraknya bermanuver untuk mempertahankan elektabilitasnya.

Boleh jadi Anies tidak memiliki perahu tetapi sangat mungkin pemilik kapal akan menawarkannya untuk berlayar bersama seperti ketika dia terpilih menjadi gubernur dulu. Demikian juga ruang sempit setelah jabatan gubernur berakhir sangat mungkin membuat Anis makin fokus dan lari kencang. Kita tunggu saja, apa aksi Anies selanjutnya melewati ruang sempit itu hingga ia sampai ke pulau tujuannya. (Aswan AS)

- Advertisement -spot_img

You might also likeRELATED
Recommended to you