regionalBatik

Batik Kaganga, Kearifan Lokal yang Jadi Peluang Usaha bagi Masyarakat Rejang Lebong

Penulis Ashila Syifaa
Apr 06, 2026
Batik motif Kanganga. (Foto: dlh.bengkulukota.go.id)
Batik motif Kanganga. (Foto: dlh.bengkulukota.go.id)

ThePhrase.id - Di tengah tumbuhnya sektor ekonomi kreatif, potensi budaya lokal kini semakin dilirik sebagai sumber penggerak usaha masyarakat. Berbagai pelaku usaha mikro mulai memanfaatkan kekayaan tradisi daerah untuk menciptakan produk yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga memiliki makna kultural yang kuat.

Pengembangan industri kreatif berbasis kearifan lokal turut membuka peluang lebih luas bagi masyarakat untuk terlibat, baik dalam proses produksi maupun dalam rantai ekonomi yang terbentuk. Salah satu bidang yang mengalami perkembangan pesat adalah kerajinan batik, yang kini tidak lagi terpusat di daerah tertentu, melainkan berkembang di berbagai wilayah dengan karakteristik unik masing-masing.

Di Provinsi Bengkulu, batik menjadi salah satu medium pelestarian budaya sekaligus identitas daerah. Kabupaten Rejang Lebong, misalnya, mengembangkan motif batik yang terinspirasi dari Aksara Kaganga, sebuah aksara tradisional milik Suku Rejang yang sarat nilai historis dan filosofis.

Aksara Kaganga telah lama dikenal sebagai sistem tulisan masyarakat di wilayah Sumatra bagian selatan. Hingga kini, keberadaannya masih dipertahankan, terutama dalam kegiatan adat dan tradisi. Selain berfungsi sebagai alat komunikasi pada masa lalu, aksara ini juga menjadi simbol identitas budaya yang diwariskan lintas generasi.

Sejumlah penelitian sejak era kolonial mencatat eksistensi aksara tersebut. Dalam perkembangannya, istilah Kaganga digunakan untuk merujuk pada aksara tradisional ini, yang diambil dari tiga huruf awal dalam susunannya. Penamaan tersebut kemudian disepakati oleh para tokoh adat di Bengkulu dan kini diakui sebagai bagian dari warisan budaya daerah.

Pemanfaatan Aksara Kaganga tidak hanya terbatas pada ranah budaya, tetapi juga mulai diadaptasi dalam produk kreatif seperti batik. Dari sinilah muncul berbagai inisiatif masyarakat untuk mengembangkan usaha berbasis budaya lokal.

Salah satu pelaku yang mengembangkan potensi tersebut adalah Ely Dewa, seorang Aparatur Sipil Negara sekaligus istri prajurit TNI AD di Rejang Lebong. Ia melihat adanya peluang untuk memberdayakan masyarakat sekitar, khususnya para ibu rumah tangga yang memiliki waktu dan keterampilan, namun belum memiliki wadah produktif.

Berangkat dari kepedulian tersebut, Ely mendirikan usaha batik bernama Batik ChaCha Mentari. Usaha ini kemudian berkembang menjadi ruang pemberdayaan bagi perempuan di lingkungannya untuk meningkatkan keterampilan sekaligus memperoleh penghasilan tambahan.

Dalam proses produksinya, Batik ChaCha Mentari menghadirkan motif yang memadukan Aksara Kaganga dengan unsur khas Bengkulu, seperti bunga rafflesia, kopi, dan rempah-rempah lokal. Kombinasi tersebut menghasilkan desain yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga merepresentasikan kekayaan alam dan budaya daerah.

Pembuatan batik dilakukan dengan teknik tradisional menggunakan canting dan malam, yang membutuhkan ketelitian serta waktu pengerjaan yang cukup lama. Selain itu, sebagian produksi juga memanfaatkan teknik cap yang tetap dikombinasikan dengan sentuhan manual.

Dalam sebulan, usaha ini mampu menghasilkan puluhan lembar kain batik dengan variasi motif yang terus dikembangkan. Kegiatan produksi tersebut turut membuka peluang kerja dan memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat sekitar yang terlibat.

Dukungan terhadap pengembangan usaha ini juga datang dari organisasi Persit Kartika Chandra Kirana melalui program pemberdayaan UMKM. Program tersebut memberikan pembinaan, pendampingan, serta kesempatan promosi bagi pelaku usaha untuk memperluas jangkauan pasar.

Keikutsertaan Batik ChaCha Mentari dalam program tersebut menjadi langkah penting dalam memperkenalkan produk ke pasar yang lebih luas. Selain itu, dukungan ini juga mendorong para pelaku usaha untuk terus berinovasi dan meningkatkan kualitas produk.

Keberadaan Batik ChaCha Mentari tidak hanya berdampak pada aspek ekonomi, tetapi juga memberikan kontribusi dalam pelestarian budaya lokal. Melalui motif yang diangkat, batik ini menjadi media untuk memperkenalkan Aksara Kaganga kepada masyarakat yang lebih luas.

Di sisi lain, keterlibatan masyarakat dalam proses produksi turut meningkatkan keterampilan dan kepercayaan diri para pengrajin. Aktivitas ini juga membuka peluang bagi generasi muda untuk tetap produktif tanpa harus meninggalkan daerah asalnya.

Dengan menggabungkan nilai budaya dan kreativitas, Batik ChaCha Mentari menjadi contoh bagaimana usaha mikro dapat berperan dalam memperkuat ekonomi masyarakat sekaligus menjaga warisan budaya tetap hidup di tengah perkembangan zaman. [Syifaa]

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic