
ThePhrase.id - Seorang bayi berusia 28 hari di Surabaya meninggal dunia pada Minggu (11/10) setelah menjalani perawatan intensif di RSUD Dr. Soetomo. Sebelumnya, bayi berinisial A tersebut diduga diberi telur mentah oleh neneknya saat mengalami demam.
Dikutip dari Suara Surabaya, Bayi A sempat dibawa ke puskesmas sebelum dirujuk ke sebuah rumah sakit di Waru, Sidoarjo. Berdasarkan keterangan keluarga, pemeriksaan di rumah sakit menunjukkan adanya masalah serius pada usus bayi hingga memerlukan tindakan operasi.
Bayi A kemudian dirujuk ke RSUD Dr. Soetomo untuk mendapatkan perawatan intensif di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU). Humas RSUD Dr. Soetomo, Adin Niken, mengatakan bayi tersebut meninggal dunia setelah menjalani perawatan selama tiga hari.
Menurut keterangan keluarga, Bayi A sebelumnya mengalami demam. Neneknya diduga memberikan telur mentah dengan harapan dapat menurunkan demam tanpa sepengetahuan ibu bayi.
Di tengah perhatian terhadap kasus ini, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan pentingnya pemberian makanan sesuai usia, kebutuhan gizi, kesiapan perkembangan, dan keamanan pangan bayi.
Dikutip dari IDN Times, Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp Kardio(K), menyampaikan bahwa IDAI mendukung rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan UNICEF mengenai pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi.
Setelah berusia enam bulan, bayi mulai mendapatkan makanan pendamping ASI (MPASI), sementara pemberian ASI tetap dilanjutkan hingga usia dua tahun atau lebih. MPASI diberikan dengan mempertimbangkan kesiapan perkembangan bayi, sedangkan pemberian makanan pendamping sebelum usia empat bulan tidak dianjurkan.
Dengan demikian, bayi berusia 28 hari seperti Bayi A belum siap menerima MPASI, termasuk telur. Selama enam bulan pertama, bayi yang mendapatkan ASI eksklusif tidak memerlukan makanan atau minuman tambahan, kecuali atas indikasi medis dan sesuai arahan tenaga kesehatan.
Selain tidak sesuai dengan usia bayi, telur mentah atau setengah matang juga berisiko mengandung bakteri Salmonella. Bakteri ini dapat menyebabkan infeksi dengan gejala berupa diare, demam, kram perut, mual, dan muntah. Pada bayi dan anak kecil, infeksi dapat menyebabkan dehidrasi dan, dalam kasus tertentu, menyebar ke bagian tubuh lain.
Sementara itu, demam pada bayi baru lahir perlu mendapat penilaian medis, bukan ditangani dengan pemberian makanan atau ramuan yang belum terbukti aman. American Academy of Pediatrics menganjurkan orang tua segera menghubungi dokter apabila bayi berusia tiga bulan atau lebih muda memiliki suhu rektal 38 derajat Celsius atau lebih.
Orang tua dan pengasuh perlu berkonsultasi dengan dokter anak mengenai kondisi kesehatan bayi, kecukupan ASI, serta waktu dan cara pemberian makanan yang sesuai dengan tahap perkembangannya. [nadira]