
ThePhrase.id – Mekanisme penggunaan token listrik kerap kali dianggap sama dengan pulsa seluler, padahal keduanya memiliki mekanisme yang berbeda. Jika pulsa seluler berupa saldo yang bisa dipakai untuk layanan seluler, token listrik merupakan jatah energi yang akan berkurang seiring penggunaan listrik di rumah.
Artinya, yang dibeli pelanggan bukan rupiah untuk dibelanjakan, melainkan sejumlah daya listrik dalam satuan kilowatt hour (kWh) yang akan terus berkurang seiring pemakaian di rumah.
Pada sistem listrik prabayar, pelanggan membayar di awal untuk mendapatkan alokasi energi tertentu. Setiap kali listrik digunakan, meteran akan otomatis mengurangi jumlah kWh yang tersedia. Ketika angkanya habis, listrik pun ikut terputus dan pelanggan harus mengisi ulang token.
Executive Vice President Komunikasi Korporat dan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT PLN (Persero), Gregorius Adi Trianto, menjelaskan bahwa sistem ini dibuat agar pelanggan bisa mengetahui dan mengendalikan penggunaan listriknya sejak awal.
“Pada sistem prabayar, pelanggan membeli alokasi energi listrik dalam jumlah tertentu. Alokasi ini digunakan oleh seluruh peralatan listrik di rumah dan akan berkurang seiring pemakaian. Karena itu, total energi tersedia dalam satuan kilowatt hour (kWh),” jelas Gregorius melalui keterangan tertulis, Rabu (4/2/2026).
Dalam penggunaannya, listrik tidak bisa dipisahkan berdasarkan fungsi atau alat. Artinya, tidak ada pembagian khusus antara listrik untuk kulkas, lampu, atau charger ponsel. Semua mengambil dari sumber yang sama, sehingga pengurangannya dihitung dari total energi yang tersedia.
Selain itu, dalam setiap pembelian token listrik prabayar terdapat beberapa komponen yang dipotong di awal. Seperti Pajak Penerangan Jalan (PPJ) yang besarannya ditetapkan oleh pemerintah daerah, serta biaya administrasi sesuai kanal pembelian yang digunakan. Untuk transaksi dengan nominal di atas Rp5.000.000, juga dikenakan bea materai sesuai ketentuan.
Sebagai gambaran, pelanggan rumah tangga dengan daya 1.300 volt ampere (VA) yang membeli token Rp100.000 tidak akan menerima energi senilai penuh Rp100.000. Setelah dikurangi, nilai bersih yang dikonversi menjadi listrik biasanya berada di kisaran Rp90.000 hingga Rp94.000.
Dengan tarif listrik rumah tangga 1.300 VA sebesar Rp1.444,70 per kWh, jumlah tersebut setara dengan sekitar 63 hingga 65 kWh. Angka inilah yang masuk ke meteran dan perlahan berkurang setiap kali listrik digunakan.
Gregorius menambahkan, sistem token listrik prabayar ini justru memberikan kendali lebih besar kepada pelanggan. Dengan melihat sisa kWh secara langsung, pengguna bisa mengatur kebiasaan konsumsi listrik sehari-sehari, misalnya mengurangi pemakaian alat berdaya besar atau lebih hemat saat sisa energi menipis.
“Token listrik prabayar merupakan pembelian energi, bukan sekadar nominal rupiah. Seluruh perhitungannya dilakukan secara transparan dan tercatat di sistem. Sederhananya, token listrik adalah alokasi pemakaian listrik yang akan terus berkurang saat listrik digunakan,” imbuh Gregorius.
Jadi, token listrik bukanlah saldo, melainkan stok energi yang dapat digunakan. Semakin banyak peralatan menyala, maka semakin cepat pula jatahnya habis. Dengan memahami perbedaan ini, pelanggan diharapkan bisa lebih bijak merencanakan pembelian token dan menggunakan listrik secara efisien sesuai kebutuhan sehari-hari. [fa]