
ThePhrase.id - Flirting atau menggoda merupakan salah satu cara yang sering dilakukan untuk menunjukkan ketertarikan kepada seseorang. Namun, tidak semua orang nyaman mengungkapkannya secara langsung. Dari sinilah muncul istilah micro-flirting, yaitu bentuk flirting yang lebih aman dan low-key untuk menunjukkan rasa ketertarikan.
Lalu apa perbedaan flirting dan micro-flirting?
Micro-flirting adalah bentuk flirting dengan pendekatan yang lebih hati-hati berdasarkan pada makna tersirat dan bahasa tubuh. Dalam bahasa lain, micro-flirting merupakan salah satu cara untuk menyampaikan ketertarikan tanpa terlihat terlalu jelas dan agresif.
Menurut Tanya Dmitrieva, therapist bersertifikat dan co-founder platform wellness Deep, micro-flirting dapat terjadi di berbagai skenario, seperti tempat kerja atau pertemuan sosial yang terwujud melalui tanda-tanda perhatian dan ketertarikan yang sangat hati-hati. Selain itu, perilaku ini juga bagian dari upaya membangun koneksi tanpa melewati batasan. Sehingga menciptakan suasana yang nyaman untuk berkomunikasi.
Menurutnya, micro-flirting dapat terwujud melalui berbagai bentuk mulai dari kata-kata maupun isyarat tubuh. Isyarat nonverbal yang dapat termasuk dalam micro-flirting, antara lain adalah tersenyum, menyentuh rambut, atau berdiri dekat saat berbicara. Sementara itu, bentuk verbalnya dapat dilihat dari pujian hingga menanyakan minat.
Melansir Very Well Mind, pendekatan yang dilakukan secara diam-diam dan halus ini mencegah adanya kecanggungan tanpa harus melewati batasan ruang personal. Tak hanya itu, perilaku ini juga dapat memperkuat koneksi dan hubungan dengan seseorang karena telah membangun ruang untuk menunjukkan bahwa ada ketertarikan dan kepedulian.
Tanya Dmitrieva juga mengungkapkan bahwa micro-flirting adalah sikap proaktif untuk mengekspresikan simpati dan minat terhadap seseorang secara halus, sambil tetap menjaga standar komunikasi yang etis.
Hal ini juga merupakan bentuk pereda stres saat membangun hubungan dengan seseorang. Sebab, micro-flirting mencegah adanya kekhawatiran akan penolakan, serta menjaga perilaku yang tetap selaras dengan batasan orang lain. Secara bertahap, hal ini akan membangun kepercayaan diri dalam kemampuan seseorang untuk berinteraksi.
Meskipun begitu, micro-flirting juga tidak lepas dari tantangan. Karena dilakukan secara samar dan tidak terlalu jelas, isyarat ini sering kali dianggap ambigu sehingga mudah disalahartikan oleh orang lain.
Selain itu, meskipun dilakukan secara halus, micro-flirting tetap memiliki risiko penolakan seperti bentuk flirting pada umumnya. Ketika seseorang berhasil menangkap sinyal ketertarikan yang diberikan, bukan berarti perasaan tersebut akan terbalas. Karena itu, penting untuk mampu membaca respons dan umpan balik dari lawan bicara agar tidak salah menafsirkan situasi.
Jika seseorang memberikan respons yang kurang antusias atau tidak menunjukkan ketertarikan yang sama, batasan tersebut perlu dihormati. Para ahli menekankan bahwa micro-flirting sebaiknya tetap dilakukan dengan mempertimbangkan konteks dan lingkungan sekitar. Sehingga penting untuk menjaga keseimbangan antara menunjukkan ketertarikan dan menghormati batasan orang lain menjadi kunci utama dalam melakukan micro-flirting. [Syifaa]