lifestyleHealth

Benarkah Kortisol Berdampak Buruk bagi Tubuh? Ini Faktanya!

Penulis Ashila Syifaa
Apr 11, 2026
Ilustrasi ketika kortisol sedang stabil. (Foto: Freepik.com)
Ilustrasi ketika kortisol sedang stabil. (Foto: Freepik.com)

ThePhrase.id – Belakangan ini, di media sosial khususnya TikTok, tengah ramai memperbincangkan kortisol yang dikenal sebagai hormon stres. Banyak orang mengaitkan kortisol dengan berbagai masalah, mulai dari wajah membengkak hingga peningkatan berat badan. Namun, apa sebenarnya kortisol itu?

Seiring viralnya istilah ini, tidak sedikit orang mulai menjadikan kortisol sebagai faktor utama yang harus diperhatikan secara berlebihan. Rajita Sinha, seorang ahli saraf sekaligus profesor psikiatri di Fakultas Kedokteran Yale, mengingatkan bahwa kortisol merupakan hormon yang bersifat adaptif dan dimiliki oleh setiap orang, sehingga tidak perlu terlalu khawatir terhadap naik atau turunnya kadar kortisol dalam tubuh. 

Kortisol sendiri adalah hormon yang diproduksi oleh kelenjar adrenal dan memiliki peran penting dalam membantu tubuh merespons stres, termasuk mengatur metabolisme, tekanan darah, hingga kadar gula darah. 

Senada dengan itu, David Kim, seorang dokter di New York, menjelaskan bahwa kortisol berfungsi merangsang tubuh untuk meningkatkan tekanan darah serta membantu memetabolisme lemak, karbohidrat, dan protein agar tubuh memiliki energi untuk merespons situasi yang memicu stres.

Dalam kondisi normal, kortisol justru dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan tubuh dan membantu kita tetap waspada. Masalah baru muncul ketika kadar kortisol terlalu tinggi dalam jangka waktu lama, yang umumnya dipicu oleh stres kronis, kurang tidur, pola makan tidak seimbang, hingga gaya hidup yang kurang sehat.

Kadar kortisol yang berlebih dapat memicu berbagai dampak, seperti peningkatan berat badan terutama di area perut, gangguan tidur, mudah lelah, hingga perubahan suasana hati. Meski demikian, tidak semua perubahan fisik sepenuhnya disebabkan oleh kortisol, karena banyak klaim di media sosial yang tidak didukung penjelasan medis yang utuh; misalnya, wajah membengkak bisa dipengaruhi retensi cairan, konsumsi garam berlebih, atau kondisi kesehatan tertentu. 

Rajita Sinha juga menjelaskan bahwa kadar kortisol secara alami dapat naik dan turun dalam satu hari dalam pola yang disebut siklus diurnal. Kadar kortisol biasanya meningkat di pagi hari dan menurun pada sore hingga malam hari sehingga membuat sebagian orang merasa lebih lelah. Dalam kondisi tertentu kortisol juga bisa meningkat di tengah hari akibat stres namun masih tergolong normal. 

Untuk menjaga kadar kortisol tetap stabil, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan, seperti mengelola stres dengan baik, rutin berolahraga, menjaga pola tidur yang cukup, serta mengonsumsi makanan bergizi seimbang, termasuk melakukan aktivitas relaksasi seperti meditasi atau meluangkan waktu untuk diri sendiri. [Syifaa]

Tags Terkait

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic