
ThePhrase.id – Pembangunan di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) masih menjadi PR besar untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat di sekitarnya, salah satunya terkait akses air bersih. Hal ini membuat Shana Fatina, Founder dan CEO Komodo Water, ingin menghadirkan perubahan yang diharapkan dapat menjadi pintu masuk bagi perubahan sosial, ekonomi, dan pariwisata yang lebih berkelanjutan.
Gagasan perubahan tersebut ia bagikan melalui Studium Generale ITB bertema “Dari Desa ke Destinasi Dunia: Pemberdayaan Masyarakat dalam Ekosistem Pariwisata. Perempuan yang juga menjabat sebagai President Director Labuan Bajo Flores Tourism Authority ini mengungkapkan bahwa di Labuan Bajo yang dikenal sebagai destinasi kelas dunia, masih terdapat wilayah dengan keterbatasan akses air bersih.
Ada warga yang harus menempuh waktu hingga enam jam demi mendapatkan air bersih. Bahkan, lebih dari 25 persen penghasilan bulanan masyarakat dapat habis hanya untuk membeli air. Menurut Shana, persoalan ini bukan sekadar kebutuhan rumah tangga, melainkan berpengaruh pada berbagai aspek kehidupan.
Ketika akses air menjadi lebih mudah, masyarakat memiliki lebih banyak waktu dan peluang untuk meningkatkan taraf hidup, mulai dari sektor perikanan hingga pertanian.

“Ketika akses air menjadi lebih mudah, masyarakat memiliki waktu lebih untuk aktivitas ekonomi. Nelayan kini bisa memproduksi es batu sendiri tanpa harus ke Labuan Bajo, dan sektor pertanian seperti kopi di Flores juga dapat berkembang lebih optimal,” ujarnya melansir laman ITB.
Perjalanan Shana Fatina dalam menghadirkan solusi tersebut berakar dari latar belakang pendidikan dan kepeduliannya terhadap isu keberlanjutan. Ia merupakan lulusan Teknik Industri dari Institut Teknologi Bandung dan melanjutkan studi Magister Ilmu Lingkungan di Universitas Indonesia.
Sejak awal karier, Shana telah terlibat dalam berbagai inisiatif yang berfokus pada energi terbarukan dan keberlanjutan. Pada 2010, ia mendirikan Tinamitra Nusantara Group, sebuah social enterprise yang berfokus pada pengurangan emisi karbon serta peningkatan akses energi dan air bersih bagi masyarakat di wilayah 3T.
Pengalaman tersebut menjadi fondasi ketika ia mendirikan Komodo Water pada 2011. Gagasan ini lahir setelah ia melihat langsung kondisi masyarakat di wilayah pesisir dan kepulauan seperti Papagarang, yang harus bergantung pada air laut atau menempuh perjalanan panjang demi mendapatkan air bersih.
Dari situ, Shana bersama timnya berupaya menghadirkan solusi air bersih yang tidak hanya praktis, tapi juga berkelanjutan dan dapat dikelola oleh masyarakat setempat. Melalui Komodo Water, Shana tak hanya membangun infrastruktur air, tetapi juga menciptakan sistem yang memberdayakan masyarakat sebagai pengelola.

Pendekatan ini membuat akses air bersih tidak sekadar menjadi bantuan, melainkan bagian dari ekosistem ekonomi lokal. Hingga Mei 2025, Komodo Water telah menyalurkan lebih dari 67 juta liter air bersih dan menjangkau puluhan ribu penerima manfaat, termasuk nelayan dan petani, bahwa membawa peningkatan pendapatan bagi mereka.
Di luar Komodo Water, Shana juga menjabat sebagai President Director Labuan Bajo Flores Tourism Authority pada 2019–2024. Di bawah kepemimpinannya, Labuan Bajo berkembang menjadi destinasi pariwisata berkelanjutan yang diakui dunia, termasuk menjadi tuan rumah berbagai agenda internasional seperti side events G20 pada tahun 2022 dan KTT ASEAN 2023.
Lewat kontribusinya di bidang lingkungan, Shana menerima berbagai penghargaan, termasuk SDGs Action Awards 2024 dan Women Entrepreneurs Award 2025.
Menariknya, di tengah kesibukannya tersebut, melalui bisnis.com Shana menjelaskan bahwa ia juga memiliki ketertarikan di bidang musik. Ia bahkan sempat aktif dalam orkestra dan membentuk band saat remaja. Baginya, bekerja tak jauh berbeda dengan bermusik yang membutuhkan harmoni dan kolaborasi untuk menghasilkan hasil yang terbaik.
Melalui berbagai peran yang dijalani, Shana Fatina menunjukkan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari persoalan sederhana. Dari akses air bersih, ia membangun ekosistem yang lebih luas hingga menjadikan desa-desa terpencil bagian dari destinasi dunia yang berkelanjutan. [fa]