trending

BMKG Keluarkan Peringatan Kekeringan, Sejumlah Wilayah Alami Hari Tanpa Hujan Berkepanjangan

Penulis Ashila Syifaa
Sep 15, 2026
Ilustrasi musim kemarau. (Foto: Image by nikitabuida on Magnific)
Ilustrasi musim kemarau. (Foto: Image by nikitabuida on Magnific)

ThePhrase.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis setelah sekitar 81 persen Zona Musim (ZOM) di Indonesia memasuki musim kemarau.

Berdasarkan pantauan BMKG hingga Dasarian I September 2026, kondisi tersebut ditandai dengan semakin banyaknya wilayah yang mengalami hari tanpa hujan berkepanjangan. Sebanyak 1.637 titik tercatat mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) hingga lebih dari 60 hari berturut-turut, terutama di wilayah Indonesia bagian selatan, termasuk Lampung, sebagian besar Jawa, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi Selatan, Maluku, Bali, Nusa Tenggara, dan Papua Selatan.

Kondisi kering juga diperkuat oleh fenomena El Niño yang masih berada pada kategori sangat kuat. BMKG memperkirakan El Niño masih dapat bertahan hingga awal 2027. Minimnya hujan dan kondisi atmosfer yang kering meningkatkan risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) 

Berdasarkan pemantauan satelit pada 13 September, sebanyak 1.017 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi terdeteksi di sejumlah wilayah. Konsentrasi terbesar berada di Kalimantan dengan 627 titik, disusul Papua dan Maluku 200 titik, Sulawesi 104 titik, serta Sumatra 86 titik.

Karhutla juga berpotensi memicu meluasnya kabut asap. Pada 14 September pukul 08.00 WIB menunjukkan sebaran asap di sejumlah wilayah Sumatra, Kalimantan, Maluku, dan Papua. Kondisi ini dapat berdampak pada kualitas udara, kesehatan, jarak pandang, hingga aktivitas transportasi.

Selain kekeringan dan karhutla, cuaca panas juga perlu diwaspadai. Minimnya tutupan awan membuat radiasi matahari lebih banyak mencapai permukaan bumi. Suhu maksimum di atas 36°C tercatat di sejumlah wilayah, termasuk Lampung, Aceh, Banten, Kalimantan, Sulawesi, dan beberapa daerah lainnya.

Di sisi lain, angin kencang masih dapat terjadi akibat penguatan monsun Australia. Fenomena ini telah menyebabkan pohon tumbang, kerusakan bangunan, hingga gangguan transportasi di sejumlah wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur.

Meski kemarau mendominasi, hujan sedang hingga lebat masih berpotensi terjadi secara lokal. Pada 10–13 September, hujan lebat tercatat di Riau, Aceh, dan Sumatera Utara yang turut memicu banjir dan longsor di sejumlah wilayah.

Untuk periode 15–21 September 2026, BMKG memperkirakan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia masih berada pada kategori rendah hingga menengah. Namun, hujan tetap berpotensi terjadi di sebagian Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, serta Papua.

Pada 15–17 September, hujan sedang berpotensi meningkat di sejumlah wilayah, termasuk Sumatra Barat, Kepulauan Riau, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Aceh serta Sumatra Utara juga perlu mewaspadai potensi hujan lebat hingga sangat lebat. Angin kencang berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Bali, Jawa, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Sementara pada 18–21 September, potensi hujan sedang masih terdapat di sejumlah wilayah Sumatra, Jawa Barat, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Aceh dan Sumatra Barat perlu mewaspadai hujan lebat hingga sangat lebat, sedangkan angin kencang berpotensi terjadi di Aceh, Sulawesi Selatan, Maluku, Nusa Tenggara Timur, dan Papua Selatan.

BMKG mengimbau masyarakat di wilayah yang mengalami kemarau untuk menghemat penggunaan air dan tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah secara sembarangan. Masyarakat juga diminta mewaspadai karhutla, cuaca panas, angin kencang, serta potensi hujan lokal yang dapat memicu banjir, longsor, dan sambaran petir. [Syifaa]

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic