lifestyle

Apa Itu Sleep Training dan Apakah Berbahaya Bagi Anak?

Penulis Nadira Sekar
Apr 19, 2026
Foto: Ilustrasi Sleep Training (freepik.com | Image by jcomp)
Foto: Ilustrasi Sleep Training (freepik.com | Image by jcomp)

ThePhrase.id - Dalam beberapa tahun terakhir, istilah sleep training semakin populer di kalangan orang tua. Metode ini bertujuan melatih bayi agar dapat tidur sendiri tanpa harus digendong atau ditenangkan oleh orang tua setiap kali terbangun.

Namun, di balik manfaatnya, muncul pertanyaan: apakah sleep training benar-benar aman, atau justru berisiko bagi anak?

Apa Itu Sleep Training?

Secara sederhana, sleep training adalah proses mengajarkan bayi untuk tidur mandiri dan menenangkan diri ketika terbangun di malam hari. Biasanya metode ini mulai diterapkan pada usia 4–6 bulan, saat ritme sirkadian atau jam biologis bayi mulai terbentuk.

Pada tahun pertama, bayi membutuhkan sekitar 9–12 jam tidur per hari (termasuk tidur siang). Sleep training membantu bayi lebih banyak tidur di malam hari, sehingga orang tua juga bisa beristirahat dengan lebih baik.

Manfaat Sleep Training

Jika dilakukan dengan tepat, sleep training dapat memberikan berbagai manfaat:

  • Untuk bayi: tidur lebih cepat, lebih pulas, jarang terbangun, serta belajar menenangkan diri.
  • Untuk orang tua: kualitas tidur meningkat, rasa lelah berkurang, suasana hati lebih stabil.

Metode Sleep Training

Tidak ada satu metode yang cocok untuk semua anak. Beberapa pendekatan yang umum digunakan antara lain:

  • Cry It Out: membiarkan bayi menangis sejenak sebelum ditenangkan.
  • Ferber Method: menenangkan bayi secara bertahap dengan interval waktu tertentu.
  • Camping Out: orang tua tetap berada di kamar hingga bayi terbiasa tidur sendiri.
  • Gentle Sleep Training: pendekatan lebih lembut dengan respons cepat terhadap tangisan bayi.

Setiap metode memiliki tingkat respons berbeda, sehingga orang tua perlu menyesuaikan dengan kondisi anak dan kenyamanan keluarga.

Apakah Ada Risiko?

Di tengah popularitasnya, muncul kekhawatiran soal keamanan sleep training, terutama setelah beredar kabar bayi yang meninggal dunia usai menangis dalam waktu lama saat proses tersebut. 

Menanggapi hal ini, Ikatan Dokter Anak Indonesia mengingatkan agar orang tua tidak menerapkan sleep training secara sembarangan atau karena mengikuti tren. Ketua Pengurus Pusat IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, menekankan bahwa tidak ada metode tidur yang seragam untuk semua anak. Ia juga menyebut sleep training tidak boleh dilakukan terlalu ketat, terutama pada bayi di bawah tiga tahun.

Menurutnya, orang tua harus memastikan anak dalam kondisi sehat sebelum memulai sleep training dan segera menghentikan metode jika bayi menangis terlalu lama atau terlihat stres. Ia juga menyarankan pemantauan berkala, misalnya menggunakan kamera pengawas, agar bayi tetap terpantau. 

Pandangan serupa disampaikan oleh dokter dari Unit Kerja Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI Jaya, Tuti Rahayu. Ia menegaskan bahwa tangisan bayi merupakan sinyal kebutuhan, seperti popok basah, lapar, atau merasa tidak nyaman. Membiarkan bayi menangis terlalu lama dapat membuatnya kelelahan dan berpotensi meningkatkan risiko tertentu. Selain itu, lingkungan tidur juga perlu diperhatikan, seperti menghindari kasur terlalu empuk, bantal tebal, atau banyak boneka yang dapat mengganggu pernapasan bayi.

Dengan demikian, sleep training bukanlah metode yang berbahaya jika dilakukan dengan tepat dan penuh pengawasan. Kunci utamanya adalah memahami kesiapan anak, memilih metode yang sesuai, serta tetap responsif terhadap kebutuhan bayi. [nadira]

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic