
ThePhrase.id – Pernah menerima pujian yang awalnya terdengar menyenangkan, tetapi setelah dipikir-pikir justru terasa seperti sindiran? Misalnya, "Kamu berani juga ngajuin ide itu di rapat, aku kira kamu orangnya pendiam," atau "Sekarang kurusan ya, dulu kan jauh lebih berisi."
Kalimat-kalimat tersebut mungkin terdengar seperti apresiasi, tetapi sering kali meninggalkan perasaan tidak nyaman bagi orang yang menerimanya.
Fenomena seperti ini dikenal sebagai backhanded compliment atau pujian terselubung. Backhanded compliment merupakan pujian yang di dalamnya mengandung kritik, sindiran, atau komentar yang merendahkan. Kamus Merriam-Webster mendefinisikannya sebagai pujian yang sebenarnya menyiratkan bahwa pujian tersebut bukanlah pujian sama sekali.
Sekilas, kalimat semacam ini terdengar positif karena diawali dengan apresiasi. Namun di baliknya terdapat pesan lain yang dapat membuat penerima pujian merasa diremehkan. Tak heran jika banyak orang baru menyadari bahwa mereka sedang disindir beberapa saat setelah percakapan berakhir.
Backhanded compliment bisa muncul di mana saja, mulai dari lingkungan keluarga, pertemanan, hingga tempat kerja. Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin sering mendengar kalimat pujian yang justru menyoroti kekurangan seseorang, seperti, "Nah gini dong, sekali-kali pakai makeup biar nggak kelihatan kucel".
Sementara itu, di lingkungan kerja, backhanded compliment biasanya disampaikan dengan lebih halus dan dikaitkan dengan kemampuan atau kinerja seseorang. Contohnya, "Wah, presentasimu bagus banget hari ini. Biasanya kan kamu suka gugup".
Meski terdengar mengakui pencapaian seseorang, kalimat tersebut secara tidak langsung juga meragukan kemampuan yang dimilikinya. Akibatnya, pujian yang seharusnya membangun justru terasa menjatuhkan.
Lalu, mengapa seseorang melakukan backhanded compliment?
Menurut berbagai penelitian dan pengamatan psikologis, motivasinya bisa beragam. Ada yang melakukannya tanpa sadar karena terbiasa berkomunikasi secara sarkastik. Namun, ada juga yang terdorong akan rasa iri, merasa terancam atas keberhasilan orang lain, ingin terlihat lebih hebat, atau bahkan sengaja menjadikannya sebagai bentuk perundungan terselubung.
Pujian semacam ini sering dianggap sebagai candaan maupun bentuk keakraban, sehingga pelaku mungkin tidak menyadari bahwa ucapannya justru menyakitkan. Bagi penerima, komentar tersebut justru dapat memicu rasa tidak percaya diri, overthinking, hingga membuat hubungan menjadi kurang nyaman.
Tak bisa dianggap sepele, apabila backhanded compliment diberikan secara berulang kali dapat membuat seseorang mulai meragukan kemampuannya sendiri, merasa tidak cukup baik, hingga kehilangan kepercayaan diri. Di lingkungan kerja, hal ini bahkan dapat memengaruhi semangat kerja dan kualitas hubungan antarrekan.
Oleh karena itu, penting untuk lebih berhati-hatilah saat memberikan apresiasi terhadap orang lain. Pujilah dengan tulus tanpa tanpa menyisipkan perbandingan, kritik, atau komentar yang merendahkan. Pada akhirnya, pujian yang baik adalah pujian yang membuat orang lain merasa dihargai, bukan yang membuat mereka mempertanyakan diri sendiri. [fa]