ThePhrase.id - Batik Kebumen tak hanya sekadar kain bermotif yang indah, tetapi juga mencerminkan perjalanan budaya yang panjang dan kuat di Kabupaten Kebumen.
Batik Kebumen mulai dikenal di daerah ini sejak abad ke-19, ketika seni membatik yang awalnya menjadi bagian dari kebudayaan keraton diperkenalkan ke masyarakat umum, baik oleh tokoh lokal seperti Pangeran Bumidirdjo maupun oleh para pendatang dari wilayah Yogyakarta yang menyebarkan keterampilan membatiknya ke penduduk setempat di sekitar Lukolo.
Selain prosesnya yang dilakukan secara turun-temurun, batik Kebumen mempunyai keunikan tersendiri yang berbeda dari batik daerah lain. Motif batik di Kebumen tidak hanya sekadar ornamen hiasan, tetapi merupakan ungkapan kehidupan sehari-hari masyarakat setempat, dengan dominasi tema flora, fauna, dan pola geometri yang beragam.
Motif-motif khas seperti merakan (burung merak), pelataran daun-daunan, hingga sekar jagad menjadi bagian penting dari keragaman batik Kebumen. Warna yang digunakan pun cukup beragam, mulai dari cokelat, ungu, merah, biru, hingga hitam, sering kali menciptakan perpaduan yang harmonis dalam satu kain batik.
Salah satu pusat pengembangan batik yang paling terkenal adalah Desa Gemeksekti, yang terletak sekitar tiga kilometer dari pusat kota Kebumen. Desa ini kemudian ditetapkan sebagai “Kampung Batik Kebumen” oleh pemerintah daerah pada tahun 2010 karena peran pentingnya dalam melestarikan seni batik tradisional dan menggerakkan ekonomi masyarakat setempat.
Di desa tersebut, para pengrajin membatik tergabung dalam komunitas seperti Paguyuban Batik Lawet Sakti, yang tak hanya memproduksi tetapi juga mempromosikan batik Kebumen di tingkat regional, nasional, bahkan sampai ke luar negeri seperti Belgia dan Rusia.
Tradisi membatik di Gemeksekti sendiri dulunya menggunakan teknik teng-abang atau blambangan dengan cap kayu dan pewarna alami, sebelum beralih ke cap tembaga sejak awal abad ke-20. Ciri khas batik Gemeksekti adalah perpaduan gaya batik keraton Solo dan Yogyakarta dengan penggunaan warna yang cenderung gelap dan lembut, mencerminkan estetika komunitas pembatik lokal.
Kini, batik Kebumen tidak hanya menjadi simbol budaya yang kaya, tetapi juga upaya pelestarian warisan lokal. Walaupun pernah mengalami masa surut, semangat untuk mempertahankan tradisi ini terus hidup di tangan generasi penerus, terutama melalui kampung batik seperti Gemeksekti yang menjadi bukti bahwa batik bukan sekadar kain, tetapi warisan seni yang berakar kuat dalam kehidupan masyarakat Kebumen.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kebumen melalui Dekranasda terus melestarikan dan mengembangkan batik, salah satunya melalui festival Wastra Kriya Festival. Festival ini menampilkan berbagai lomba desain batik, fashion show, serta bazar produk lokal.
Bupati Kebumen Lilis Nuryani menegaskan pentingnya peran Dekranasda dalam memperkuat daya saing pelaku usaha kriya dan batik lokal.
“Dekranasda memiliki peran vital untuk mendorong perajin naik kelas — baik dari aspek kualitas, pemasaran, hingga inovasi produk. Saya bangga melihat peserta lomba yang tampil percaya diri dan kreatif memadukan batik Kebumen dengan gaya masa kini,” ujar Lilis.
Ia berharap kegiatan serupa dapat digelar lebih sering agar menjadi wadah bagi kreativitas dan potensi lokal.
“Semakin banyak ruang bagi talenta lokal, semakin kuat pula posisi Kebumen di peta industri kreatif Jawa Tengah,” tandasnya. (Syifa)