
Thephrase.id - Dukungan terhadap Gianni Infantino untuk kembali memimpin FIFA mulai mengemuka setelah seluruh anggota dewan CONMEBOL secara terbuka menyatakan backing mereka.
Mereka menjadi konfederasi Amerika Selatan sebagai pihak pertama yang secara resmi mendorong perpanjangan masa jabatan tersebut.
Presiden FIFA berusia 56 tahun itu memang belum mengumumkan secara formal pencalonan kembali. Akan tetapi, langkah tersebut dinilai sebagai sesuatu yang hampir pasti mengingat pengaruh besar yang telah ia bangun selama satu dekade memimpin organisasi sepak bola dunia itu, termasuk dua pemilihan sebelumnya pada 2019 dan 2023 yang berjalan tanpa pesaing.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Kamis, 9 April 2026, CONMEBOL menyoroti kepemimpinan Infantino sekaligus menyebut adanya berbagai kemajuan yang telah dicapai, khususnya dalam pengembangan sepak bola global selama masa kepemimpinannya.
Pada September 2025, FIFA menggelar diskusi dengan sejumlah tokoh politik dan sepak bola terkait kemungkinan ekspansi Piala Dunia pria menjadi 64 tim pada edisi 2030, menyusul proposal resmi dari delegasi Amerika Selatan yang melibatkan pejabat tinggi dari Paraguay dan Uruguay serta perwakilan federasi termasuk Asociación del Fútbol Argentino.
Gagasan turnamen 64 tim pertama kali disampaikan oleh Ignacio Alonso dalam rapat Dewan FIFA pada Maret 2025, sebuah usulan yang mengejutkan banyak peserta rapat meski FIFA menegaskan bahwa setiap ide yang diajukan tetap harus dipertimbangkan secara serius.
Presiden CONMEBOL, Alejandro Dominguez kemudian menjelaskan pada April 2025 bahwa format 64 tim tersebut dirancang sebagai edisi khusus untuk memperingati 100 tahun Piala Dunia pertama yang digelar di Uruguay pada 1930.
Apabila terealisasi, turnamen dengan 64 peserta akan melibatkan lebih dari 30 persen dari total 211 asosiasi anggota FIFA.
Meskipun hingga kini belum ada pembaruan resmi terkait kelanjutan rencana tersebut di tengah berbagai pertanyaan soal kalender, logistik, dan kesiapan infrastruktur.
Piala Dunia 2030 telah dipastikan menjadi edisi paling luas dalam sejarah karena akan digelar lintas tiga benua dan enam negara, dengan Paraguay, Uruguay, dan Argentina menjadi tuan rumah laga pembuka sebelum pertandingan lainnya dilangsungkan di Spanyol, Portugal, dan Maroko.
Format tersebut dinilai belum sepenuhnya memuaskan bagi pihak Amerika Selatan yang merasa wilayah mereka jarang mendapat kesempatan menjadi tuan rumah. Edisi terakhir di kawasan itu berlangsung di Brasil pada 2014 dan sebelumnya di Argentina pada 1978, sementara Eropa dan Asia lebih sering menjadi penyelenggara.
Infantino mulai menjabat sebagai presiden FIFA pada 2016 menggantikan Sepp Blatter dan sejak itu memimpin penyelenggaraan Piala Dunia di Rusia serta Qatar, dua edisi yang sebenarnya sudah ditetapkan tuan rumahnya sebelum ia menjabat.
Masa jabatan terakhirnya dimulai pada Maret 2023 dan akan berakhir pada 2027, namun keputusan komite tata kelola FIFA pada 2022 yang tidak menghitung periode awal kepemimpinannya membuat Infantino secara teoritis masih dapat menjabat hingga 2031.
Di bawah kepemimpinannya, Piala Dunia pria diperluas dari 32 menjadi 48 tim yang akan mulai diterapkan pada edisi berikutnya di Amerika Utara, sementara peningkatan pendapatan FIFA dan distribusi dana hingga miliaran dolar kepada asosiasi anggota menjadi salah satu faktor penting yang memperkuat posisinya.
Meski demikian, periode kepemimpinan Infantino juga diwarnai berbagai kontroversi, mulai dari kritik atas prioritas agenda internasional, konflik kepentingan terkait perjalanan pribadi, hingga protes dari serikat pemain dan liga domestik terhadap ekspansi kompetisi seperti Piala Dunia Antarklub serta isu harga tiket yang terus menjadi sorotan.