
ThePhrase.id - Di tengah gegap gempita penanganan bencana banjir dan longsor Sumatra, beberapa menteri di jajaran Kabinet Merah Putih banyak mencuri perhatian. Sekretaris Kabinet, Letkol Teddy Indra Wijaya menjadi sorotan setelah konferensi persnya tentang penanganan bencana Sumatra menjadi perbincangan. Demikian juga, Menteri Luar Negeri Sugiono menjadi perbincangan setelah kinerjanya dinilai banyak kelemahan yang belum berdampak signifikan pada diplomasi Indonesia di luar negeri. Sama dengan Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana yang kontras dengan pendahulunya, yang aktif menghadirkan banyak event dan aksi mempromosikan pariwisata Indonesia.
Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya disorot bukan hanya gaya komunikasinya tetapi juga terkait dengan tugas pokok dan fungsinya di jajaran Kabinet Merah Putih. Sorotan itu mudah ditemukan di channel-channel yang menayangkan konferensi pers penanganan bencana banjir dan longsor Sumatra pada Jumat (19/12/2025) di Lanud Halim Perdanakusuma.
Di Channel Kompas.com onlocation misalnya, akun @agsol3529 menulis, “ternyata di Konoha pejabat²nya Mentah & Amatiran gini... Pantesan di Aceh lamban”. Akun @pribadisetiyanto9703 menulis komennya ”Kemampuanmu tidak mencukupi untuk menghadapi besarnya masalah”.
Komentar netizen ini menanggapi statemen Teddy Wijaya yang menyebut netizen dan konten kreator yang membuat membuat video bencana Sumatra yang mengesankan pemerintah lamban dan tidak kerja.
"Jadi, kalau ada di antara saudara-saudara punya pengaruh dan punya kemampuan untuk berbicara panjang lebar, gunakanlah dengan bijak. Bukan sebaliknya, memperumit. Sampaikan pernyataan dan pertanyaan yang bijak. Jangan menggiring-giring seolah pemerintah tidak kerja," kata Teddy.
Banyaknya video para netizen tentang situasi lapangan dan penyaluran bantuan oleh para relawan membuat Teddy gusar sehingga perlu membuat video tandingan untuk diperlihatkan kepada Presiden Prabowo. Video itu pun diputar di Sidang Kabinet Paripurna di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin 15 Desember 2025. Video yang membuat Presiden Prabowo kaget karena banyaknya masyarakat yang mengucapkan terima kasih kepadanya dalam tayangan video tersebut.
“Video tadi memang saya minta ditayangkan. Tapi saya tadi tidak mengerti bahwa terlalu banyak yang mengucapkan terima kasih kepada saya,” kata Prabowo usai menyaksikan video tersebut.
Berbeda dengan Seskab sebelumnya Pramono Anung, Teddy Wijaya melangkah lebih jauh dalam perannya sebagai bagian dari Kabinet Merah Putih. Teddy telah bertindak sebagai juru bicara pemerintah dalam penanganan bencana Sumatra. Sementara Pramono Anung dulu hanya menyampaikan hal-hal yang terkait dengan tugas dan fungsinya sebagai Sekretaris Kabinet yang memberikan dukungan teknis, administrasi, dan analisis kepada Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan sebagai kepala pemerintahan. Tugas yang meliputi pengkajian kebijakan, penyelenggaraan sidang kabinet, pengelolaan administrasi, serta dukungan manajemen SDM dan teknologi informasi, memastikan kelancaran pelaksanaan program pemerintah dan koordinasi antar-lembaga.

