lifestyleCoffee

Bagaimana Kafein Bekerja dalam Tubuh? Cek Faktanya!

Penulis Firda Ayu
Dec 11, 2023
Kafein (Foto: Canva/Yuliia Chyzhevska dan Homegrounds)
Kafein (Foto: Canva/Yuliia Chyzhevska dan Homegrounds)

ThePhrase.id - Kafein yang banyak ditemukan dalam kopi, teh, dan beberapa minuman bersoda telah menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup sehari-hari bagi banyak orang. 

Memulai hari dengan secangkir minuman berkafein dapat memberikan dorongan energi hingga menstimulasi sistem saraf pusat. Namun, bagaimana sebenarnya kafein bekerja di dalam tubuh kita?

Kafein termasuk dalam kelompok senyawa kimia yang disebut xanthine, yang ditemukan secara alami dalam tanaman seperti biji kopi, daun teh, dan biji kakao. Kafein murni berbentuk bubuk putih dengan rasa yang pahit.

Kandungan kafein tidak hanya terbatas pada kopi dan teh, tetapi juga pada cokelat, minuman energi, dan minuman ringan bersoda. Bahkan terdapat beberapa obat pusing maupun demam yang mengandung kafein untuk meningkatkan efektivitas obat. 

Saat dikonsumsi, kafein dapat dengan cepat diserap oleh saluran pencernaan, mencapai aliran darah kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Cara kerja kafein dalam tubuh adalah dengan memblokir aksi adenosin, senyawa yang berperan dalam proses penurunan energi dan merangsang rasa kantuk di tubuh.

Bagaimana Kafein Bekerja dalam Tubuh  Cek Faktanya
Kafein (Foto: Canva/vasiliybudarinphotos)

Kafein berperan sebagai antagonis adenosin, menghambat reseptor adenosin dan mencegahnya memberikan sinyal penurunan aktivitas saraf. Hasilnya, individu yang mengonsumsi kafein mengalami peningkatan tingkat kewaspadaan dan energi.

Selain meningkatkan kewaspadaan, kafein juga meningkatkan pelepasan neurotransmitter seperti dopamine dan norepinefrin. Hal ini menyebabkan peningkatan mood dan peningkatan tingkat energi. Efek ini membuat banyak orang mengonsumsi kafein untuk membantu meningkatkan konsentrasi, fokus, dan daya tahan.

American Academy of Sleep Medicine menyebut bahwa efek kafein bekerja sebanyak dua kali. Setengah bekerja dengan jangka waktu mencapai lima jam, sementara setengahnya dapat bertahan lebih lama dari 5 jam. 

Sebagai contoh, pada konsumsi kafein sebanyak 10 mg, maka setelah lima jam kalian masih memiliki kandungan 5 mg kafein dalam tubuh. Efek dari kafein mencapai puncaknya dalam 30 hingga 60 menit setelah dikonsumsi. Waktu puncak ini membuat sebagian besar orang merasakan efek “gemetar” dari kafein.

Selain itu, efek diuretik ringan dari kafein juga bisa membuat kalian buang air kecil dengan frekuensi lebih sering dibanding biasanya. Bagi orang dengan sensitivitas terhadap kafein, efek dari senyawa ini mungkin terasa selama beberapa jam atau bahkan beberapa hari setelah mengonsumsinya. 

Masa penyerapan kafein yang cukup lama dalam tubuh ini membuat American Academy of Sleep Medicine menyarankan konsumsi kafein setidaknya enam jam sebelum tidur. Apabila jam tidur kalian umumnya pada pukul 22.00, maka sebaiknya konsumsi kafein terakhir tidak lebih dari pukul 16.00.

Meski memiliki berbagai efek positif, konsumsi kafein juga dapat berefek negatif apabila dikonsumsi dengan dosis berlebih. Efek samping tersebut mulai dari diare, peningkatan denyut jantung, mengganggu pola tidur, tegang dan cemas, mual, asam lambung, hingga ketergantungan.

Untuk menghindari efek samping ini, kafein dapat dikonsumsi dengan dosis maksimal 400 mg per hari dan perlu disesuaikan dengan tingkat sensitivitas masing-masing individu. [fa]

 
Related News

Popular News

 

News Topic