
ThePhrase.id - Memoar berjudul Broken Strings yang dibagikan Aurélie Moeremans secara gratis dalam bahasa Indonesia dan Inggris telah membuka ruang diskusi tentang child grooming. Kisah personal yang ia bagikan menjadi pengingat bahwa grooming bukan isu yang jauh atau jarang terjadi, melainkan ancaman nyata yang bisa hadir di lingkungan terdekat.
Apa Sebenarnya Child Grooming?
Child grooming merupakan proses manipulasi yang dilakukan orang dewasa terhadap anak atau remaja untuk membangun kedekatan emosional dengan tujuan eksploitasi. Berbeda dengan kekerasan yang terjadi secara terang-terangan, grooming berlangsung perlahan dan kerap tersamarkan sebagai perhatian, kasih sayang, atau bentuk perlindungan. Pola inilah yang membuatnya sulit dikenali, baik oleh korban maupun oleh orang-orang di sekitarnya.
Dalam banyak kasus, pelaku memanfaatkan kerentanan usia dan kondisi psikologis korban. Mereka membangun rasa aman semu, memosisikan diri sebagai sosok yang paling memahami, lalu secara bertahap mendorong korban untuk menerima dan menormalisasi perilaku yang sebenarnya tidak wajar. Proses ini bisa berlangsung lama, bahkan bertahun-tahun, sebelum akhirnya disadari sebagai bentuk kekerasan.
Child grooming juga tidak selalu melibatkan kontak fisik pada tahap awal. Manipulasi emosional, kontrol, serta upaya membatasi hubungan korban dengan keluarga dan lingkungan sekitar sering menjadi bagian dari pola yang terjadi. Korban kerap diminta untuk merahasiakan relasi tersebut, yang pada akhirnya membuat mereka semakin terisolasi dan kesulitan mencari bantuan.
Minimnya pemahaman tentang child grooming menjadi salah satu alasan mengapa banyak kasus tidak terungkap. Tanda-tanda awal sering dianggap sepele, mulai dari perubahan perilaku, ketergantungan emosional yang berlebihan pada satu figur dewasa, hingga komunikasi intens yang sengaja disembunyikan. Tanpa edukasi yang memadai, situasi seperti ini kerap dinormalisasi sebagai hubungan yang dekat atau akrab.
Penting untuk ditegaskan bahwa child grooming bukanlah kesalahan korban. Anak dan remaja berada dalam posisi yang tidak seimbang secara kuasa maupun emosi, sehingga tanggung jawab sepenuhnya berada pada pelaku. Narasi yang menyalahkan korban justru memperkuat siklus kekerasan dan membuat penyintas enggan untuk bersuara.
Melalui meningkatnya kesadaran publik, termasuk dari kisah yang dibagikan oleh figur publik seperti Aurélie Moeremans, diharapkan masyarakat dapat semakin peka terhadap bahaya child grooming. Edukasi yang berkelanjutan, komunikasi terbuka, serta keberanian untuk bertindak menjadi langkah penting dalam melindungi anak-anak dari kekerasan yang kerap tersembunyi di balik kedekatan semu. [nadira]