trending

BMKG Jelaskan Peluang Indonesia Alami Gelombang Panas seperti Eropa: Atmosfer Tropis Cepat Berubah

Penulis Rangga Bijak Aditya
Jul 03, 2026
Ilustrasi: Cuaca panas di Indonesia. (Foto: Pexels/murod podolsky)
Ilustrasi: Cuaca panas di Indonesia. (Foto: Pexels/murod podolsky)

ThePhrase.id - Gelombang panas atau heatwave masih melanda sejumlah negara di Eropa sejak 21 Juni 2026. Fenomena tersebut dilaporkan menyebabkan 1.300 kematian berlebih.

Kondisi tersebut turut menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat Indonesia mengenai kemungkinan terjadinya fenomena serupa di dalam negeri.

Menanggapi itu, Plh. Direktur Meteorologi Publik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Ida Pramuwardani menjelaskan bahwa peluang Indonesia mengalami heatwave seperti di Eropa sangat kecil.

“Secara geografis wilayah Indonesia berada di sekitar wilayah ekuatorial, sehingga memiliki karakteristik dinamika atmosfer yang berbeda dengan wilayah lintang menengah-tinggi,” ujar Ida pada Rabu (1/7).

Selain itu, lanjut Ida, kondisi atmosfer di Indonesia memiliki perubahan cuaca yang berlangsung relatif cepat.

“Maka dapat dikatakan bahwa di wilayah Indonesia tidak terjadi fenomena yang dikenal dengan gelombang panas atau Heatwave,” imbuhnya.

Senada dengan itu, Sekretaris Utama BMKG, Guswanto menyampaikan bahwa suhu panas yang dirasakan masyarakat saat ini umumnya dipengaruhi oleh gerak semu matahari dan langit cerah pada musim kemarau.

“Gelombang panas hampir tidak terjadi di Indonesia karena atmosfer tropis cepat berubah dan tidak stabil,” kata Guswanto.

Menurutnya, kondisi panas yang terjadi belakangan bukan merupakan gelombang panas, melainkan cuaca panas yang bersifat musiman.

Penyebab Gelombang Panas di Eropa

Guswanto mengungkapkan, gelombang panas yang tengah melanda Eropa dipicu oleh perpaduan pola atmosfer, letak geografis, serta dampak pemanasan global.

Ia menyebut bahwa salah satu penyebab utamanya adalah terbentuknya pola atmosfer omega block dan heat dome yang memerangkap udara panas dari Afrika Utara di wilayah Eropa.

“Hal ini menciptakan ‘kemacetan atmosfer’ saat sistem tekanan tinggi stabil di tengah, dikelilingi tekanan rendah di sisi barat dan timur. Akibatnya, udara panas tidak bisa bergerak keluar dan tetap menumpuk di atas Eropa,” tukasnya.

Selain itu, fenomena heat dome membuat tekanan udara tinggi bertindak seperti ‘tutup panci’ yang menjebak udara panas di dekat permukaan.

Posisi geografis Eropa di lintang 35–55 derajat LU juga membuat kawasan tersebut lebih mudah menerima dorongan massa udara panas dari wilayah subtropis sehingga memicu lonjakan suhu yang ekstrem. (Rangga)

Artikel Pilihan ThePhrase

- Advertisement -
 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic