
ThePhrase.id - Pernahkah kamu melihat seseorang yang berprestasi, sukses, dan menonjol justru diabaikan, dikritik, bahkan diremehkan oleh lingkungannya? Fenomena ini dikenal sebagai tall poppy syndrome, sebuah kondisi ketika individu yang “tumbuh lebih tinggi” justru berusaha “dipotong” agar tidak terlihat berbeda atau melampaui yang lain.
Tall poppy syndrome merupakan kondisi yang tumbuh di lingkungan yang menjujung tinggi kesetaraan. Istilah ini menggambarkan sikap masyarakat yang cenderung merendahkan, mengkritik, atau menjatuhkan individu yang dianggap terlalu menonjol atau berprestasi dibandingkan lingkungan sekitarnya.
Fenomena ini dianalogikan seperti bunga poppy yang tumbuh lebih tinggi dari yang lain dan kemudian “dipotong” agar sejajar. Dalam konteks sosial, individu yang berprestasi sering kali menjadi sasaran komentar negatif, kecemburuan, hingga upaya untuk mengecilkan capaian mereka.
Tall poppy syndrome dapat muncul di berbagai lingkungan, mulai dari sekolah, tempat kerja, hingga media sosial. Di dunia pendidikan, siswa berprestasi tak jarang dicap “terlalu ambisius” atau “cari perhatian”. Sementara di lingkungan kerja, karyawan dengan kinerja unggul bisa dianggap sebagai ancaman oleh rekan sejawat, sehingga menghadapi sikap tidak suportif.
Psikolog menilai fenomena ini berkaitan erat dengan rasa iri, ketidakamanan diri, serta norma sosial yang menuntut keseragaman. Dalam masyarakat kolektif, individu yang terlalu menonjol kerap dianggap melanggar nilai kebersamaan, meski prestasi yang diraih merupakan hasil kerja keras dan kompetensi.
Dampaknya tidak bisa dianggap sepele. Korban tall poppy syndrome berisiko mengalami penurunan kepercayaan diri, tekanan mental, bahkan memilih untuk meredam potensi diri demi diterima lingkungan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menghambat inovasi, produktivitas, serta kemajuan suatu komunitas atau organisasi.
Para ahli menekankan pentingnya membangun budaya yang menghargai prestasi tanpa memicu persaingan tidak sehat. Dukungan sosial, empati, serta pengakuan yang adil terhadap capaian individu dinilai mampu menekan munculnya tall poppy syndrome.
Menghargai keberhasilan orang lain bukan berarti merendahkan diri sendiri. Sebaliknya, sikap saling mendukung justru dapat menciptakan lingkungan yang sehat, kompetitif secara positif, dan mendorong setiap individu untuk berkembang secara optimal. [Syfiaa]