Adapun Menteri Luar Negeri, Sugiono menjadi sorotan setelah beredarnya video Diplomat senior dan mantan Menteri Luar Negeri, Dino Pati Jalal yang mengkritisi kinerja Sugiono sebagai Menlu. Kritikan itu diunggah di akun Instagram @dinopattidjalal, Senin, 22 Desember 2025. Dino menyampaikan empat hal sebagai kritik dan sarannya kepada Sugiono:
1. Sugiono diminta meluangkan waktu lebih banyak untuk memimpin Kementerian Luar Negeri.
2. Sugiono diminta berkomunikasi dengan publik ihwal langkah-langkah politik luar negeri Indonesia.
3. Sugiono diminta lebih banyak berhubungan dengan pemangku kepentingan internasional
4 Sugiono diharapkan bersikap terbuka untuk bekerja sama dengan akar rumput hubungan internasional.
Dino menganalogikan Kementerian Luar Negeri seperti mobil Ferrari karena merupakan salah satu lembaga terbaik di Indonesia yang dipenuhi oleh diplomat bertalenta. Ferrari, kata Dino hanya bisa berkinerja optimal apabila dikendarai oleh pengemudi yang fokus dan piawai.
"Menlu Sugiono idealnya bisa mengurus Kementerian secara penuh. Tetapi, minimal 50 persen, kalau bisa 80 persen," ujar Dino.
Dino mengungkapkan, banyak Kedutaan Besar Republik Indonesia yang tidak memperoleh arahan strategis dari pusat. Bahkan, rapat koordinasi para duta besar tertunda hampir setahun. Para diplomat yang mengalami demoralisasi dan merasa tidak terdorong inisiatifnya karena tidak memperoleh tanggapan dari pusat. Sejumlah duta besar mengaku sulit menemui Sugiono ketika kembali ke Jakarta.
Dino menyinggung sikap Sugiono yang belum pernah memberikan pidato kebijakan, baik di dalam maupun di luar negeri. Sugiono tidak pernah melakukan wawancara khusus dengan media ihwal substansi politik luar negeri. Sugiono dinilai jarang memberikan penjelasan kepada publik terkait langkah politik luar negeri Indonesia, selain pidato awal tahun yang menjadi tradisi Kementerian Luar Negeri.
Dino mencontohkan perhelatan Conference on Indonesia Foreign Policy yang dihadiri ribuan pemuda dan mahasiswa Indonesia dari berbagi provinsi untuk mendengar pembahasan politik luar negeri. Namun, seluruh surat, telepon, pesan, hingga permohonan pertemuan yang ditujukan kepada Sugiono tidak mendapat tanggapan. Dino berharap Sugiono berubah dari menteri yang absen menjadi menteri yang hadir dalam urusan hubungan internasional di dalam negeri.
Membantu Presiden bukan berarti harus mengabaikan rakyat di akar rumput. Dalam dunia diplomasi, kata Dino inisiatif bisa datang dari mana saja, termasuk rakyat hingga pemangku kepentingan. Dino menilai pernyataan Sugiono di forum internasional tidak sejalan dengan yang terjadi di lapangan. Sugiono kerap menyerukan soal pentingnya kerja sama, tetapi, dalam kenyataannya amat sulit untuk diajak bekerja sama.
Dino minta maaf karena kritik dan pesannya ini disampaikan di media sosial. Dia beralasan seluruh jalur komunikasi dengan Sugiono telah terblokir selama berbulan-bulan. "Menlu Sugiono, remember you only have one shot at history," kata Dino menutup pesanyya.
Kritik Dino Pati Djalal ini mengingatkan pada sosok Menlu sebelum Sugiono yang selalu hadir di forum Internasional, responsif terhadap isu-isu regional dan aktif menjelaskan langkah diplomasinya di dalam negeri. Mantan Menlu Retno Marsudi misalnya yang aktif menjelaskan peran Indonesia memimpin ASEAN 2023, keberhasilan Indonesia menyelesaikan agenda global seperti Presidensi Indonesia di KTT G20 2022 di Bali di tengah konflik Rusia-Ukraina.
“Tidak banyak pihak yang memperkirakan bahwa Indonesia akan dapat menyelesaikan tugas Presidensi G20 dengan baik. Karena situasi yang sangat sulit pada saat itu,” katanya dalam siaran pers, Sabtu (6/1/2024).
Langkah Retno ini juga dilakukan oleh Mantan Menlu Marty Natalegawa, mantan Wamenlu Dino Patti Djalal dan lain-lain yang sudah memiliki jam terbang tinggi sebagai diplomat sebelum menjabat sebagai Menteri Luar Negeri. Sementara Menlu Sugiono, dikenal sebagai orang dekat Prabowo yang menjabat sebagai Sekjen Partai Gerindra yang minim pengalaman dan jam terbang dalam diplomasi internasional.

Menteri lain yang banyak dipertanyakan perannya terkait jam terbang ini adalah Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana. Menteri ini sempat menjadi sorotan karena harta kekayaannya yang mencapai Rp5,4 triliun menurut Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN).
Sama dengan pendahulunya, Sandiago Uno yang juga memiliki kekayaan fantastis, namun Widiyanti banyak dipertanyakan tentang kemampuannya sebagai Menteri. Bila Sandiaga dikenal aktif menggerakkan dan mempromosikan parisiwata Indonesia melalui berbagai event dan aksi lapangannya, sementara Widiyanti lebih banyak diberitakan karena pernyataannya yang kontroversi, seperti tentang mandi air galon di hotel, kebiasaan membatalkan kehadirannya di acara daerah, dan public speaking serta kemampuan bahasa Inggrisnya yang dipertanyakan publik. Padahal dalam biodatanya, Widiyanti adalah lulusan sebuah universitas di Amerika dan menjadi CEO di beberapa perusahaan keluarganya.
“Ya, itu kan harus pengalaman yang dilakukan terus-menerus. Saya rasa, saya belajar dari situ. Tapi kalau mengenai bahasa Inggris saya nggak masalah lho,” katanya di kanal YouTube Helmy Yahya Bercerita Kamis, 25 September 2025.

Selain menteri yang kurang jam terbang, ada juga menteri yang jarang terbang, yang jarang terlihat di lokasi bencana sebagai bidang atau lokus tempat kerjanya. Menteri Sosial, Saifullah Yusuf alias Gus Ipul hanya terdengar ketika menyatakan perlunya izin bagi para pengumpul dana untuk korban bencana. Gus Ipul disebut jarang terbang karena disibukkan oleh konflik internal di PBNU, organisasi asalnya sebelum jadi menteri. Gus Ipul terlibat dalam konflik elit PBNU yang diduga terkait konsesi tambang, pasca pemberian pengelolaan tambang kepada ormas oleh rezim Jokowi. Akibatnya sepanjang bencana ekologis yang terjadi di Sumatra dan daerah lain di Indonesia, Gus Ipul tidak terlalu terlihat perannya.
Sebagai catatan tahun 2025, menjadi menteri memang hak prerogatif presiden. Pengalaman dan jam terbang menentukan keberhasilan memangku jabatan. Minim pengalaman dan jam terbang yang kurang dapat menyebabkan langkah terlalu jauh melampaui tugas dan fungsi akibat tidak tahu batas wewenang yang dimiliki.
Kurang jam terbang juga akan membuat ragu melangkah karena tidak tahu arah dan menganggap tidak penting hal-hal yang sebenarnya sangat prinsip dan menentukan. Kurang jam terbang juga menyebabkan kebingungan karena tak tahu apa yang akan dilakukan. Hal ini bukan hanya akan berakibat pada jalannya pemerintahan yang pincang dan tidak seimbang tetapi juga merugikan rakyat yang berurusan dengan jabatan itu. (Aswan AS)