lifestyle

Apa itu Soft Living Era? Tren Gaya Hidup yang Mengutamakan Ketenangan

Penulis Ashila Syifaa
Jan 03, 2026
Ilustrasi soft living. (Foto: Freepik.com)
Ilustrasi soft living. (Foto: Freepik.com)

ThePhrase.id – Di era digital yang serba cepat dengan gaya hidup yang semakin menuntut, mulai dari pekerjaan, materialisme, hingga kewajiban sosial, banyak orang mengalami burnout. Di tengah kondisi tersebut, muncul tren gaya hidup yang menolak hustle culture dan memilih soft living, yakni pendekatan hidup yang lebih mengutamakan ketenangan dan kesejahteraan diri.

Soft living atau yang sering dikenal sebagai soft life merupakan gerakan perubahan gaya hidup yang menolak budaya kerja berlebihan, ambisi kosong, dan tekanan materialisme. 

Dengan menerapkan konsep gaya hidup soft living seseorang menempatkan kesehatan mental, kesejahteraan fisik, dan kebahagiaan personal sebagai prioritas utama. Dalam kata lain, soft living tak hanya mementingkan produktivitas tanpa henti atau pencapaian karier semata.

Soft living lahir dari kekecewaan, terutama di kalangan milenial dan Gen Z, terhadap janji bahwa kerja keras akan otomatis berujung pada stabilitas finansial, kepemilikan rumah, dan hidup yang sejahtera, janji yang kini semakin sulit tercapai di tengah krisis biaya hidup dan ketidakpastian ekonomi.

Dalam soft living, kesuksesan tidak lagi diukur dari jabatan, gaji, atau kesibukan, melainkan dari seberapa selaras hidup seseorang dengan kebutuhan tubuh, pikiran, dan nilai pribadinya. Bekerja tetap penting, tetapi hanya sejauh cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar dan memberi ruang bagi hal-hal yang bermakna, seperti relasi, kreativitas, istirahat, dan waktu untuk diri sendiri.

Cara menerapkan soft living dimulai dengan mengubah cara pandang terhadap kerja dan nilai diri. Pertama, menetapkan batas yang jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, termasuk berani menolak jam kerja berlebihan dan tidak merasa bersalah saat beristirahat.

Kedua, memilih pekerjaan atau pola kerja yang lebih rendah stres, misalnya pekerjaan dengan jam fleksibel, kerja jarak jauh, atau peran yang “cukup” untuk hidup layak meski tidak prestisius. Ketiga, melakukan audit prioritas: menentukan hal-hal yang benar-benar tidak bisa ditawar, seperti waktu bersama keluarga, kesehatan, atau aktivitas yang memberi ketenangan, lalu memperlakukannya sebagai komitmen penting.

Soft living juga berarti menerima bahwa tidak harus unggul di semua aspek kehidupan. Cukup fokus pada satu atau dua peran yang paling bermakna, dan berdamai dengan mediokritas di bidang lain. Praktik perawatan diri, seperti berjalan di alam, meditasi, atau menekuni hobi kreatif, dipandang bukan sebagai kemewahan, melainkan bentuk menjaga diri. Pada akhirnya, soft living melihat “kelembutan” bukan sebagai kelemahan, melainkan sebagai kekuatan untuk bertahan dan hidup lebih utuh di tengah sistem yang menuntut terlalu banyak. [Syifaa]

Artikel Pilihan ThePhrase

- Advertisement -
 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic