features

Bentrok Matraman, Api yang Disulut untuk Membakar Ibukota?

Penulis Aswandi AS
Jul 29, 2026
Aparat kepolisian berjaga di lokasi sekitar pascabentrok warga di kawasan Matraman, Jakarta Pusat pada Minggu (26/07/26). (Foto: mediahub.polri.go.id)
Aparat kepolisian berjaga di lokasi sekitar pascabentrok warga di kawasan Matraman, Jakarta Pusat pada Minggu (26/07/26). (Foto: mediahub.polri.go.id)

ThePhrase.id - Bentrokan di kawasan Matraman, Jakarta Pusat antara warga setempat dengan warga Ambon di ibukota, pada Ahad 26 Juli 2026, dikhawatirkan akan melebar yang bisa menyulut  kerusuhan  yang lebih luas. Kekhawatiran ini karena rusuh di ibukota pernah terjadi  pada bulan Agustus 2025 lalu. Agustus yang semestinya menjadi bulan sakral karena ada momen ulang tahun negeri ini, justru berubah menjadi bulan kerusuhan yang diciptakan oleh pihak-pihak yang mengambil keuntungan.

Lantas siapa yang mengambil keuntungan?  Pertama, pihak-pihak yang kasus hukumnya sedang berjalan atau pihak yang keburukannya di masa lalu  sedang menjadi perbincangan publik. Mereka tidak mau kasus dan keburukannya itu terkuak yang membuat mereka dikenang sebagai orang bermasalah yang berkontribusi terhadap kerusakan negeri ini. Karena itu perlu sesuatu yang bisa mengalihkan perhatian publik agar tidak fokus dengan kasus hukum dan keburukan mereka yang sedang dikuak itu. Rusuh massa adalah pilihan yang diciptakan agar publik tidak fokus dengan masalah dan keburukan itu. Yang masuk dalam kelompok ini adalah koruptor, konglomerat hitam, aparat bobrok, politisi busuk dan lain-lain.  

Kedua, pihak asing yang tidak menginginkan Indonesia menjadi negara besar dan kuat. Karena itu perlu diganggu konsentrasi pemerintah dan warganya  agar kekayaan alam, pasar  dan ekonominya dapat terus dikuasai dengan menciptakan ketergantungan dan menghambat Indonesia menjadi bangsa mandiri.  

Sebab, untuk menjadi negara besar dan kuat, Indonesia memiliki semua modalnya, penduduk yang besar, alam yang kaya dan letak negara yang strategis.  Indonesia dalam pandangan para negara kolonialis harus tetap menjadi negara terjajah yang  lemah dan lupa dengan kekuatan sendiri.  Masyarakatnya harus dibuat bertikai diadu satu sama lain agar mereka lengah dan lupa dengan kekayaan negerinya.  Indonesia harus tetap menjadi jajahan yang dikuasai melalui skema investasi dan intervensi sistem politik dan ekonomi.  Menciptakan kerusuhan adalah bagian dari “devide et impera” atau politik pecah belah dan kuasai,  yang telah terbukti Belanda sukses menjajah Indonesia selama 3 abad lebih.

Kekhawatiran bentrok Matraman akan jadi pemantik kerusuhan massif di ibukota, karena kerusuhan massif pernah terjadi di momen Agustus tahun 2025 lalu.  Massa yang semula hanya berdemo memprotes kenaikan tunjangan anggota DPR,  meluas menjadi penjarahan dan bentrok dengan aparat keamanan di beberapa titik ibukota. Kemarahan  massa jadi membesar setelah seorang diriver ojek online,  Affan Kurniawan terlindas kendaraan taktis Brimob, di depan Gedung DPR  pada Kamis, 28 Agustus 2025.  

Fakta-fakta yang ada di lapangan  dan pengakuan mereka yang ikut dalam aksi itu menunjukkan kerusuhan itu ada aktor intelektual yang mengatur dan memasok dana serta  operator lapangan yang menggerak massa dari daerah menuju titik sasaran.

Pertanyaannya, mengapa yang diadu itu warga Matraman dengan warga Ambon di ibukota.  Kedua kelompok itu memiliki rekam jejak sebagai kelompok yang gampang dipantik dan disulut kemarahannya.

Matraman selama ini dikenal sebagai kawasan di Jakarta yang sering terjadi bentrok dengan warga Berlan di sebelahnya.  Saking seringnya bentrokan warga Matraman dan Berlan selama ini, telah menjadi rutinitas  yang dianggap warga sekitar seperti olahraga. Bentrok kerap dipicu oleh masalah sepele seperti senggolan di jalan atau rebutan lahan parkir.  Dari beberapa catatan bentrokan kedua kampung bertetangga itu disebabkan oleh seteru lama antara warga Matraman atau Palmeriam dan Berlan atau Bearland yang  berakar dari perebutan wilayah pada era kolonial dulu.

Sementara warga Ambon di ibukota sering menjadi topik berita dan perbincangan di media sosial karena kerap terlibat konflik sebagai konsekuensi dari profesi yang ditekuni mayoritas warganya.  Dan Ambon sendiri telah menjadi sebutan untuk  identifikasi warga Indonesia timur yang berasal Maluku, Sumbawa dan Nusa Tenggara Timur.  

Profesi yang paling menonjol dari warga Ambon ini adalah jasa pengamanan dan debt collector atau penagih utang. Video atau potongan tayangan ketika mereka menjalankan profesinya banyak beredar di media sosial yang membentuk citra mereka sebagai kelompok yang sering terlibat konflik.  Apalagi Ambon atau Maluku pernah tercatat sebagai wilayah konflik berdarah yang berlatar belakang SARA pada tahun 1999 lalu.  Padahal masyarakat Ambon atau Maluku  memiliki ajaran “Pela Gandong” atau hubungan saudara sedarah yang menjadi perekat semua kelompok suku dan agama di wilayah itu. Konflik yang menelan ribuan jiwa yang diyakini ada aktor intelektual yang me-remote dan menggerakkan konflik itu untuk tujuan politik tertentu.

Dari latar belakang dan rekam jejak kedua kelompok masyarakat ini, diduga dijadikan dasar dan  alasan untuk memilih tempat dan pihak  potensial menyulut api konflik itu. Pilihan waktu di ujung bulan Juli  agar terjadi eskalasi sepanjang Agustus dengan puncaknya pada akhir Agustus atau awal September.  Korban yang jatuh akan menjadi bahan bakar agar konflik ini membesar karena pihak korban akan menuntut balas.

Sejarah mencatat, konflik dan kerusuhan sosial skala besar di negeri ini tidak berdiri sendiri, tetapi ada pemain dan aktor yang memainkannya untuk kepentingan pihak tertentu. Sayangnya, masyarakat terbawah selalu menjadi korban dan tumbal untuk membayar ongkos permainan itu.

Maka, terpulang kembali kepada kita semua, apakah kita mau diadu domba dan menjadi mainan aktor dan pemodal permainan itu.  Atau kita menahan diri dan setiap provokasi dan hasutan untuk turun ke jalan mengumbar amarah.  Sebab, hari ini banyak sekali kondisi dan narasi sebagai alasan kita untuk marah, harga yang mencekik, pajak yang menyesak, lapangan kerja yang sempit, BBM yang melambung, korupsi yang melilit dan lain-lain.

Semoga kita bisa saling menjaga, menjaga diri, menjaga saudara dan menjaga kampung dan tanah air kita, warisan yang ditinggalkan oleh para pendahulu kita. (Aswan AS)

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic