regional

Bukan Sekadar Identitas Bangsa, Batik Menyimpan Jejak Akulturasi Nusantara dan Tiongkok

Penulis Ashila Syifaa
Feb 16, 2026
Seorang pemandu menunjuk salah satu koleksi dalam pameran “Batik Silang Budaya di Atas Kain: Kisah Batik dan Pengaruh Budaya Tiongkok” di Museum Tekstil, Jakarta, Jumat (13/2/2026), yang diadakan untuk memperingati Hari Raya Imlek. (Foto: ANTARA/Lia Wanadriani Santosa)
Seorang pemandu menunjuk salah satu koleksi dalam pameran “Batik Silang Budaya di Atas Kain: Kisah Batik dan Pengaruh Budaya Tiongkok” di Museum Tekstil, Jakarta, Jumat (13/2/2026), yang diadakan untuk memperingati Hari Raya Imlek. (Foto: ANTARA/Lia Wanadriani Santosa)

ThePhrase.id - Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan warisan budaya, salah satunya adalah batik. Bukan hanya sebagai identitas bangsa, tetapi batik juga merekam jejak pertemuan dan akulturasi Nusantara dengan beragam budaya dunia, termasuk budaya Tiongkok.

Akulturasi budaya dalam kain batik, terlihat melalui ragam motif, warna, hingga filosofi yang terkandung di dalamnya yang menghadirkan kisah panjang hubungan lintas budaya yang telah terjalin selama berabad-abad.

Melansir Antara News, dalam pameran “Batik Silang Budaya di Atas Kain: Kisah Batik dan Pengaruh Budaya Tiongkok” yang digelar di Museum Tekstil menunjukkan perpaduan estetika Nusantara dengan simbol-simbol khas Tiongkok, sekaligus menegaskan bahwa batik berkembang melalui proses interaksi budaya yang dinamis.

Salah satu artefak penting yang disorot adalah Tok Wie, kain penutup altar tradisional Tiongkok berbahan sutera dengan sulaman warna-warni. Kain ini memuat figur mitologi seperti naga, burung hong, dan kilin yang sarat makna, mulai dari kewibawaan, perdamaian, hingga harapan akan kebaikan.

Ketika pengaruh visual tersebut masuk ke wilayah pesisir Jawa melalui jalur perdagangan dan migrasi, unsur-unsurnya kemudian beradaptasi menjadi motif batik lokal dengan bahan katun, komposisi dekoratif, serta warna cerah yang khas.

“Interaksi antara budaya Tionghoa dan Nusantara telah melahirkan berbagai bentuk akulturasi, salah satunya dalam motif batik,” jelas Kepala Museum Batik Pekalongan, Nurhayati Sinaga. 

Perkembangan itu terlihat jelas pada batik pesisir dari Lasem, yang terkenal dengan warna merah menyala dan ragam hias bernuansa Tiongkok. 

Sementara di Cirebon, motif mega mendung menghadirkan bentuk awan bergelombang yang memiliki kemiripan dengan ornamen awan dalam seni Tiongkok, sekaligus mengandung filosofi ketenangan. 

Adapun batik dari Pekalongan menampilkan motif bunga, burung, dan kupu-kupu dengan warna cerah yang mencerminkan percampuran selera estetika pesisir dan budaya peranakan.

Kehadiran motif-motif tersebut menunjukkan bahwa batik bukan sekadar produk kerajinan, melainkan medium budaya yang menyimpan rekam jejak sejarah pertemuan manusia, perdagangan, serta pertukaran gagasan. Akulturasi yang terjadi tidak menghapus identitas lokal, tetapi justru memperkaya khazanah visual dan filosofi batik Indonesia.

Melalui pemahaman terhadap jejak akulturasi ini, batik dapat dilihat sebagai simbol keterbukaan budaya Nusantara, sebuah bukti bahwa perbedaan dapat berpadu menjadi karya yang bernilai tinggi. Di tengah arus globalisasi, kisah yang terpatri dalam selembar kain batik menjadi pengingat bahwa identitas budaya tumbuh dari dialog panjang antarperadaban, bukan dari ruang yang terpisah. [Syifaa]

Artikel Pilihan ThePhrase

- Advertisement -
 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic