regionalBatik

Batik Petani, Karya Ibu Rumah Tangga di Sela Waktu Tak Bertani

Penulis Ashila Syifaa
Feb 02, 2026
Batik petani motif semen rante. (Foto: putralaweyan.wordpress.com)
Batik petani motif semen rante. (Foto: putralaweyan.wordpress.com)

ThePhrase.id - Batik merupakan salah satu warisan budaya Nusantara dengan beragam motif. Setiap motif memiliki makna serta simbol kehidupan. Sebagian besar motif batik diciptakan untuk menggambarkan kehidupan masyarakat dan ajaran hidup yang dianut. Salah satunya adalah batik petani, yang lahir dari karya masyarakat biasa, khususnya kalangan petani.

Pada masa kerajaan, batik merupakan busana yang memiliki pakem dan aturan tersendiri. Beberapa motif batik hanya diperbolehkan untuk digunakan oleh keluarga keraton dan kalangan bangsawan. Namun, seiring berjalannya waktu, masyarakat umum yang berprofesi sebagai pedagang maupun petani mulai berinovasi dengan menciptakan motif batik yang dapat digunakan oleh masyarakat luas tanpa adanya larangan maupun batasan.

Menurut Herry Lisbijanto penulis buku berjudul “Batik”, batik petani dibuat untuk memenuhi keinginan para petani atau masyarakat biasa agar diterima oleh masyarakat luas. 

Batik petani merupakan salah satu jenis kain batik yang lahir dari kreativitas ibu rumah tangga sedang tidak berkegiatan di sawah atau ketika memiliki waktu senggang. Batik ini juga dikenal sebagai batik pedesaan karena motifnya terinspirasi dari alam sekitar serta kehidupan sehari-hari, dan umumnya digunakan oleh masyarakat setempat.

Meskipun terinspirasi dari alam sekitar, pola batik petani tetap bersumber dari pola batik keraton yang kemudian dikombinasikan dengan ragam hias berupa flora, fauna, hingga penggambaran aktivitas bertani dan kehidupan sehari-hari.

Secara umum, batik petani memiliki tekstur yang lebih kasar dan tidak sehalus batik keraton. Berbeda dengan produksi batik lainnya, proses pembuatannya tergolong sederhana dan tidak dilakukan secara khusus seperti batik yang dipasarkan. Hal ini karena pada mulanya batik petani dibuat semata-mata untuk keperluan pribadi atau dipakai sendiri sebagai pakaian sehari-hari, bukan untuk tujuan komersial.

Batik ini dikerjakan oleh para ibu rumah tangga yang bukan perajin batik profesional, motif yang dihasilkan cenderung tampak kasar dan terbatas karena para pembuatnya hanya memiliki keterampilan dasar dalam membatik. Membatik bukanlah sumber mata pencaharian utama mereka, sehingga proses pengerjaannya dilakukan secara sederhana dengan warna seadanya.

Batik ini banyak ditemukan di Klaten, Bantul, Imogiri, Tuban, Tulungagung, hingga Indramayu. Namun seiring dengan berjalannya waktu, motif batik petani mulai dipasarkan dan berkembang dengan beragam motif yang terinspirasi dari ragam hias lainnya. Tak hanya itu, saat ini hampir semua daerah di Jawa memiliki aktivitas produksi batik petani.

Motif batik petani yang mulai dipasarkan sejalan dengan upaya pemerintah dalam melestarikan warisan budaya, terutama di Jawa Tengah (Jateng) yang menjadi sentra batik. 

Menurut data Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Kementerian Perindustrian, Jateng tercatat memiliki sebanyak 2.299 unit produsen batik. Jumlah tersebut melampaui Jawa Timur sebanyak 216 unit produsen, DIY 180 produsen, dan Jawa Barat 115 produsen batik.

Ketua Dekranasda Jateng, Nawal Arafah Yasin menyampaikan, besarnya jumlah produsen batik merupakan potensi sekaligus tantangan. “Tantangan kita hari ini, jadi literasi digital masih belum semua pelaku UMKM kita itu bisa menguasai,” kata Nawal di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kompleks Kantor Gubernur, Senin (15/12/2025), melansir jatengprov.go.id.

Pendampingan pemerintah daerah bersama berbagai pihak mulai dari peningkatan keterampilan, inovasi desain, hingga pemasaran diharapkan bisa mendukung batik lokal agar tetap lestari dan mampu bersaing di tengah perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai tradisi yang melekat di dalamnya. [Syifaa]

Tags Terkait

Artikel Pilihan ThePhrase

- Advertisement -
 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic