
ThePhrase.id - Konflik di Timur Tengah (Timteng) kian memanas pasca serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada Sabtu (28/2). Sebabnya, pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei gugur dalam serangan gabungan tersebut.
Iran lantas melancarkan serangan balasan kepada AS dan Israel. Serangan balasan itu diarahkan kepada sejumlah negara Timteng yang terdapat pangkalan militer atau aset militer AS di sana, seperti Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), Irak, hingga Yordania.
Pakar Hukum Internasional dari Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), Satria Unggul Wicaksana, menilai eskalasi konflik tersebut memicu krisis energi global hingga potensi perang dunia ketiga terbuka lebar.
Krisis energi global sudah di depan mata lantaran Iran sudah menutup total Selat Hormuz, jalur distribusi minyak dan gas dari Timteng menuju Eropa dan Asia.
Selat Hormuz yang berada di bawah kendali Iran, memiliki peran besar dalam perdagangan energi global. Sekira 22% pasokan minyak dunia atau hampir seperempat total pasokan global, melintasi selat kecil ini. Selain minyak, sekira 20% perdagangan gas alam cair LNG dunia juga melewati Selat Hormuz.
Dengan ditutupnya Selat Hormuz, maka lonjakan harga minyak dunia tidak bisa dihindari. Dilansir dari Investing.com, harga minyak Brent berjangka naik 6,8% menjadi USD77,80 per barel pada hari ini, Selasa (3/3). Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate berjangka naik 5,7% menjadi USD70,85 per barel.
“Ini bukan hanya soal perang, tetapi juga dapat melumpuhkan ekonomi dan perdagangan global serta memicu krisis ekonomi dunia yang lebih masif,” kata Satria dalam keterangannya, dikutip Selasa (3/3).
Selain krisis energi global, eskalasi konflik AS-Israel dan Iran memicu konflik yang lebih luas. Menurut Satria, Iran bukanlah negara sebatang kara tapi memiliki hubungan strategis dengan negara kuat lainnya, seperti Rusia, Tiongkok, dan Korea Utara.
Apabila negara-negara tersebut turun tangan membantu Iran, maka konflik tersebut menjadi perang berskala global. Apalagi, lanjutnya, sejumlah kawasan lain juga tengah mengalami ketegangan geopolitik, seperti konflik antara Rusia dan Ukraina, ketegangan di Selat Taiwan, serta konflik di Laut China Selatan.
“Ini bisa membawa situasi perang menjadi titik nadir. Peluang terjadinya perang dunia ketiga sangat terbuka, dan ini sangat merugikan umat manusia,” ujarnya.
Potensi terjadinya perang dunia ketiga juga memungkinkan penggunaan senjata nuklir dalam konflik tersebut. Bagi Satria, penggunaan nuklir sangat berbahaya, tidak hanya menghancurkan manusia, tetapi memicu fenomena nuclear winter yang mengancam keberlangsungan kehidupan di bumi.
Oleh sebab itu, Satria mendorong lembaga internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengambil langkah tegas guna menghentikan konflik bersenjata tersebut.
“Kita mendorong adanya tekanan yang sangat masif kepada lembaga internasional untuk mengakhiri konflik ini agar eskalasi perang yang lebih besar dapat dicegah,” tuturnya.
Satria pun berharap para pemimpin dunia untuk menahan diri dalam penggunaan kekuatan militer, terutama yang melibatkan senjata pemusnah massal.
“Kita berharap para pemimpin dunia menahan diri. Karena dampak perang tidak hanya dirasakan negara yang terlibat langsung, tetapi juga seluruh masyarakat dunia,” pungkasnya. (M Hafid)