
ThePhrase.id - Di tengah meningkatnya tekanan global untuk menekan emisi karbon, berbagai negara mulai mempercepat pengembangan energi rendah emisi, termasuk di sektor transportasi dan penerbangan. Salah satu solusi yang kini semakin mendapat perhatian dunia adalah biofuel dan Sustainable Aviation Fuel (SAF).
Pengembangan biofuel dinilai strategis karena sektor transportasi masih menjadi salah satu penyumbang emisi karbon terbesar. Selain membantu mengurangi emisi, biofuel juga dianggap dapat menekan ketergantungan terhadap energi fosil sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Indonesia sendiri diyakini memiliki potensi besar dalam pengembangan biofuel karena didukung ketersediaan bahan baku yang melimpah, mulai dari crude palm oil (CPO), tebu, singkong, hingga minyak jelantah atau used cooking oil (UCO). Pemerintah pun telah mendorong penggunaan biodiesel melalui program B35 berbasis sawit sebagai bagian dari upaya transisi energi nasional.
Dalam beberapa tahun terakhir, PT Pertamina (Persero) mulai memperluas pengembangan biofuel, mulai dari biodiesel hingga bioetanol sebagai bagian dari upaya mendorong transisi menuju energi yang lebih rendah emisi.
Selain biofuel untuk transportasi darat, pengembangan SAF juga mulai menjadi perhatian seiring meningkatnya tuntutan dekarbonisasi industri penerbangan global. SAF dipandang sebagai salah satu solusi paling realistis untuk mengurangi emisi sektor penerbangan tanpa harus mengubah armada maupun infrastruktur pesawat yang sudah ada.
Pertamina sendiri mulai mengembangkan SAF berbasis minyak jelantah melalui teknologi co-processing di Green Refinery Cilacap. Pengembangan bioavtur tersebut telah dimulai sejak 2015 melalui penelitian katalis domestik dan sudah melalui uji teknis pada pesawat Airbus A320-200 milik Pelita Air Services.
Bahkan, Pertamina baru-baru ini melakukan penerbangan perdana SAF berbahan baku minyak jelantah menggunakan maskapai Pelita Air untuk rute Jakarta-Bali. Inovasi tersebut diklaim menjadi penerbangan perdana SAF berbasis UCO di Asia Tenggara.
Selain menyasar pasar domestik, Pertamina juga mulai menargetkan pasar regional dan global, termasuk Eropa dan Asia-Pasifik. Perusahaan menilai Indonesia memiliki peluang besar menjadi salah satu pemain penting dalam rantai pasok SAF global karena ketersediaan bahan baku limbah yang melimpah.
Di sisi lain, pengembangan biofuel dan SAF dinilai tidak hanya berkaitan dengan agenda pengurangan emisi, tetapi juga membuka peluang penciptaan nilai tambah ekonomi domestik sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Dorongan pengembangan biofuel dan SAF turut mengemuka dalam Sokoguru Policy Forum yang digelar PT Pertamina (Persero) bersama Sustainability Center Universitas Pertamina (SCUP) di Jakarta, Selasa (19/5). Forum tersebut membahas strategi penguatan ketahanan energi nasional sekaligus percepatan transisi energi berkelanjutan di Indonesia.
Dalam forum tersebut, Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina Agung Wicaksono menyoroti pentingnya penguatan rantai nilai transisi energi Indonesia melalui optimalisasi sektor hulu migas, pengembangan energi rendah emisi, hingga percepatan implementasi SAF di Indonesia.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara stakeholder, asosiasi, policy makers, think tank, dan pelaku industri dalam mendorong kebijakan energi yang inklusif dan berkelanjutan.
“Forum ini juga menekankan pentingnya proses dialog strategis dan knowledge sharing secara kolaboratif dan berkelanjutan sebagai fondasi pembentukan kebijakan yang mampu menopang kebutuhan masyarakat terhadap ketersediaan energi nasional,” ujar Agung.
Sementara itu, Senior Fellow SCUP Retno Gumilang Dewi menegaskan pentingnya pengembangan bio-based fuel dan biorefinery sebagai bagian dari solusi energi berkelanjutan nasional. Menurutnya, optimalisasi strategic value chain bio-based fuel dapat memperkuat kemandirian energi sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi domestik.
Melalui pengembangan biofuel dan SAF, Indonesia dinilai mulai membuka peluang untuk tidak hanya menjadi pasar energi hijau, tetapi juga bagian penting dalam rantai pasok energi rendah emisi global di masa depan. [nadira]