sport

Bintang Jerman Tegaskan Posisi Eropa di Tengah Kontroversi Donald Trump terhadap Piala Dunia 2026

Penulis Rangga Bijak Aditya
Jan 30, 2026
Skuad Timnas Jerman. (Foto: Instagram Timnas Jerman)
Skuad Timnas Jerman. (Foto: Instagram Timnas Jerman)

ThePhrase.id - Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memantik respons dari kalangan sepak bola Eropa menjelang Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Gelandang Bayern Munchen sekaligus Timnas Jerman, Leon Goretzka, menyampaikan bahwa komentar Trump mengenai kondisi Eropa justru menumbuhkan rasa kebersamaan dan identitas Eropa di kalangan pesepak bola benua tersebut.

Turnamen global yang sangat dinanti itu menjadi perhatian luas seiring berlangsungnya masa jabatan kedua Trump di Gedung Putih, terutama setelah sejumlah pernyataan politiknya memicu perdebatan lintas sektor, termasuk olahraga.

Trump sebelumnya menimbulkan kontroversi ketika menyebut Eropa berada dalam kondisi "membusuk" dan diperkirakan akan menjadi "jauh lebih lemah" akibat kebijakan imigrasi yang diterapkan di berbagai negara Eropa.

"Di Eropa, mereka datang dari seluruh penjuru dunia," ujar Trump dalam wawancara dengan Politico pada September 2025.

"Bukan hanya dari Timur Tengah, mereka datang dari Kongo, jumlahnya sangat besar dari Kongo, dan yang lebih buruk, mereka datang dari penjara-penjara di Kongo dan banyak negara lain, dan entah mengapa mereka ingin bersikap benar secara politik, yang menurut saya justru kebalikan dari benar secara politik," lanjutnya.

Goretzka dikenal sebagai salah satu pesepak bola profesional yang secara terbuka menyampaikan pandangan terhadap isu-isu sosial dan politik, termasuk ketika ia mengecam pernyataan duta besar Qatar terkait homoseksualitas menjelang Piala Dunia 2022.

Bintang Jerman Tegaskan Posisi Eropa di Tengah Kontroversi Donald Trump terhadap Piala Dunia 2026
Skuad Timnas Jerman. (Foto: Instagram Timnas Jerman)

Menjelang Piala Dunia tahun ini, Goretzka mengakui bahwa dirinya mengikuti dinamika politik yang berkembang, termasuk diskursus yang muncul seputar peran Amerika Serikat sebagai tuan rumah bersama.

"Tentu saja saya menyadari adanya perdebatan politik," kata Goretzka kepada media Jerman, Die Zeit.

"Saya tetap berharap turnamen ini akan menjadi ajang yang hebat, memajukan sepak bola di sana, dan menunjukkan bahwa banyak orang menginginkan pertandingan yang sangat menarik, karena Donald Trump membuat kami merasa bukan hanya sebagai orang Jerman, tetapi juga sebagai orang Eropa," bebernya.

Meski Timnas Argentina berstatus sebagai juara bertahan Piala Dunia, Goretzka menyatakan keyakinannya bahwa tim-tim Eropa akan kembali menunjukkan dominasi di ajang tersebut.

"Dalam pertandingan terpenting di dunia, kami masih berada di depan semua benua lain. Kami sama sekali tidak tertinggal, dan Eropa akan menunjukkan kepada semua orang apa yang bisa ditampilkan di lapangan," tegasnya.

Piala Dunia 2022 mencatat dinamika berbeda dari edisi-edisi sebelumnya, dengan Timnas Argentina keluar sebagai juara dan Timnas Maroko mencapai semifinal setelah menyingkirkan Timnas Spanyol serta Timnas Portugal, meski secara historis fase akhir turnamen lebih sering dikuasai tim-tim Eropa.

Sejak Timnas Brasil menjuarai Piala Dunia 2002, sebanyak 15 dari 20 tim semifinalis berasal dari Eropa, sebuah catatan yang memperkuat posisi benua tersebut dalam peta persaingan sepak bola dunia.

Goretzka menyadari bahwa pernyataannya membawa konsekuensi yang harus dibuktikan di lapangan hijau.

"Ketika Anda berbicara sebagai seorang atlet, Anda mengambil risiko. Anda harus menang, jika tidak, komitmen Anda bisa berbalik arah, disalahartikan secara sengaja, atau dipelintir," ucap Goretzka.

Di sisi lain, Wakil Presiden Federasi Sepak Bola Jerman, Oke Göttlich, sempat menyatakan perlunya diskusi terkait kemungkinan boikot, meski Presiden Federasi Bernd Neuendorf menegaskan bahwa batas tersebut belum terlampaui.

"Sayangnya, dia telah bertindak terlalu jauh dalam isu ini. Kami akan membahasnya dalam rapat komite eksekutif minggu ini, tetapi berdasarkan semua yang saya dengar dan juga pendapat pribadi saya, jelas bahwa perdebatan ini datang pada waktu yang tidak tepat dan tidak relevan bagi kami," imbuhnya.

"Saya tidak menganggap ini sebagai perdebatan besar sama sekali. Karena saya yakin kami di federasi sepakat bahwa pembahasan ini sepenuhnya keliru pada tahap ini," tandasnya. (Rangga)

Artikel Pilihan ThePhrase

- Advertisement -
 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic