
ThePhrase.id - Peristiwa tanah bergerak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, masih terus terjadi. Pemerintah Kabupaten Tegal telah menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Tanah Bergerak hingga 19 Februari 2026.
Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), fenomena pergerakan tanah di Desa Padasari masih berlangsung aktif hingga Senin (9/2).
Sementara itu, tanah bergerak di Kota Semarang terjadi di Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang. Sejumlah rumah terdampak fenomena tanah gerak dan jalan penghubung antara Jangli dan kawasan Universitas Diponegoro terputus.
Menurut Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, peristiwa tanah bergerak terjadi karena fenomena “creeping” atau rayapan tanah. Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Tengah, Agus Sugiharto, menjelaskan temuan itu didapat dari hasil investigasi dan kajian di lapangan.
Ia menjelaskan, berdasarkan hasil investigasi geologi, tanah gerak yang terjadi di Tegal diakibatkan oleh “creeping” yang terjadi karena tanah jenis clay atau lempung yang terkena air merayap. Selain itu, creeping merupakan salah satu jenis pergerakan tanah yang biasanya terjadi di wilayah yang luas dan memiliki kemiringan.
Fenomena serupa juga terjadi di Watukumpul, Kabupaten Pemalang, dan Simo di Kabupaten Boyolali, serta beberapa daerah lainnya di Jawa Tengah.
Agus Sugiharto juga menjelaskan bahwa fenomena ini berbeda dengan likuifaksi yang terjadi karena pergerakan struktur tanah dan kadar air, tetapi tidak memerlukan kemiringan. Sementara itu, creeping terjadi karena faktor kemiringan.
Menurutnya, lokasi yang mengalami creeping tidak mungkin bisa dihuni lagi, sehingga pemerintah memberikan solusi untuk mencarikan lokasi baru untuk dihuni. Pemerintah sudah mencarikan tempat relokasi di dua lokasi tanah milik Perhutani Tegal, namun masih perlu dilakukan kajian secara detail, menyeluruh, dan teliti.
Hal tersebut dilakukan untuk memastikan bahwa lokasi yang diberikan atau dicanangkan untuk hunian benar-benar aman dan tidak berisiko terjadi bencana.
Imbas tanah bergerak tersebut, BNPB mencatat terdapat 2.453 jiwa mengungsi. Tim BNPB terus bersiaga di lokasi untuk melakukan pendampingan kepada pemerintah daerah setempat serta menyalurkan dukungan bantuan logistik dan makanan.
BNPB mengonfirmasi jumlah pengungsi itu terdiri atas 945 laki-laki dan 982 perempuan, termasuk kelompok rentan seperti 220 lansia, tiga ibu hamil, tiga ibu menyusui, 179 anak-anak, 40 balita, dan 65 batita.
Para pengungsi saat ini menempati delapan titik pengungsian, yakni Majelis Az Zikir wa Rotibain, Majelis dan Dukuh Pengasinan, SD Negeri 2 Padasari, Dukuh Lebak RW 05, Gedung Serbaguna Desa Penujah, Pondok Pesantren Dawuhan Padasari, Dukuh Tengah Desa Tamansari, serta Desa Mokaha di Kecamatan Jatinegara. [Syifaa]