e-biz

Bukan Sekadar Harga Minyak, Gangguan Jalur Pelayaran Mengancam Pasokan Energi

Penulis Nadira Sekar
Oct 20, 2026
Foto: Armada distribusi Pertamina (dok. Pertamina)
Foto: Armada distribusi Pertamina (dok. Pertamina)

ThePhrase.id - Ketahanan energi tidak cukup diukur dari ketersediaan minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Kemampuan mendatangkan energi dengan biaya terjangkau dan memastikan pengirimannya tiba tepat waktu juga menjadi faktor penting. Di tengah konflik geopolitik yang mengganggu jalur pelayaran, kedua hal tersebut menghadapi tantangan yang semakin besar.

Mengutip Oilprice.com, kenaikan tarif kapal tanker, premi asuransi risiko perang, dan keterlambatan pengiriman dapat meningkatkan biaya pengadaan minyak hingga tiba di negara pembeli. Gangguan pada jalur pelayaran juga mendorong perubahan rute dan pola perdagangan global, sehingga produsen maupun pembeli perlu menyesuaikan strategi pengadaan mereka.

Bagi negara yang bergantung pada impor minyak, kondisi ini menimbulkan risiko berlapis. Gangguan pengiriman dapat memperlambat kedatangan pasokan, sedangkan kenaikan biaya transportasi membuat minyak yang tersedia menjadi lebih mahal untuk didatangkan. Situasi tersebut menjadi perhatian bagi Indonesia yang masih mengandalkan impor untuk memenuhi kebutuhan minyak mentahnya.

Diversifikasi Pemasok Belum Menghilangkan Risiko

Ketergantungan terhadap impor membuat Indonesia rentan terhadap gangguan di kawasan penghasil minyak maupun jalur pelayaran strategis. Melansir Katadata.co.id, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut sekitar 20 hingga 25 persen impor minyak mentah Indonesia berasal dari kawasan yang bergantung pada Selat Hormuz. Sementara itu, Pertamina menyatakan impor minyak mentah dari Timur Tengah mencakup sekitar 19 persen dari total impornya.

“Selebihnya kami ambil dari Afrika, Amerika, dan negara lain seperti Brasil,” kata Bahlil beberapa waktu lalu.

Untuk mengurangi ketergantungan pada kawasan tertentu, Indonesia telah mendatangkan minyak mentah dari berbagai negara. Berdasarkan data impor 2025, Nigeria menyumbang 26,3 persen dari total volume impor minyak mentah Indonesia, diikuti Angola sebesar 21,2 persen dan Arab Saudi sebesar 18,1 persen.

Bukan Sekadar Harga Minyak  Gangguan Jalur Pelayaran Mengancam Pasokan Energi
Foto: Infografis Gangguan Jalur Pelayaran Energi (dok. ThePhrase.id/Nadira)

Keragaman pemasok tersebut memberikan alternatif ketika pengiriman dari suatu kawasan terganggu. Namun, mencari sumber pasokan lain tidak selalu menjadi solusi yang mudah. Perbedaan jarak, ketersediaan kapal, dan kondisi jalur pelayaran dapat memengaruhi waktu kedatangan serta biaya pengiriman. Karena itu, diversifikasi perlu disertai perencanaan logistik yang mempertimbangkan keandalan rute dan kepastian pasokan, bukan sekadar jumlah negara pemasok.

Keandalan Distribusi hingga ke Daerah

Tantangan ketahanan energi tidak berhenti ketika minyak mentah tiba di Indonesia. Setelah melalui proses pengolahan, BBM juga harus disalurkan ke berbagai wilayah dengan dukungan armada dan infrastruktur distribusi yang memadai. Gangguan pada tahap ini dapat menghambat pemenuhan kebutuhan energi di daerah, sekalipun pasokan tersedia di tingkat nasional.

Gangguan pasokan BBM di Bali menjadi contoh pentingnya keandalan distribusi. Mengutip Tirto.id, cadangan BBM di wilayah tersebut sempat turun hingga hanya mencukupi kebutuhan sekitar tiga sampai empat hari akibat keterlambatan kapal pengangkut BBM dari Jawa. Pemerintah kemudian mempercepat distribusi dan menambah jumlah kapal yang melayani pengiriman ke Bali.

Kejadian ini memang tidak berkaitan langsung dengan gangguan di Selat Hormuz. Namun, kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketersediaan BBM secara nasional tidak otomatis menjamin kecukupan stok di setiap daerah. Hambatan transportasi laut saja dapat memperlambat pengiriman dan mengurangi cadangan di wilayah tujuan.

Oleh karena itu, penguatan ketahanan energi perlu mencakup seluruh rantai pasok, mulai dari pemilihan sumber impor dan pengamanan jalur pengiriman hingga pengelolaan cadangan, kesiapan armada, serta kelancaran distribusi antardaerah. Perencanaan alternatif juga perlu mempertimbangkan waktu yang dibutuhkan untuk mengalihkan pasokan ketika jalur utama terganggu.

Pada akhirnya, ketahanan energi bukan semata-mata persoalan berapa banyak minyak yang tersedia, melainkan juga seberapa andal Indonesia dapat mendatangkan dan menyalurkannya. Di tengah ketidakpastian geopolitik, kemampuan menjaga biaya pengadaan tetap terkendali dan memastikan pasokan tiba tepat waktu menjadi bagian penting untuk melindungi kebutuhan energi dalam negeri. [nadira]

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic