lifestyle

Apa itu Doomjobbing? Fenomena Baru yang Menghantui Pencari Kerja

Penulis Ashila Syifaa
May 09, 2026
Ilustrasi perempuan yang sedang doomjobbing. (Foto: Magnific/pressfoto)
Ilustrasi perempuan yang sedang doomjobbing. (Foto: Magnific/pressfoto)

ThePhrase.id  - Bagi sebagian besar pencari kerja, rasa cemas sering kali muncul saat menunggu kabar setelah melamar pekerjaan. Namun, kecemasan itu tak berhenti di situ. Ketika tak kunjung mendapat jawaban, banyak pencari kerja terus-menerus mencari lowongan baru. Kondisi inilah yang kerap dikaitkan dengan fenomena doomjobbing.

Doomjobbing merupakan fenomena yang terjadi di tengah kondisi lapangan pekerjaan yang tidak stabil. Istilah ini merupakan gabungan dari kata “doom” yang berarti rasa khawatir atau pesimistis dan “jobbing” yang berkaitan dengan pekerjaan.

Doomjobbing dapat menjadi siklus toxic terhadap kesehatan mental diri sendiri, seperti terus datang ke kantor untuk melakukan pekerjaan yang dirasa tidak berkembang, terus mencari daftar lowongan terbaru, hingga terus-menerus melamar pekerjaan sampai jumlahnya tak terhitung. Namun, secara tidak langsung, mereka memahami bahwa hasil yang didapat belum tentu akan membaik.

Fenomena ini didorong oleh kondisi lapangan pekerjaan yang tidak stabil, terutama dengan berkembangnya artificial intelligence (AI), semakin ketatnya proses perekrutan, serta persaingan kerja yang semakin tinggi. Kondisi tersebut membuat banyak orang merasa harus selalu mencari peluang baru demi mendapatkan rasa aman dalam karier mereka.

Direktur Bakat Avature, Dan Kejsefman, menjelaskan bahwa doomjobbing merupakan upaya yang salah arah dan dipicu oleh kecemasan. Fenomena ini menggambarkan bagaimana rasa cemas dapat mengambil alih proses pencarian kerja. Terutama ketika seseorang mengalami PHK, rasa terburu-buru memang wajar muncul. Namun, dorongan tersebut dapat berubah menjadi aktivitas tanpa henti yang hanya menciptakan ilusi kemajuan tanpa benar-benar meningkatkan peluang kesuksesan.

Namun, menurut Forbes, fenomena ini bukan hanya permasalah lapangan pekerjaan tetapi juga berkaitan dengan cara seseorang merespons tekanan dan ketidakpastian. Ketika seseorang terus membayangkan kemungkinan terburuk, mereka cenderung bertindak secara reaktif. Alih-alih mengambil keputusan secara terarah, mereka justru mencoba melawan rasa tidak pasti dengan terus melakukan berbagai aktivitas tanpa henti.

Dalam kondisi ini, seseorang bukan hanya merespons kerasnya persaingan kerja, tetapi juga mulai menyerap tekanan tersebut secara emosional. Permasalahannya bukan terletak pada kurangnya usaha, melainkan usaha yang dilakukan tanpa arah dan strategi yang jelas.

Cara Mengatasi Doomjobbing

Untuk mengatasi doomjobbing seseorang tak harus bekerja lebih keras, melainkan lebih terarah dalam menggunakan waktu dan energi. Dimulai dari memahami kebutuhan industri, keterampilan yang paling dibutuhkan perusahaan, hingga celah talenta yang sedang dicari di pasar kerja. Dengan cara tersebut, proses mencari kerja dapat berubah dari sekadar reaktif menjadi lebih strategis dan efektif. 

Selain itu, membangun portofolio keterampilan yang relevan, memperluas jaringan profesional, serta terus mengasah kemampuan menulis CV dan wawancara kerja juga dinilai dapat meningkatkan peluang diterima bekerja.

Di tengah perubahan dunia kerja yang semakin dinamis, pencari kerja juga dituntut memiliki pola pikir adaptif dan terus berkembang. Karier kini dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti kondisi industri dan perkembangan teknologi. Karena itu, investasi terhadap pengembangan diri, pendidikan berkelanjutan, dan peningkatan keterampilan menjadi langkah penting untuk keluar dari siklus doomjobbing. [Syifaa]

Tags Terkait

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic