
ThePhrase.id - Batik tidak hanya berkembang dalam budaya Jawa, tetapi juga menjadi medium pelestarian budaya di berbagai daerah. Dalam budaya Betawi, salah satu wujudnya adalah Batik Betawi Sukapura yang mengangkat dan merepresentasikan kekayaan lokal khas masyarakat Betawi.
Batik Betawi Sukapura lahir dari kampung budaya Betawi Sukapura yang terletak di Cilincing, Jakarta Utara. Selama dua tahun, masyarakat setempat bersama Yayasan Kampung Budaya Betawi Sukapura dan tokoh Betawi se-Jabodetabek berupaya untuk melestarikan budaya dengan kegiatan seperti pelatihan budaya Betawi bagi generasi muda.
“Kami sangat fokus pada pelestarian budaya Betawi. Ke depan, kami juga berencana membangun pendopo di sisi timur serta menghadirkan perpustakaan sebagai pusat literasi budaya,” jelas Ketua Yayasan Kampung Budaya Betawi Sukapura, Yusriah Dzinnun, melansir ruangkota.com.
Salah satu bentuk pelestarian budaya tersebut adalah produk Batik Betawi Sukapura yang mengangkat motif dari lingkungan sekitar, seperti daun kelor, daun jarak, sayur asam, hingga ayam-ayaman.
Motif-motif yang diangkat mencerminkan kondisi kehidupan dan budaya masyarakat Betawi yang telah ada sejak dahulu. Khususnya motif ayam-ayaman merupakan gambaran kondisi Jakarta Utara pada masa lalu yang didominasi oleh rawa dan hutan mangrove.
Ayam-ayaman merupakan burung air yang menjadikan kawasan pesisir sebagai habitatnya, sehingga motif tersebut memuat narasi sejarah ekologis wilayah. Tak hanya itu, burung seperti ayam-ayaman, bebek, entok, hingga ayam juga menjadi bahan pokok untuk memenuhi kebutuhan makan karena mudah ditemukan di kawasan tersebut. Sehingga, motif ini juga mencerminkan hidangan khas Betawi yang menggunakan bebek dan entok.
“Makanya di Utara itu ada kuliner khas Betawi yang namanya oblok yang menggunakan bebek dan mentok,” ucap Yusriah, melansir intime.id.
Batik ini kemudian diluncurkan pada Jumat (10/4) yang dihadiri oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno dan dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan seni khas Betawi seperti gambang kromong, tari ondel-ondel, serta fashion show Batik Betawi Sukapura.
Dengan munculnya kreativitas dari masyarakat lokal, Rano menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk terus mendukung pengembangan kebudayaan Betawi.
Rano juga berharap kegiatan seperti pelatihan dan membatik ini dapat menjadi sumber untuk meningkatkan perekonomian masyarakat lokal. Ia menambahkan bahwa harapannya, para ibu pengrajin batik di Kampung Budaya Betawi Sukapura ini bisa membuat reaksi motif batik edisi usia 500 tahun Kota Jakarta pada 2027 mendatang. [Syifaa]