
ThePhrase.id - Setiap musim haji tiba, ada kebiasaan masyarakat kita saat melepaskan keberangkatan orang atau kerabat yang hendak menunaikan ibadah haji. Di samping mereka mendoakan untuk keselamatan dan agar dipermudah dalam menjalankan rangkaian ibadah hajinya, tradisi menitipkan doa kepada orang yang berangkat haji masih terasa kuat di tengah masyarakat Indonesia.
Di balik tradisi itu, muncul pertanyaan: apakah menitipkan doa dibenarkan dalam Islam, dan bagaimana etika melakukannya agar tidak membebani jemaah?
Pada hakekatnya, tidak ada salahnya menitipkan doa kepada kerabat yang berangkat haji agar didoakan yang baik-baik dan dilibatkan dalam setiap doa yang dipanjatkan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meminta untuk didoakan tatkala Umar bin Khattab pamit kepada beliau saat hendak melaksanakan ibadah umrah.
Dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Artinya: Dari Ibnu Umar dari Umar, sesungguhnya Umar minta izin kepada Nabi untuk melaksanakan umrah, maka Nabi bersabda: Wahai saudaraku sertakan kami dalam doamu dan jangan lupa mendoakan kami. (HR Tirmidzi)
Pesan tersebut menunjukkan bahwa meminta didoakan oleh orang yang sedang berada di Tanah Suci bukanlah hal yang asing dalam tradisi Islam.
Pendakwah Ustadz Adi Hidayat menyampaikan bahwa menitipkan doa kepada orang yang akan berhaji hukumnya diperbolehkan, bahkan dianjurkan. Ia menjelaskan bahwa dalam Islam, doa dari seseorang yang sedang melakukan perjalanan jauh demi ibadah kepada Allah, seperti haji atau umrah, memiliki keutamaan tersendiri.
Dikutip dari kanal YouTube Media Islamic, Ahad (3/5/2026), ustadz Adi Hidayat menjelaskan: “Menempuh perjalanan panjang untuk ketaatan itu mempercepat doa dikabulkan lebih cepat dua kali lipat dibanding orang biasa". Menempuh perjalanan jauh bisa dimanfaatkan umat Islam untuk menitip doa kepada jemaah yang tengah melakukan perjalanan suci. Baik untuk keperluan dunia maupun akhirat, seperti berharap bisa mendapatkan jodoh, mendapatkan pekerjaan, lulus dalam ujian, dan impian-impian lainnya.
Pengasuh Lembaga Pengembangan Da'wah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah yang berpusat di Cirebon, Yahya Zainul Ma'arif yang lebih akrab disapa Buya Yahya menekankan bahwa meskipun menitipkan doa dibolehkan, ia mengingatkan agar praktik ini tidak dilakukan secara berlebihan hingga membebani jemaah.
Buya Yahya menyoroti kebiasaan sebagian orang yang menitipkan daftar doa panjang dalam bentuk tulisan. Jika satu orang saja sudah panjang, bagaimana jika ratusan orang melakukan hal serupa, demikian dikutip dari himpuh.or.id (4/5).
Karena itu, ia menyarankan agar permintaan doa cukup disampaikan secara sederhana dan umum, misalnya memohon keselamatan atau berharap bisa menyusul ke Tanah Suci. (Z. Ibrahim)