e-biz

Bukan Cuma Minyaknya, Limbah Sawit Kini Dibidik Jadi Energi Masa Depan

Penulis Nadira Sekar
Jul 23, 2026
Foto: Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, dalam forum Pekan Riset Sawit Indonesia 2026 (dok. Pertamina)
Foto: Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, dalam forum Pekan Riset Sawit Indonesia 2026 (dok. Pertamina)

ThePhrase.id - Selama ini, industri sawit identik dengan produksi minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO). Padahal, di balik setiap proses pengolahan sawit, terdapat jutaan ton limbah Tandan Kosong Sawit (TKS) yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Kini, limbah tersebut mulai dilirik sebagai sumber bioetanol yang berpotensi menjadi energi alternatif untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM.

Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Oki Muraza, mengatakan Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan bioenergi karena tidak hanya kaya akan CPO, tetapi juga menghasilkan limbah sawit dalam jumlah melimpah yang masih bisa diolah menjadi bahan bakar.

"Jawabannya ada di depan mata kita. Dengan sumber daya CPO dan Tandan Kosong Sawit, kita harus mampu mengubahnya menjadi energi," ujar Oki dalam Pekan Riset Sawit Indonesia 2026.

Menurut Pertamina, volume TKS di Indonesia mencapai sekitar 25 juta ton setiap tahun. Jumlah tersebut menyimpan potensi besar untuk menciptakan nilai tambah bagi industri sawit sekaligus menjadi sumber energi baru.

Salah satu pemanfaatan yang kini dikembangkan adalah mengolah TKS menjadi bioetanol, bahan bakar terbarukan yang dihasilkan dari fermentasi biomassa. Selama ini bioetanol lebih banyak diproduksi dari tanaman seperti tebu atau jagung. Penggunaan limbah sawit menawarkan pendekatan berbeda karena memanfaatkan residu perkebunan yang sebelumnya belum bernilai ekonomi, sekaligus mengurangi limbah.

Bukan Cuma Minyaknya  Limbah Sawit Kini Dibidik Jadi Energi Masa Depan
Foto: Infografis limbah sawit menjadi energi (dok. ThePhrase.id/Nadira)

Bioetanol hasil pengolahan TKS nantinya diproyeksikan menjadi bahan pencampur bensin E10 sesuai roadmap pemerintah. Untuk mendukung target tersebut, Pertamina tengah membangun fasilitas produksi bioetanol di Glenmore, Banyuwangi, dengan kapasitas 30 ribu kiloliter per tahun.

Selain mengembangkan bioetanol, Pertamina juga memperkuat infrastruktur energi hijau melalui pembangunan Dedicated Green Refinery di Cilacap. Perusahaan telah menerapkan teknologi coprocessing secara komersial di Kilang Cilacap dan kini tengah mengujinya di Kilang Balongan serta Dumai sebagai bagian dari pengembangan bahan bakar rendah emisi.

Meski prospeknya menjanjikan, pengembangan bioenergi berbasis limbah sawit tidak hanya bergantung pada ketersediaan bahan baku. Investasi teknologi, pembangunan infrastruktur, serta kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, lembaga keuangan, dan masyarakat menjadi faktor penting agar ekosistem biofuel dapat tumbuh secara berkelanjutan.

Pada akhirnya, pemanfaatan limbah sawit bukan sekadar upaya mengurangi limbah perkebunan. Jika berhasil dikembangkan secara luas, TKS dapat menjadi sumber energi alternatif yang memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah industri sawit. Apa yang selama ini dipandang sebagai limbah pun berpeluang menjadi salah satu aset penting dalam transisi energi Indonesia. [nadira]

Artikel Pilihan ThePhrase

- Advertisement -
 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic