
ThePhrase.id - Kelompok pendukung sepak bola lintas negara, Football Supporters Europe (FSE), menyampaikan kekhawatiran serius menjelang Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Utara, di tengah meningkatnya pengerahan aparat keamanan dan kebijakan imigrasi ketat yang diterapkan pemerintah Amerika Serikat.
Kekhawatiran tersebut mencuat setelah dua warga negara Amerika Serikat dilaporkan tewas ditembak agen federal dalam rangkaian operasi pengetatan imigrasi yang digagas pemerintahan Presiden Donald Trump di Minneapolis sepanjang bulan terakhir.
Situasi semakin memicu kecemasan komunitas suporter internasional karena otoritas Amerika Serikat tidak menutup kemungkinan adanya penggerebekan oleh Immigration and Customs Enforcement (ICE) yang menargetkan imigran tidak berdokumen di sekitar lokasi pertandingan Piala Dunia.
Direktur Eksekutif FSE, Ronan Evain, menilai kondisi ini membuat para pendukung yang berniat bepergian ke Amerika Serikat berada dalam ketidakpastian yang serius terkait aturan dan perlakuan keamanan selama turnamen berlangsung.
"Pada tahap ini, para penggemar yang bepergian hampir tidak memiliki informasi mengenai apa yang diperbolehkan atau tidak diperbolehkan di venue FIFA, maupun apa yang harus mereka hadapi dari aparat kepolisian di berbagai wilayah Amerika Serikat," kata Ronan Evain dilansir BBC.
FSE juga menyoroti belum adanya kerangka kebijakan keamanan yang jelas dari FIFA menjelang turnamen, yang dinilai memperbesar ketidakpastian bagi suporter dan peserta.
"Tidak ada kejelasan mengenai apa yang diperbolehkan di stadion, siapa yang akan dikerahkan di dalam arena, serta kepolisian mana yang bertugas di lokasi tertentu," ujar Evain.
Ia menambahkan bahwa laporan mengenai belum adanya undangan resmi bagi delegasi kepolisian asing atau petugas pengamat dari negara peserta merupakan kondisi yang belum pernah terjadi dalam sejarah modern penyelenggaraan Piala Dunia dan semakin memperkuat kekhawatiran tersebut.

Menanggapi hal itu, FIFA menyatakan bahwa keselamatan dan keamanan penggemar serta seluruh pihak yang terlibat merupakan prioritas utama dan menegaskan telah bekerja sama secara intensif dengan otoritas lokal untuk merencanakan serta mengoordinasikan langkah-langkah pengamanan turnamen.
"Pemerintah Amerika Serikat akan mengundang negara peserta, kota tuan rumah, dan negara penyelenggara untuk menempatkan perwakilan penegak hukum di International Police Cooperation Center dekat Washington DC, guna memastikan koordinasi internasional yang erat dalam urusan keselamatan dan keamanan," demikian pernyataan FIFA.
FIFA juga menyampaikan bahwa beberapa kota tuan rumah dapat mengundang petugas pengamat kepolisian internasional, sementara aturan perilaku di stadion telah dipublikasikan secara daring sebagaimana pada ajang-ajang sebelumnya, serta menegaskan keyakinannya bahwa upaya kolektif tersebut akan menciptakan lingkungan turnamen yang aman dan terbuka bagi semua pihak.
Di sisi lain, pemerintahan Trump menyatakan tengah mempertimbangkan penarikan sebagian pasukan federal di Minnesota apabila terdapat kerja sama dari otoritas setempat, menyusul kematian Renee Good dan Alex Pretti yang memicu gelombang protes dan tekanan publik di berbagai wilayah Amerika Serikat.
Sejak satu tahun terakhir, pemerintah federal telah mengerahkan agen federal dan Garda Nasional ke sejumlah kota besar seperti Portland, Los Angeles, dan Chicago sebagai bagian dari janji kampanye pengetatan imigrasi, langkah yang menuai demonstrasi serta tantangan hukum dari pemerintahan daerah yang dipimpin Partai Demokrat.
Sementara itu, European Democratic Party menyatakan dapat meminta federasi sepak bola nasional untuk mempertimbangkan penarikan diri dari turnamen jika jaminan keselamatan tidak diberikan, dengan alasan meningkatnya ketidakpastian hukum, risiko kebijakan visa yang tidak transparan, serta potensi praktik invasif terhadap data pribadi dan aktivitas daring warga Eropa. (Rangga)